Bab 107: Sulit untuk Membujuk

Sudah tiga tahun menikah namun tak pernah pulang, pernikahan dengan prajurit pun akhirnya harus berakhir. Gu Sang 2262kata 2026-04-01 10:42:49

Bersandar di balik gundukan tanah, Jiang Ning tak menyangka dirinya akan menyaksikan hal seperti ini. Minggu ini, Zhou Anze kembali mendapat julukan baru darinya.

Lelaki burung api.

Produk perawatan kulit yang dikirimkan oleh Shen Mo ke tempat ini bahkan cukup untuk dipakai Shen Qianqian atau seluruh keluarga Shen selama bertahun-tahun, namun ketika ia melihat Shen Qianqian, kulit gadis itu tampak kering dan kekuningan akibat terlalu sering mengalami penderitaan, sama sekali tidak seperti kulit yang terawat.

Ternyata semua barang itu diberikan pada para pemuda terpelajar untuk mengambil hati mereka, atau diberikan pada lelaki demi membalas budi.

Jiang Ning hanya bisa mengelus dada.

Adik perempuan keluarga Shen memang polos dan naif, hal itu benar-benar membuatnya tak berdaya.

Zhou Anze masih ada urusan lain, jadi ia pergi lebih dulu.

Saat Shen Qianqian menepuk-nepuk celananya dan berdiri, ia terkejut melihat Jiang Ning berdiri di belakangnya.

"Ka... Kakak ipar kedua..."

Jiang Ning menyilangkan tangan di depan dada sambil menatapnya, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

Entah kenapa, Shen Qianqian merasa gentar pada Jiang Ning.

Mungkin karena ia telah melihat betapa lihainya tangan Jiang Ning saat memegang jarum perak.

Dan juga soal ia memberikan krim salju dan Baiqueling pada Zhou Anze, jangan-jangan kakak ipar kedua melihatnya?

Wajahnya memerah karena malu, ia menyapa Jiang Ning dengan canggung dan hendak pergi, namun terdengar suara Jiang Ning berkata, "Kakakmu selalu memikirkanmu, tapi kau menyia-nyiakan perhatiannya begitu saja?"

Napas Shen Qianqian tertahan, ternyata ia benar-benar ketahuan.

Asalkan menyangkut Zhou Anze, Shen Qianqian bisa mengumpulkan keberanian untuk membantah, "Kakak ipar kedua, Anze itu tunanganku. Kalau aku memberinya sesuatu yang bisa membantunya, berarti aku juga membantu diriku sendiri."

Jiang Ning berkata, "Tunangamu? Itu hanya kalian berdua yang mengakuinya. Apakah Zhou Anze pernah mengakui di depan orang lain bahwa kau tunangannya?"

Seperti yang diduga, wajah Shen Qianqian langsung memucat.

"Tentu saja orang lain tidak boleh tahu! Tak bisa biarkan orang tahu aku dan Anze berpacaran, nanti bisa berdampak buruk padanya."

Jiang Ning heran, bagaimana mungkin keluarga Shen bisa melahirkan orang dengan pikiran cinta yang begitu berlebihan?

Tidak, sepertinya Shen Mo juga begitu. Baru saja sampai di kompleks keluarga, pria itu sudah memberikan buku tabungannya, tak takut jika semua uangnya dihabiskan.

"Bersama Zhou Anze, kau pasti senang diam-diam, berharap setelah Zhou Anze mendapatkan kuota kerja dan penempatan kembali ke kota, kau bisa pergi dari desa ini bersamanya," ucap Jiang Ning tanpa basa-basi.

Memang seperti itulah yang dipikirkan Shen Qianqian, namun ia terkejut karena Jiang Ning bisa membacanya, membuatnya merasa sangat malu.

Namun, pikiran seperti itu sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan keluarga.

Lima tahun bersama orang tua di desa, ia benar-benar tak tahan berubah dari anak kesayangan keluarga menjadi orang yang selalu dihina.

Perubahan itu sangat sulit diterima, setelah setahun bertahan bersama orang tua, ia sudah tak sanggup lagi, hingga ingin mengakhiri hidup dengan terjun ke sungai.

Saat itu, Zhou Anze kebetulan berada di tepi sungai, ia terjun dan menyelamatkannya.

Saat tubuhnya tenggelam ke dalam air, Shen Qianqian langsung menyesal, ia masih punya orang tua dan dua kakak yang menyayanginya, lagipula melompat ke sungai sangat menyakitkan.

Anze menyelamatkannya, bahkan memarahinya habis-habisan, lalu menghiburnya.

Sejak saat itu, Shen Qianqian menyukai Zhou Anze.

Setelah rahasianya terbongkar, Shen Qianqian tak mau lagi menyembunyikannya, ia berkata, "Anze pernah bilang, setelah dia dapat penempatan kerja di kota, dia akan datang melamar ke rumah, dan meski aku menikah dengannya, aku juga tetap akan mengurus orang tua."

"Tapi menurutku, dia tidak akan datang melamar," ujar Jiang Ning sambil tersenyum.

Mendengar itu, Shen Qianqian seperti anak kucing yang bulunya berdiri, "Tidak mungkin! Jangan sembarang bicara, dulu Anze yang menyelamatkanku, seumur hidup aku hanya mau menikah dengannya, dan dia juga janji akan menikahiku!"

Jiang Ning sedikit kaget mengetahui Zhou Anze pernah menyelamatkan Shen Qianqian.

Hanya saja ia tak tahu pasti bagaimana ceritanya.

Jiang Ning hendak bicara lagi, namun Shen Qianqian berkata, "Kakak ipar kedua, ini urusanku. Mulai sekarang jangan bicara tentang Anze lagi, apalagi soal dia terluka karena kau, aku belum sempat minta penjelasan."

Jiang Ning hanya bisa menghela napas dalam hati.

Baru kali ini ia merasa menasihati orang yang keras kepala memang sia-sia.

Mata bening Jiang Ning memandang Shen Qianqian, dengan nada sulit ia berkata, "Aku sudah bilang mau mengobatinya, tapi dia sendiri yang menolak. Setelah kembali ke barak pemuda terpelajar, berita kalau dia terluka karena aku pun menyebar. Zhou Anze sendiri paham soal ini, tapi saat para pemuda itu menuduhku dan keluarga Shen, apakah Zhou Anze pernah membelamu?"

"Shen Qianqian, lebih baik kau waspada. Jika Zhou Anze benar-benar mencintaimu, mana mungkin dia hanya menghiburmu seadanya saat kau dipermalukan. Orang yang hanya memanfaatkanmu demi keuntungan, hati-hati nanti kau malah dijual."

Selesai bicara, Jiang Ning berbalik dan pergi.

Shen Qianqian sangat rendah diri, sering kali ia merasa ucapan para pemuda yang memakinya itu memang benar, jadi saat Zhou Anze berkata agar hubungan mereka dirahasiakan, ia pun setuju.

Ia takut Zhou Anze jadi ikut terseret masalah.

Padahal, dua orang yang saling mencintai, bukankah seharusnya siap susah senang bersama?

Saat Zhou Anze menerima dirinya, Shen Qianqian senang tapi juga cemas. Ia adalah pesakitan yang dibuang, sering dicaci, bahkan ia sendiri merasa tak pantas untuk Zhou Anze.

Ucapan Jiang Ning seperti mantra yang terus terngiang di kepalanya. Ia mulai merenungi bagaimana Zhou Anze memperlakukannya. Saat ada orang lain, kebaikan Zhou Anze begitu nyata dan semua orang tahu, lalu ia pun mendapat nama baik. Namun di belakang, Shen Qianqian juga sudah banyak memberikan barang untuk Zhou Anze agar ia bisa membangun relasi, tapi tak seorang pun tahu.

Jiang Ning pun tak tahu apakah ucapannya berguna atau tidak.

Hari-hari berikutnya berjalan tenang. Ia memeriksa kesehatan Ayah dan Ibu Shen. Setelah lima tahun bekerja keras, tubuh Ibu Shen sangat lemah, namun tubuh Ayah Shen tetap sehat.

Mungkin karena Ayah Shen pernah menjadi tentara.

Di kereta, Shen Mo pernah bercerita, sebelum dideportasi, keluarganya semua punya pekerjaan terhormat. Ayah Shen dulu bahkan seorang komandan. Tapi bahkan dengan status seperti itu, mereka tetap dideportasi. Bisa dibayangkan betapa kacaunya masa itu.

Syukurlah masa-masa paling kelam sudah berlalu dan kini fajar mulai menyingsing.

Shen Mo memintanya untuk tidak bilang apa-apa, sebentar lagi keluarga Shen akan bisa meninggalkan desa.

Jiang Ning membantu memulihkan kesehatan Ibu Shen selama sebulan, dan kini wajah Ibu Shen tampak lebih segar.

Tak hanya Ibu Shen, seluruh keluarga Shen juga tampak berbeda berkat kehadiran Jiang Ning.

Hari itu, pabrik mesin milik negara dan pabrik tekstil dari kota datang ke desa untuk merekrut tenaga kerja.