Bab 34: Pengakuan yang Tiba-tiba
Ketika kau benar-benar fokus pada suatu hal, waktu selalu berlalu dengan sangat cepat; satu jam pelajaran sering kali terasa terlalu singkat. Namun, pelajaran yang diajarkan guru hari ini amat menarik, sehingga bahkan murid-murid yang biasanya suka membuat onar pun mendengarkan dengan saksama.
"Baiklah, anak-anak. Sampai di sini dulu pelajaran hari ini, kita bertemu lagi besok," ujar guru paruh baya itu sambil tersenyum ramah, berpamitan kepada para murid.
"Ah!~" Para siswa yang masih larut dalam pelajaran menghela napas kecewa, ingin menahan guru mereka untuk mengajar sedikit lebih lama. Namun, sang guru hanya tersenyum dan menggelengkan kepala sebelum pergi.
Bukan karena ia pelit ilmu atau enggan berbagi, melainkan karena kelasnya begitu populer sehingga rekan-rekannya merasa iri. Jika ia memperpanjang waktu mengajar, pasti akan ada saja yang mencari-cari kesalahan. Sekalipun ia melakukannya demi kebaikan, tetap saja bisa dijadikan alasan untuk mempermasalahkan dirinya. Kadang, terlalu berbakat pun bukanlah hal yang baik.
"Maaf, Malam... Halo, namaku Bunga, aku..." Saat Malam Mersang sedang merenungkan pelajaran yang baru diterimanya, seorang gadis berambut pendek dan berpenampilan manis muncul di sampingnya.
Gadis itu tingginya sekitar satu meter enam puluh lima, mengenakan seragam biru. Saat berbicara dengan Malam Mersang, ia tak berani menatap langsung; kepalanya tertunduk dan pandangannya tertuju pada ujung sepatunya. Kedua tangannya yang putih bersih meremas ujung rok, bibirnya bergerak-gerak ragu seolah ingin bicara namun suaranya tertahan.
"Ada apa, ya?" Meski diganggu, Malam Mersang tidak tampak kesal. Ia memandang gadis pemalu di hadapannya dengan ekspresi tenang.
"Aku... aku, ah!~" Mendengar suara dalam milik Malam Mersang, gadis itu semakin malu, tapi juga tampak sedikit senang. Ia beberapa kali mencoba bicara, lalu menatap wajah serius Malam Mersang—sepasang mata jernih dan berkilau menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu spontan menjerit malu.
Reaksi itu membuat Malam Mersang sedikit mengernyit. Teman-teman lain yang mendengar suara itu pun melirik ke arah mereka. Melihat gadis itu sangat malu berdiri di depan Malam Mersang, mereka pun mulai menebak-nebak.
Sesuai kebiasaan manusia yang gemar menyaksikan hal menarik, satu per satu mulai memperhatikan mereka berdua. Yang duduk agak jauh, segera diberitahu oleh teman di sebelahnya.
"Aku rasa tadi penjelasan guru bagus sekali, terutama kisah tentang obat masuk angin itu sangat menarik... Eh, kenapa?" Seorang pemuda berpenampilan rapi, berkacamata dan berjerawat, tengah berdiskusi dengan teman sebangkunya. Namun, bahunya disentuh seseorang sehingga ia bertanya-tanya.
"Lihat, di sana, ada tontonan seru," ujar seorang pemuda bertubuh kecil berwajah usil yang tampak akrab dengannya. Ia tersenyum geli dan mengarahkan temannya melihat ke arah Malam Mersang.
Tak lama, suasana kelas pun hening. Semua murid menoleh pada dua tokoh utama di ruangan itu.
Menjadi pusat perhatian membuat Malam Mersang tidak nyaman; alisnya sedikit berkerut, siap pergi kapan saja. Sedangkan Bunga, si gadis pemalu itu, semakin gugup di bawah tatapan banyak orang—mulutnya bergetar, tangan meremas rok dengan kuat.
"Ada perlu apa? Kalau tidak bicara, aku pergi," Malam Mersang mengultimatum. Ia tidak mau terus-menerus menjadi tontonan seperti monyet di kebun binatang.
"Aku, eh..." Gadis itu masih saja terbata-bata. Malam Mersang menghela napas, berkemas, dan bersiap meninggalkan kelas.
"Malam, apa sore ini kamu ada waktu? Bolehkah aku mengajakmu minum bersama?" Tepat saat Malam Mersang hampir keluar dari rombongan murid, suara bening gadis itu akhirnya terdengar. Meski ia tidak langsung menyatakan perasaan, semua orang yang mendengarnya tahu maksudnya.
"Wuuuh!!!~~"
"Huuu!~"
Seketika kelas ramai dengan suara riuh dan sorakan. Beberapa bahkan meniup peluit dengan nyaring. Beberapa siswa pria menatap iri pada pemuda berbaju hitam itu, sedangkan gadis-gadis lain menutup mulut menahan kegembiraan.
"Aku ada urusan sore ini, maaf." Malam Mersang agak terhenti sejenak, lalu menjawab singkat sebelum pergi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Tangan Bunga semakin erat menggenggam rok. Hatinya perih karena ditolak. Ini pertama kalinya ia menyatakan perasaan pada laki-laki. Sejak kecil ia selalu menjadi anak baik-baik, tidak pernah memikirkan soal asmara. Wajahnya yang manis dan imut membuat banyak laki-laki menyukainya; ia pun sering menerima pernyataan cinta, namun selalu menolak mereka. Setiap kali melihat laki-laki itu bersedih, ia hanya menganggap mereka bodoh. Tapi kali ini, setelah mengalami penolakan sendiri, ia benar-benar merasakan sakitnya—sangat menyakitkan...
Para penonton pun bereaksi beragam—ada yang kecewa, ada yang justru merasa lega karena peluang mereka masih terbuka.
Pengakuan mendadak ini tak terlalu mengguncang hati Malam Mersang. Meski ia sangat muda, pikirannya matang, layaknya seorang tua yang telah ditempa pahit-manis kehidupan. Ini memang pengalaman pertamanya ditaksir gadis. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan. Meski panti itu kecil, pengelolanya sangat baik, memperlakukan semua anak seperti anak kandung sendiri.
Dengan dukungan kepala panti, Malam Mersang bisa sekolah. Namun, belum lulus SD, sebuah kebakaran hebat melalap habis panti asuhan itu. Meski beberapa anak terluka, berkat pengorbanan kepala panti, semua selamat. Namun, sosok tua yang penuh kasih itu akhirnya pergi untuk selama-lamanya.
Ketika pertama kali melihat tubuh hangus itu, Malam Mersang tak percaya bahwa arang berbentuk manusia itu adalah orang yang ia anggap ayah dan ibu sendiri. Setelah itu, anak-anak panti dipindahkan ke tempat lain; beberapa orang baik datang hendak mengadopsi mereka.
Awalnya Malam Mersang juga diadopsi oleh sepasang suami istri yang baik hati. Namun, ia enggan menyesuaikan diri dengan keluarga baru. Maka ia melarikan diri, dan setelah beberapa kejadian, akhirnya diasuh oleh seekor siluman dan tinggal di gunung.
Tentu saja, ini agak melenceng dari cerita utama. Namun, karena sejak kecil terbiasa hidup terasing, ia tak pernah menerima pernyataan cinta dari gadis mana pun. Bukan berarti ia tak bisa jatuh hati, hanya saja bayangan seorang gadis yang selalu hadir dalam mimpinya membuatnya sulit menerima yang lain.
Malam Mersang pun pergi, dan suasana kelas kembali normal. Beberapa gadis yang akrab dengan Bunga segera menenangkannya. Ada juga beberapa siswa laki-laki yang berharap menjadi sandaran, namun langsung diusir oleh para gadis.
Kali ini, penilaian teman-teman terhadap Malam Mersang beragam. Ada yang bilang ia terlalu dingin, ada yang menyebut sombong, ada juga yang menilai standar pilihannya terlalu tinggi, bahkan ada yang menuduhnya suka sesama jenis. Namun, semua itu tidak penting baginya. Ia tak memedulikan hal remeh seperti itu.
Masih cukup pagi, Malam Mersang memutuskan kembali ke asrama untuk beristirahat. Sebenarnya ia tak merasa lelah, hanya saja tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Ia memang tidak terbiasa berlama-lama bersama orang lain.
Saat melamun, waktu pun terasa berlalu dengan cepat. Tak terasa, sudah waktunya makan siang. Saat makan, ia kembali bertemu dengan Kayu, yang duduk di dekat jendela dengan senyum ramah.
"Hai, Malam," sapa Kayu dengan hangat saat melihatnya datang.
Malam Mersang membalas sapaan itu dan duduk tanpa sungkan di hadapannya. Ia memang menyukai tempat itu, dan tidak keberatan makan bersama Kayu.
Saat makan, mereka mengobrol ringan. Kayu sempat bertanya kenapa Malam Mersang menolak ajakan gadis tadi. Malam Mersang terdiam sejenak, lalu menjawab bahwa ia sudah memiliki gadis yang dicintai. Ia tidak ingin membicarakan lebih jauh, dan Kayu pun tak memaksa.
Selesai makan, Malam Mersang kembali ke asrama untuk tidur seperti biasa. Kebiasaan ini tampak malas dan tidak sehat, tapi memang sudah lama ia begitu. Ia tidak terlalu bersemangat berlatih ilmu, bahkan sebelum kekuatannya mencapai puncak, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Ayah angkatnya yang seekor siluman sering memarahinya karena kebiasaannya itu, namun ia tak peduli.
Meski demikian, kekuatannya tetap meningkat pesat. Setiap belajar ilmu baru, ia bisa menguasainya dengan mudah. Bahkan ayah angkatnya yang galak pun mengakui bahwa ia adalah bakat langka, seperti monster.
Saat tidur, ia tak pernah sadar waktu berlalu. Begitu terbangun, Malam Mersang merasa segar dan meregangkan tubuh. Sudah hampir pukul lima sore. Ia teringat janji bertemu Lin Qianqian hari ini, tepat pukul lima.
"Ikut angkat! Ikut angkat! Ikut angkat!" Seolah sudah diduga, saat itu juga telepon dari Lin Qianqian masuk.
"Kak Malam, kamu di asrama?" Suara Lin Qianqian yang manis terdengar dari seberang.
"Iya," jawab Malam Mersang singkat.
"Kamu masih ingat, kan? Kemarin kamu janji menemaniku bertemu kakek."
"Tentu saja ingat."
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang?"
"Baik."
"Kalau begitu, kita bertemu di gerbang sekolah, ya."
...
Setelah bersiap-siap, Malam Mersang turun ke bawah. Sampai di gerbang sekolah, ia belum melihat Lin Qianqian. Saat ia mengira gadis itu belum tiba, suara klakson mobil terdengar.
Ia menoleh, melihat sebuah mobil sport merah perlahan mendekat. Jendela terbuka, dan tampak sosok yang dikenalnya duduk di kursi pengemudi.
"Qianqian?" Malam Mersang agak terkejut.
"Kak Malam, ayo naik!" Lin Qianqian tersenyum manis.
Setelah pintu tertutup rapat, mobil perlahan melaju. Raungan mesinnya terdengar seperti auman binatang buas, bahkan Malam Mersang yang tak mengerti mobil tahu bahwa kendaraan itu pasti mahal.
"Itu mobilmu?" tanya Malam Mersang.
"Iya, hadiah ulang tahun dari Ayah tahun lalu," jawab Lin Qianqian sambil mengangguk.
"Kenapa sebelumnya tak pernah kulihat kau membawanya?"
"Kita kan jarang bertemu, setiap kali ketemu pasti sudah tiba di tempat tujuan. Lagipula, aku memang jarang menyetir."
Memang benar, sejauh ini mereka hanya bertemu lima kali—pertama di hotel, kedua di taman, lalu dua kali di restoran. Tidak heran ia belum pernah melihat Lin Qianqian menyetir.