Bab 0058: Landasan Dewa, Segala yang Ada Menjadi Santapan
Seluruh arena terdiam, mata tertuju pada Yang Qingxuan yang mengubah niat tinjunya menjadi bentuk-bentuk seperti naga dan harimau, seperti beruang dan ular, seperti kuda dan monyet—seribu perubahan yang menampilkan kekuatan yang tajam, namun tetap ringan dan anggun, seolah membawa beban tanpa kesulitan.
Biasanya, pertarungan yang mereka saksikan penuh kebrutalan dan kekejaman, membunuh tanpa ampun. Belum pernah mereka melihat pertarungan yang begitu elegan dan bersih, setiap jurus dan gerakan seperti melayang di udara, seolah-olah seekor kupu-kupu menari di antara bunga, tak terduga dan indah. Namun, di balik keindahan itu, jurus-jurus Yang Qingxuan berhasil memaksa Peng Hai yang liar dan buas hingga tak mampu membalas. Pemandangan itu seperti aliran sungai jernih yang mengalir dalam hati para penonton, menyucikan pemahaman mereka tentang jalan bela diri.
Di sudut tribun, Wen Wen membuka mata lebar-lebar, menatap dengan tidak percaya. Awalnya ia berpikir Yang Qingxuan tak akan bertahan lima jurus, hatinya penuh penyesalan dan rasa bersalah. Namun kini, rasa bersalah itu hilang, digantikan oleh keterkejutan yang mendalam.
Tiba-tiba, teriakan binatang menggema di arena, mengguncang udara seperti gelombang panas, menghancurkan keindahan pertarungan yang sempurna. Semua orang tersentak dari kekaguman, lalu saling berteriak, “Peng Hai berubah menjadi monster! Peng Hai akan berubah jadi monster!”
Peng Hai tiba-tiba tubuhnya membesar, otot-otot mencuat dari balik pakaian, matanya berubah merah, dan di dahinya tumbuh tanduk sapi!
Seorang penonton berteriak, “Sapi iblis Bulan Darah, bunuh dia, bunuh bocah itu!”
Peng Hai memang memiliki darah monster Sapi Iblis Bulan Darah, sehingga ia bisa berubah menjadi monster dan meningkatkan kekuatan bertarungnya secara drastis.
Meski Yang Qingxuan membawa pengalaman baru dalam seni bela diri, membuat para penonton terpesona, kebanyakan uang mereka dipertaruhkan pada Peng Hai. Meski mereka tak ingin Yang Qingxuan mati, demi uang mereka, mereka hanya bisa berharap ia kalah.
“Bunuh dia! Bunuh dia!”
Seruan kian menggelora, perubahan Peng Hai membawa pertarungan ke puncak.
Wen Wen menggenggam tangan erat, keringat dingin membasahi sela-sela jarinya. Dalam hati, ia mulai menyesal telah membawa Yang Qingxuan ke tempat seperti ini.
Mungkin ia juga tak seharusnya membawa teman-teman lamanya ke sini, tahu ini adalah arena hidup dan mati, namun ia telah mengorbankan banyak nyawa muda yang belum sempat menikmati hidup.
Apa salah mereka?
Meski satu pihak