Bab Tujuh Puluh Empat: Genggam Erat, Sepasang Kekasih Malang
Setelah Yan Shiqing dan Yan Shilan kembali ke dalam mobil, Yan Shilan berkata dengan nada kesal, “Kenapa kau menahan aku tadi?”
Memukul orang tidak boleh mengenai wajah, jadi apa lagi artinya?
Yan Shiqing menjawab, “Pukulanmu tadi sudah cukup membuatnya menderita. Tak perlu membuatnya sampai tak berani menampakkan diri lagi, nanti malah menyeret nama Tangtang ke dalam masalah.”
Yan Shilan mendengus dingin, “Huh, itu masih terlalu murah untuknya. Dengan perbuatan keji yang dia lakukan, meski aku memukulnya sampai mati pun, siapa yang bisa berkata apa-apa?”
Yan Shiqing tidak menambah penjelasan apa pun. Ia tahu betul, jika menyangkut Yan Jingtang, Yan Shilan benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Namun dia tidak boleh ikut-ikutan kehilangan kendali. Walau dalam hatinya dia pun merasa, memukuli Jin Xunian sampai mati pun adalah balasan yang pantas diterimanya.
Setelah kedua saudara Yan itu pergi, Jin Xunian tergeletak lama di tanah, bahkan untuk bernapas pun ia kesulitan.
Ponsel di sakunya berdering, tapi ia bahkan tak punya tenaga untuk mengangkatnya.
Entah sudah berapa lama berlalu, terdengar suara yang sangat ia kenal, “Xunian, kamu tidak apa-apa? Xunian, Xunian, lihat aku, Xunian...”
Dengan susah payah Jin Xunian membuka matanya, melawan cahaya sehingga tak dapat melihat jelas wajah orang yang datang.
Namun suara itu, suara gadis yang terpatri di hatinya, mengalir dalam darah dan tulangnya.
Dalam sekejap, Jin Xunian merasa raganya melayang, bertanya-tanya apakah ia sudah mati karena sakit, hingga bisa mendengar suara yang selalu ia rindukan itu.
Dengan susah payah ia membuka mulut, berusaha menahan agar suaranya tetap terdengar biasa, “A Zhi, jangan menangis.”
Begitu kata-katanya terucap, Jin Xunian justru mendengar isak tangis yang makin sulit ditahan.
Kini bukan hanya luka akibat pukulan Yan Shilan yang membuatnya kesakitan, tetapi dadanya terasa sesak seolah hendak meledak.
Ia mengangkat tangan dan menyentuh wajah gadis di hadapannya, lalu membujuk, “A Zhi, sayangku, jangan menangis lagi. Aku benar-benar sakit, dan kalau kau terus menangis, aku akan makin sakit.”
Xiang Zhiyi akhirnya menahan tangisnya, berusaha menenangkan diri, namun tetap saja ia tak berani menyentuh Jin Xunian dengan sembarangan.
“Xunian, aku antar kau ke rumah sakit,” ucap Xiang Zhiyi.
Jin Xunian memaksakan seulas senyum, “Baik.”
Dengan susah payah Xiang Zhiyi membantu Jin Xunian berdiri. Ia bisa merasakan, bahkan di saat Jin Xunian hampir pingsan karena sakit, ia tetap tak tega membebankan berat tubuhnya pada Xiang Zhiyi.
Ia memang selalu begitu, sejak mereka pertama kali bertemu, Jin Xunian selalu memberikan kelembutan yang paling dalam untuknya.
Lelaki seperti Jin Xunian, bagaimana mungkin ia tega berpisah darinya?
Diam-diam Xiang Zhiyi menitikkan air mata, membantu Jin Xunian ke pinggir jalan, mendudukkannya dengan hati-hati, dan bersiap pergi mencari taksi.
Namun tangannya digenggam erat oleh Jin Xunian.
Saat Jin Xunian akhirnya bisa melihat jelas wajah Xiang Zhiyi, dadanya terasa makin perih.
Ia paling tak tahan melihat Xiang Zhiyi menangis. Dulu ia sering menggoda gadis itu, dan jika Xiang Zhiyi menangis, ia bilang akan mengeluarkan hatinya untuk diperlihatkan, agar Xiang Zhiyi tahu bahwa di sana tertulis namanya di seluruh permukaan.
Namun saat ini, Jin Xunian benar-benar berharap ia bisa mengeluarkan hatinya, jika itu mungkin.
Xiang Zhiyi mencoba menarik tangannya, namun tak bisa.
Ia menatap Jin Xunian dan berkata, “Xunian, lepaskan aku dulu, biar aku cari mobil.”
Ia sangat takut, selama Jin Xunian belum dibawa ke rumah sakit, hatinya tak pernah tenang.
Jika terjadi sesuatu pada Jin Xunian, apa yang harus ia lakukan?
Namun Jin Xunian tetap keras kepala, menggenggam tangan Xiang Zhiyi erat-erat, menatapnya dengan pandangan penuh tekad, meski rasa sakit membuatnya hampir tak bisa bernapas, ia tetap berkata dengan suara pelan, “A Zhi, aku hanya mau kau. Seumur hidupku, jangan pernah tinggalkan aku.”
Ia sangat mengenal Xiang Zhiyi. Melihat dirinya dipukuli sampai begini, ia tahu persis apa yang akan terpikir di benak Xiang Zhiyi.
Tapi ia tak akan membiarkannya.
Seketika air mata Xiang Zhiyi kembali memburamkan penglihatannya, tak mampu menahan emosi, ia terisak.
Meski air mata telah menutup pandangannya, namun entah mengapa, ia merasa wajah Jin Xunian kini lebih jelas dari sebelumnya.
Akhirnya Xiang Zhiyi tak sanggup lagi menahan diri, ia memeluk Jin Xunian erat-erat, melingkarkan kedua lengannya di leher lelaki itu.
Suaranya terdengar di telinga Jin Xunian, terputus-putus karena tangisan, namun Jin Xunian tetap mendengarnya dengan jelas.
Xiang Zhiyi berkata, “Jin Xunian, aku mencintaimu. Aku benar-benar sangat mencintaimu.”
Jin Xunian mengangkat lengannya, memeluk Xiang Zhiyi, dan menundukkan kepala untuk mengecup lembut rambut gadis itu, “Kalau begitu, jangan pernah lepaskan aku.”
Xiang Zhiyi mengangguk, menggesekkan pipinya di lekukan leher Jin Xunian, membasahi kulitnya dengan air mata.
“Sudah cukup, kalian berdua. Jangan seperti sepasang kekasih malang yang hendak dipisahkan nasib. Tak ada yang ingin memisahkan kalian,”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, memecah momen penuh emosi kedua sejoli itu.