Bab 0078: Dalam Sekejap, Sosok Anggun nan Mempesona
Saat itu tubuh Yang Qingxuan memerah, hanya menyisakan sepasang mata merah yang dingin, suhu di sekitarnya begitu tinggi hingga udara pun tampak bergetar.
Tatapan Zuo Jun dipenuhi kebencian, ia berkata dengan suara dingin, “Masih berani melawan? Seperti belalang menghadang kereta! Hari ini aku terluka karena ulahmu, bisa-bisa nilainya dalam ujian lima hari lagi akan terpengaruh, kau benar-benar layak mati!”
Kekuatan di telapak tangannya bertambah, ia meraung, “Hanya seorang pecundang sepertimu berani menentang keluarga Zuo! Kau berani melukai Zuo Feng, bahkan berani melirik wanita simpanan kakak Zuo Heng! Bisa membiarkanmu hidup sampai sekarang, itu karena keluarga kami terlalu murah hati! Hari ini akan kupatahkan keempat anggota tubuhmu, memusnahkan kejantanamu, biar kau tahu akibatnya berani mengincar kakak ipar Qiyue-ku!”
Matanya memancarkan cahaya kegirangan, ia tak tahan menjilat bibirnya.
Selama bisa membunuh Yang Qingxuan, ia akan mendapat perhatian dari Zuo Heng. Meski kini ia sudah masuk garis keturunan utama, statusnya masih jauh di bawah Zuo Heng. Membunuh Yang Qingxuan adalah cara menyanjung Zuo Heng, sekaligus batu loncatan untuk naik lebih tinggi di keluarga Zuo.
Wajah Yang Qingxuan sangat serius. Ia sadar betul bahaya yang dihadapi. Tenaga surya panas mengalir deras dalam meridian, ia segera mengerahkan kekuatan dan menyiapkan jurus Empat Matahari untuk menahan racun lawan.
Namun, itu belum cukup baginya.
Dalam hati ia berkata, “Kekuatan Empat Matahari memang bisa menahan serangan ini, tapi aku takkan menang. Setelahnya pertarungan pasti akan sengit dan sulit. Meski aku punya kekuatan besar, kalau terlalu lama pasti muncul banyak perubahan, apalagi Zuo Jun juga bukan orang sembarangan. Lebih baik sekalian bertaruh, walau harus menanggung dampaknya, kalahkan dia dalam satu gebrakan!”
Mata Yang Qingxuan membeku, tekad bulat terpancar. Meski sorot matanya tajam, hatinya justru tenang. Ia mengangkat tangan kiri, seolah tanpa sengaja menggenggam di pinggang, jari-jarinya membentuk mudra aneh.
Itulah gerakan awal Jurus Jumaang!
Selama dua bulan di Kolam Naga, ia memang belum sepenuhnya menguasai Jurus Jumaang, tapi sudah memahami sebagian besar. Jika ia menggabungkan dengan Jurus Enam Matahari secara bersamaan, sekuat apa pun Zuo Jun pasti akan terluka parah.
Namun, membunuh musuh seribu, diri sendiri juga terluka delapan ratus. Dua jurus itu jika dikeluarkan serentak, Yang Qingxuan juga pasti akan menderita.
Dulu, si Tukang Bandel Zhou Botong pernah menciptakan jurus bertarung dengan dua tangan berbeda di Pulau Bunga Persik karena bosan. Setelah itu, pendekar Guo Jing dan Xiaolongnü sang ahli makam kuno juga menguasai teknik itu dan kekuatannya pun melonjak.
Kini, Yang Qingxuan juga menggunakan dua jurus sekaligus. Di telapak kanan, cahaya matahari membara, empat bola cahaya menyilaukan melepaskan kekuatan dahsyat. Sementara tangan kiri membentuk mudra, diletakkan di samping pinggang, tenaga besar terus mengalir dan berkumpul di ujung jari.
Wajah Zuo Jun mendadak berubah, matanya membelalak ngeri. Bahkan saat ia dalam kondisi puncak, tetap saja merasakan bahaya yang luar biasa. Empat cahaya terang itu sangat kuat, benar-benar penangkal racun jiwa bertempurnya, seolah ia menghadapi gunung atau lautan luas.
Sementara tangan kiri Yang Qingxuan, meski hanya membentuk mudra sederhana, entah mengapa terasa mengurung seluruh titik vitalnya. Seakan bagaimana pun ia menghindar, tetap saja berada dalam jangkauan serangan satu jari itu, tak mungkin lolos.
Kaget bukan main, wajah Zuo Jun semakin suram. Kondisi ini benar-benar diluar dugaannya. Seorang di ranah Qi Wu ternyata dapat menahan serangan dirinya yang sedang di puncak kekuatan!
Ia meraung, “Cacing pun ingin membalikkan dunia, mustahil! Mati saja kau!”
Tenaga di telapak tangannya semakin berat, suara batu giling mengaung, kabut racun seperti bercak jamur menggerogoti tenaga surya panas Yang Qingxuan. Zuo Jun mengerahkan seluruh kekuatannya dalam satu serangan, bersumpah membunuh Yang Qingxuan. Ia ingin menegaskan wibawa dan mengambil hati Zuo Heng, sekaligus meraih ruang lebih besar untuk masa depannya di keluarga Zuo.
Sudut bibir Yang Qingxuan menampilkan senyum dingin, ia berkata dengan suara beku, “Yang mati—adalah kau!”
Di saat genting itu, ketika kedua jurus siap dilepaskan, tiba-tiba sebuah sosok melesat dari udara dengan kecepatan sulit ditangkap, langsung berdiri di antara mereka, tepat di tengah dua serangan dahsyat itu!
“Ah, kau...!”
Yang Qingxuan berteriak kaget. Meski orang itu bergerak sangat cepat, namun matanya yang bersinar keemasan dapat melihat jelas. Begitu ia mengenali siapa orang itu, ia buru-buru menarik kembali jurusnya, memaksa tenaga yang hendak dilepas kembali ke dalam tubuh.
Sekonyong-konyong ia merasa tenaganya kacau, empat aliran tenaga Matahari ditekan balik, merusak meridian dalam tubuhnya, seluruh badan terasa seperti terbakar, sakitnya tak terkatakan.
Jurus Jumaang juga terpaksa ditekan dengan paksa, antara otot dan titik akupunturnya seakan robek, nadi di tangan kirinya bahkan pecah dan mengeluarkan darah.
Menahan jurus di saat genting seperti itu sangat membahayakan tubuh, namun setelah tahu siapa yang datang, ia harus melakukannya.
Sosok itu muncul terlalu cepat, para murid tak dapat melihat jelas. Yang mereka rasakan hanyalah sebuah kilatan melintas, lalu sebuah tangan putih bersih sehalus giok muncul di depan mereka.
Tangan itu ramping dan lembut, seolah tanpa tulang, cukup sekali lihat saja orang pasti ingin memilikinya dan memeluknya erat-erat.
Tangan semacam itu membawa keindahan mutlak, menimbulkan imajinasi tanpa batas, seolah tak seharusnya ada di tempat seperti ini, namun kenyataannya tangan itu benar-benar hadir di sana.
Tangan giok itu segera membentuk mudra, memancarkan cahaya keemasan yang menghantam jiwa bertempur Zuo Jun, menghancurkan batu giling raksasa yang penuh wibawa itu dalam sekejap.
“Brak!”
Cahaya perak memercik ke segala penjuru, tiap titiknya mengandung racun. Namun, sebelum sempat jatuh ke tanah, semuanya sudah menguap di udara.
Sosok itu kembali bergerak, tubuhnya seolah bayangan, jurus-jurus telapak tangan berturut-turut dikeluarkan.
Setiap telapak tangan yang melayang, tangan giok itu berkelebat bak ilusi, laksana kupu-kupu menari di antara bunga-bunga.
Gerak tubuh dan jurusnya begitu anggun dan ringan, membuat orang terpana. Namun di balik keindahan itu tersembunyi kekuatan menakutkan; setiap serangan membuat Zuo Jun memuntahkan darah, dalam sekejap ia terkena belasan pukulan dan berubah jadi manusia berlumuran darah.
Pemandangan mengerikan berpadu dengan gerak tubuh anggun itu, membentuk kontras yang luar biasa.
“Duk!”
Pukulan terakhir, tangan giok itu membentuk mudra lalu menepak, tenaga dahsyat melesat di udara menghantam dada Zuo Jun, menuntaskan serangan penutup.
Semburan darah sepanjang beberapa meter keluar dari mulut Zuo Jun, auranya langsung lenyap, tubuhnya bagai layang-layang putus, terlempar keras dan jatuh menghantam tanah, terseret hingga belasan meter jauhnya.
Garis darah yang mengerikan tampak di tanah, di ujungnya tergeletak Zuo Jun, sekujur tubuh bersimbah darah, menggeliat hebat menahan sakit.
Penampilannya kini benar-benar berbeda dengan sosok gagahnya tadi, nyaris tak bisa dikenali lagi.
Semua itu terjadi hanya dalam sekejap. Para murid bahkan belum sempat mencerna, bahkan tak sempat melihat jelas siapa yang turun tangan.
Sosok itu kembali melesat di udara, laksana bidadari terbang, tangan gioknya kembali membentuk mudra, sekali tepakan di udara, menghantam perut Lu Wan.
Perut gendut Lu Wan yang bagaikan balon itu mendadak meledak dengan suara keras, ia menjerit seperti babi disembelih, tubuhnya mental jauh.
Hati Liu Cheng bergetar hebat, ia tahu betul betapa kuatnya Lu Wan.