An Tong mengalami guncangan besar dalam keluarganya, sehingga menderita gangguan emosi dan kerap kali menunjukkan gejala depersonalisasi yang parah. Rong Shen, ahli waris keluarga misterius yang termasyhur di Xiangjiang dan kaya raya hingga kekayaannya dapat menandingi negara. Suatu kekeliruan terjadi; An Tong salah mengira Rong Shen sebagai terapis psikologis, dan sejak saat itu, ia pun memulai sesi konseling yang berlangsung selama berbulan-bulan. Tak lama berselang, keduanya menemukan kecocokan dan akhirnya menikah melalui perjanjian. *Suatu hari setelah menikah, seorang bawahan melapor, "Tuan Rong, Nyonya sedang siaran langsung menulis kode lagi." Pria itu perlahan mengangkat pandangannya, nada suaranya malas, "Jangan lupa kirimkan hadiah untuknya." Bawahan itu diam-diam menyodorkan selembar kertas, "Tuan Rong, beberapa baris kode yang ditulis Nyonya ini persis sama dengan yang dibuat oleh insinyur di balik layar yang kita gaji mahal..." Rong Shen menatap kode itu, terdiam lama: "......" *Suatu siang di lain waktu, setelah menikmati sate jalanan, pasangan itu kebetulan melewati sebuah gedung teknologi terkemuka. Beberapa karyawan keluar berbaris rapi, memegang dokumen di tangan, dan dengan hormat menundukkan kepala pada Rong Shen, "Direktur Eksekutif, akhirnya kami bertemu Anda. Beberapa dokumen ini harus segera Anda tandatangani, tidak boleh lagi ditunda." An Tong menatap pria di sampingnya tanpa ekspresi, "?" #Kupikir aku menikahi psikolog demi terapi gratis, ternyata dia seorang direktur eksekutif di dunia bisnis?# ##Kupikir aku menikahi pasien emosional yang kekurangan uang, ternyata dia seorang insinyur tingkat tinggi?##
Untuk pertama kalinya, Rong Shen bertemu dengan An Tong di kawasan CBD Kota Xiangjiang.
Udara akhir musim gugur membawa angin dingin yang menusuk; belum genap beberapa menit, hujan rintik pun mulai turun dengan derasnya.
Pada sebuah persimpangan jalan, sebuah mobil MPV Mercedes Benz berhenti di jalur belok kiri. Di dalam kabin, seorang pria dengan sikap malas namun tetap menampilkan kelembutan dan keanggunan seorang terpelajar, mendengar suara hujan dan melirik acuh tak acuh ke arah jalanan, tak disangka pandangannya tertumbuk pada sebuah adegan yang sulit dilupakan.
Saat itu adalah jam sibuk pulang kerja, para pejalan kaki melangkah tergesa-gesa, langkah-langkah mereka dipercepat oleh hasrat untuk segera tiba di rumah.
Lampu-lampu kota baru saja menyala, dan di tengah hujan tipis itu, berdiri sebuah sosok ramping dan kurus dekat marka pembatas antara pejalan kaki dan kendaraan, entah sedang memikirkan apa.
Sosok itu tampak mencolok, janggal, memancing tatapan siapapun yang berlalu.
Ada yang memanggilnya, ada pula yang berbisik-bisik, namun gadis itu seolah tak mendengar, tak bergeming sedikit pun.
Hingga akhirnya seorang petugas lalu lintas mendekat dan menariknya ke sisi jalan, barulah gadis itu berkedip dengan mata kosong, menunduk dan mengucapkan sesuatu dengan lirih.
Adegan dramatis itu sempat menyita perhatian Rong Shen, namun tak membuatnya benar-benar peduli.
Ia menduga, mungkin itu hanyalah pertemuan singkat dengan seorang gadis muda yang sedang dirundung kesialan, berdiri sendirian di pinggir jalan, melampia