Seekor burung buas dengan rentang sayap seratus meter meluncur melintas dari langit tinggi. Monster raksasa berwarna darah menerobos dan melompat di antara gedung-gedung tinggi, mencari mangsanya. Di bawah, permukaan jalan telah dihantam oleh makhluk mengerikan yang seluruh tubuhnya dililit oleh kilat, membentuk lubang-lubang besar. Manusia yang tak berdaya bersembunyi di reruntuhan kota, menggigil ketakutan. Di luar kota, sebuah pohon raksasa yang menutupi langit dan menyelubungi siang membuka kedua matanya. "Ini adalah kota yang aku lindungi. Mundur sekarang, siapa yang melanggar akan mati!" Dalam sekejap, segala binatang tunduk patuh. PS: Aliran hewan asing + aliran penguasa! Pada tahap awal, fokus utama adalah menjinakkan hewan-hewan mutan dan membangun kekuatan sendiri. Pada pertengahan hingga akhir cerita, sang tokoh utama mampu berubah wujud menjadi manusia.
Dunia paralel, Huaguo, Kota Yang.
30 Juli 2050.
Musim panas kali ini benar-benar menyengat, terutama di kota-kota selatan. Meski mentari telah tenggelam di balik cakrawala, hawa panas masih menyesakkan dada, tak kunjung reda.
Di arah tenggara Kota Yang, dua puluh kilometer jauhnya, tersembunyi sebuah lembah sunyi.
Di sanalah Ye Feng telah melamun selama satu jam penuh. Di benaknya hanya ada satu pertanyaan yang berulang-ulang menggema:
“Mengapa aku berubah menjadi sebatang pohon?”
Ia mengarahkan “pandangan”-nya ke bawah, memandangi jasadnya sendiri yang tergeletak di bawah pohon. Dalam hatinya, ia sesungguhnya telah menebak apa yang terjadi.
“Bagaimanapun juga, meski harus menjadi pohon, itu masih lebih baik daripada mati. Terlebih, di zaman di mana flora dan fauna di seluruh dunia tengah mengalami mutasi, mungkin menjadi pohon pun tak sepenuhnya buruk,” gumam Ye Feng lirih pada dirinya sendiri.
Ucapan itu bukan sekadar hiburan kosong untuk hati yang gundah.
Setengah tahun lalu, makhluk-makhluk bermutasi mulai bermunculan di Planet Biru.
Awalnya, hanya segelintir makhluk yang terkena dampaknya, itupun dengan ukuran yang tak seberapa. Namun sejak tiga bulan silam, muncul kawanan belalang bermutasi dalam skala besar di Afrika, dan seketika situasi berubah drastis. Jumlah makhluk mutan melonjak pesat.
Semakin kecil ukuran suatu makhluk, semakin tinggi pula peluangnya mengalami mutasi. Nyamuk, lalat, kecoak—makhluk-makhluk yang lazim berkeliaran di kota manusia, mayoritas telah mengalami per