Pada tahun 1866, ketika pembangunan Central Pacific Railroad di Amerika Serikat tengah berlangsung dengan semangat yang membara, di antara para pekerja Tionghoa yang gigih dan pantang menyerah, tiba-tiba muncul satu jiwa yang berasal dari seratus lima puluh tahun kemudian...
Musim dingin tahun 1866.
Salju turun deras, angin dingin meraung, mengamuk membawa es dan salju menyapu setiap sudut Pegunungan Sierra Nevada.
Di sebuah gua di lereng gunung, dua orang tengah memanggang api.
“Ah Yu, minumlah sedikit bubur…”
Sebuah lengan kurus, tinggal kulit membungkus tulang, mengulurkan semangkuk bubur labu yang encer dan kuning, di mana hanya beberapa butir beras tampak jelas, ke hadapan Su Yu.
“Terima kasih,”
Su Yu mengucapkan terima kasih, lalu menyambut mangkuk itu.
“Ah Yu, menurutmu kita bisa keluar dari sini hidup-hidup?” lelaki kurus di sampingnya bertanya lirih.
Belum sempat Su Yu menjawab, ia sudah melanjutkan angan-angannya, “Jika aku bisa keluar hidup-hidup, aku ingin mengumpulkan banyak uang, lalu membuka rumah makan di San Francisco.”
Mengucapkan harapan semacam ini biasanya bukan pertanda baik.
“Membuka rumah makan juga bagus,”
Su Yu menanggapi sekadarnya, lalu meminum lagi bubur yang butir berasnya nyaris bisa dihitung satu per satu, barulah ia merasa ada sedikit kehangatan mengalir ke perutnya.
Saat ia terdampar di gua ini selama dua hari dan memastikan dirinya benar-benar telah tiba di Amerika abad ke-19, hatinya tetap diliputi kebingungan.
Kalau bicara soal kaya raya di benua Amerika pada zaman ini, menjadi taipan dan menaklukkan Amerika Serikat, itu jelas hanya angan-angan.
Apalagi, saat ini diskriminasi terhadap orang Tionghoa sangat parah.
Karena itu, mencari jalan keluar dari status buruh, dan menjalani hidup yang lebih baik adalah harapan yang