Bab Seratus Tujuh Belas: Penuh Misteri, Ada yang Membuat Keributan
Setelah masuk ke dalam lift, keduanya tidak saling bicara.
Hanya saat menekan tombol lift, mereka menekan lantai kamar inap Qin Jiao.
Setibanya di kamar inap Qin Jiao, hanya ada Qin Jiao seorang diri. Meski lukanya belum sembuh, ia sudah mulai membaca buku untuk belajar.
Yan Jingtang merasa matanya memanas, ia sangat ingin pergi dan menghajar Cheng Jingli sekali lagi.
Qin Jiao mendongak saat mendengar suara pintu terbuka, lalu bertanya dengan terkejut, "Paman Ketiga, Kak Yan, kenapa kalian datang sepagi ini?"
Jin Chi menjawab, "Ada sedikit urusan. Mengapa kau sendirian di sini? Di mana Jiangsheng?"
Qin Jiao menjawab, "Tadi aku tiba-tiba ingin makan bakpao kecil dan bubur tahu, jadi aku menyuruh Kakak membelikannya untukku."
Begitu kata-katanya usai, pintu kamar didorong terbuka dan Qin Jiangsheng masuk.
Melihat Jin Chi dan Yan Jingtang ada di sana, ia sempat tertegun sejenak, lalu bertanya, "Paman Ketiga, Nona Yan, apakah kalian sudah makan?"
Jin Chi dan Yan Jingtang mengangguk. Jin Chi memberikan isyarat mata kepada Qin Jiangsheng. Qin Jiangsheng mengerti, ia tidak bertanya lebih lanjut, hanya menata kotak makanan untuk Qin Jiao lalu berjalan keluar bersama Jin Chi.
Qin Jiao menatap mereka dengan heran, alisnya yang mungil berkerut, "Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Mengapa misterius sekali?"
Yan Jingtang berkata, "Biarkan saja mereka. Coba cicipi, apakah rasanya sesuai dengan yang kau inginkan?"
Qin Jiao meletakkan bukunya ke samping, mengambil sendok, dan meminum sesendok bubur tahu. Rasa yang menyentuh lidahnya itu membuatnya langsung merasa puas.
Yan Jingtang yang melihatnya merasa sedikit lega. Setidaknya, rasa sakit yang dideritanya tidak lagi separah sebelumnya sampai mengganggunya.
Qin Jiao memakan dua butir bakpao lagi, baru kemudian menatap Yan Jingtang kembali, "Benar, Kak Yan, sepertinya ada orang yang membuat keributan di tengah malam kemarin."
Yan Jingtang tersentak mendengar ucapan itu. Ia menatap lekat-lekat pada Qin Jiao, menunggu penjelasannya lebih lanjut.
Qin Jiao tampak berusaha mengingat-ingat, lalu berkata, "Sebenarnya aku tidak yakin, tapi aku mendengar beberapa suara. Ada jeritan wanita dan suara barang pecah. Selebihnya aku tidak tahu. Kakak menyuruhku tidur dengan tenang dan tidak mencampuri urusan lain."
Yan Jingtang setuju dengan tindakan Qin Jiangsheng, jadi ia tidak bertanya secara mendetail.
Namun, Qin Jiao masih mengerutkan kening, "Tapi sulit sekali untuk tidak memperhatikannya. Katanya sekarang hanya aku dan Song Baiqing yang menjadi pasien di sini. Mungkin suara itu berasal dari arah kamarnya."
Yan Jingtang menimpali, "Mungkin mereka terlalu berisik hingga mengganggu istirahatmu, bukan? Nanti aku akan bicara pada Paman Ketigamu agar ia menyampaikan pada Tuan Muda Keempat Lin untuk lebih berhati-hati mulai hari ini."
Qin Jiao tidak bertanya lagi setelah mendengar itu. Ia mengangguk patuh dan melanjutkan sarapannya.
Tadi malam, Qin Jiangsheng sudah berpesan padanya untuk fokus pada dirinya sendiri saja. Mengenai hal-hal lain, sebaiknya rasa ingin tahu pun tidak perlu ada.
Terkadang ia merasa kesal dengan sikap Qin Jiangsheng yang memperlakukannya seperti anak kecil. Namun, saat teringat bagaimana ia yang nekat mencari Cheng Jingli hingga akhirnya babak belur seperti ini, ia pun kembali menciut.
Setelah menghabiskan bakpao terakhir dan menyeka sisa minyak di sudut bibirnya, Qin Jiao berkata pada Yan Jingtang, "Kak Yan, bagaimana kalau Kakak meminta Paman Ketiga berbicara dengan Paman Keempat Lin agar mengizinkanku pulang untuk beristirahat? Meskipun aku merasa sudah memonopoli rumah sakit ini, tempat ini sama sekali bukan tempat untuk belajar. Kakak bahkan tidak membawakan semua buku yang kuminta. Aku harus belajar untuk ujian."
Saat mengatakannya, Qin Jiao merasa sedikit sedih. Dulu ia tidak pernah merasa kakaknya tidak bisa diandalkan, tapi kali ini, pria itu melewatkan buku-buku yang ia butuhkan. Jelas sekali itu disengaja.
Orang ini benar-benar jahat.
Saat Qin Jiangsheng dan Jin Chi masuk, mereka mendengar Qin Jiao sedang mengadu pada Yan Jingtang. Qin Jiangsheng merasa tidak berdaya dan tidak habis pikir, sejak kapan Qin Jiao menjadi begitu rajin belajar?
Dulu, saat menyuruhnya belajar, ia hampir saja harus menggunakan metode keras. Namun, saat itu gadis kecil ini malah berkata, "Lagipula ada Kakak. Aku yakin Kakak tersayang tidak mungkin mengabaikan adik perempuannya yang tidak berguna ini. Bahkan jika suatu hari nanti Kakak sudah tua, anak-anaknya pun tidak akan membiarkan bibi mereka yang pemalas ini telantar."
Ia jelas sudah bertekad untuk menjadi pajangan cantik yang kosong pikirannya seumur hidup.
Siapa sangka, Qin Jiao yang seperti itu berubah menjadi giat belajar sejak mulai mengidolakan Li Yizhou.
Qin Jiangsheng benar-benar tidak bisa memahami hal tersebut.