Bab 124: Mengapa Berbeda dari yang Dia Bayangkan?
“Terima kasih, Bibi Wu.” Jiang Ning mengucapkan terima kasih kepada istri kepala brigade.
Tanpa kepala seksi intelijen ini, dia masih harus meluangkan waktu untuk menebak tujuan Zhou Anze.
Sekarang dia tidak perlu menebak lagi. Niat Zhou Anze sudah terlihat jelas.
Shen Qianqian tak kuasa menahan diri untuk meraih lengan Jiang Ning. “Kakak ipar kedua, jadi Zhou Anze mendengar pembicaraan kita tentang kemungkinan kembali ke ibu kota? Karena itulah dia datang memintaku memaafkannya? Dia ingin memanfaatkan aku agar bisa meninggalkan Desa Sungai Besar?”
Jiang Ning berkedip, agak terkejut memandang Shen Qianqian.
Sejak kebodohannya karena cinta disembuhkan, otak gadis itu mulai menjadi lebih cerdas.
Cinta yang membutakan memang membuat orang kehilangan akal. Jiang Ning menyadari bahwa keluarga Shen rupanya memiliki penyakit cinta yang cukup parah.
Untung saja Shen Mo bertemu dengannya, seorang perempuan baik. Waktu itu, Shen Mo menyerahkan seluruh uangnya kepadanya, sementara dia sendiri bersikeras bercerai. Dengan sifat Shen Mo, barangkali dia juga tidak akan menagih uang itu kembali.
Kedua orang tua Shen mampu membesarkan tiga anak yang begitu serius dalam urusan perasaan, karena sebagai orang tua mereka telah memberikan teladan yang baik.
Jiang Ning menjalankan tanggung jawabnya sebagai kakak ipar. Dia berkata kepada Shen Qianqian, “Seorang pria yang bersedia membelanjakan uang untukmu belum tentu mencintaimu. Namun, pria yang menghabiskan uangmu pasti tidak mencintaimu.”
Shen Qianqian segera berjanji, “Kakak ipar kedua, aku tidak akan pernah memedulikan Zhou Anze lagi.”
“Tidak, tidak.” Jiang Ning mengangkat telunjuk dan menggoyangkannya. “Kau harus tetap memedulikannya. Setidaknya, dapatkan kembali uangmu dulu, lalu tendang dia jauh-jauh. Dengan begitu barulah hatimu puas. Krim Snowflake dan Peh Chao yang kau berikan selama beberapa tahun ini dibeli dengan uang tunjangan kakak keduamu, yang dia peroleh dengan mempertaruhkan nyawa.”
Kini, setiap kali melihat wajah Zhou Anze, Shen Qianqian merasa mual. Mana mungkin dia masih ingin meminta uangnya kembali?
Namun, setelah mendengar kalimat terakhir Jiang Ning—
“Kakak ipar kedua benar. Itu semua uang hasil kerja keras kakak keduaku. Aku tidak boleh membiarkannya begitu saja!”
Semula Shen Qianqian begitu muak hingga sama sekali tidak ingin bertemu Zhou Anze. Tetapi begitu tahu bahwa uang itu milik kakak keduanya, dia bersikeras mendapatkannya kembali.
Zhou Anze kini menyimpan niat buruk. Dulu, demi memperoleh kuota pekerjaan dan kesempatan kembali ke kota, dia sanggup memikirkan rencana sekeji itu. Sekarang, demi mendekati Shen Qianqian dan mencapai tujuannya meninggalkan Desa Sungai Besar, dia pasti akan berusaha memenuhi permintaan Shen Qianqian.
Jiang Ning memberi tahu Shen Qianqian agar tidak terburu-buru. “Tunggu saja. Zhou Anze akan datang mengantarkan uangnya sendiri.”
Shen Qianqian memandang Jiang Ning dengan mata berbinar penuh kekaguman. Sebelum istri kepala brigade datang, dia bahkan belum terpikir untuk meminta uangnya kembali. Namun, Jiang Ning langsung menyadarinya dan segera menuntut uang itu.
Shen Qianqian merangkul lengan Jiang Ning dengan akrab. “Kakak ipar kedua, sungguh merupakan keberuntungan kakak kedua bisa menikah denganmu.”
“Kakak keduamu juga orang yang baik.” Jiang Ning pun tanpa segan-segan memuji Shen Mo.
Selama ini, dia mengira dirinya tidak tertarik pada pria. Namun, Shen Mo benar-benar terlalu menggemaskan. Setiap kali mengingat reaksinya saat mereka baru berkenalan, dia selalu ingin tertawa.
“Ayah dan Ibu benar-benar terlalu cemas. Mereka selalu khawatir kau dan kakak kedua tidak akan akur.”
Shen Qianqian kembali merasa iri kepada Jiang Ning dan juga kepada kakak keduanya.
Hubungan kakak kedua dan kakak ipar kedua begitu membuat iri karena mereka sama-sama memiliki sifat yang baik.
*
Keesokan harinya, Zhou Anze datang membawa uang.
Begitu melihat Shen Qianqian, dia berkata, “Qianqian, aku sudah menghitungnya. Krim Snowflake dan Peh Chao yang kau berikan selama dua tahun ini kira-kira bernilai seratus yuan. Saat ini aku hanya punya lima puluh yuan. Sisanya harus kuberikan kepadamu setelah beberapa waktu lagi.”
Dengan hati pedih, Zhou Anze menyerahkan lima lembar uang sepuluh yuan. Namun, di dalam hatinya, perhitungannya berjalan lancar.
Dia sudah memutuskan. Dia akan memberikan lima puluh yuan terlebih dahulu untuk membujuk Shen Qianqian agar kembali kepadanya. Setelah Shen Qianqian memaafkannya dan kembali berpacaran dengannya, uang itu pada akhirnya tetap akan menjadi miliknya.
Shen Qianqian polos. Dengan sedikit bujukan dan rayuan, dia akan menuruti semua perkataannya.
Hanya saja, perempuan bernama Jiang Ning itu tidak mudah dibodohi.
Saat pertama kali melihat Jiang Ning, bahkan dia tidak mampu menahan gejolak hatinya melihat wajah perempuan itu yang luar biasa cantik. Namun, sekarang dia sudah sepenuhnya menghapus pikiran tersebut.
Perempuan yang terlalu cerdas bukanlah seseorang yang sanggup dia kendalikan.
Shen Qianqian yang bodoh jauh lebih mudah ditipu. Saat ini, yang dia inginkan hanyalah meninggalkan tempat terkutuk bernama Desa Sungai Besar!
Hari itu, kebetulan dia mendengar percakapan Jiang Ning dan Shen Qianqian. Dia sendiri tidak menyangka keluarga kaum intelektual yang dikirim ke pedesaan untuk menjalani pembinaan ulang itu ternyata masih bisa meninggalkan desa.
Saat itu juga dia memutuskan bahwa dia harus membuat Shen Qianqian benar-benar mencintainya, bahkan sebaiknya segera menikahinya. Dengan begitu, ketika keluarga Shen meninggalkan Desa Sungai Besar, dia juga bisa ikut pergi secara wajar.
Shen Qianqian memandangi uang yang disodorkan Zhou Anze. Meskipun hanya lima puluh yuan, tetap lebih baik daripada tidak mendapat apa-apa.
Saat dia mengulurkan tangan, sebuah tangan tiba-tiba menyambar dari samping dan menahannya. Jiang Ning menghentikan Shen Qianqian, lalu menatap Zhou Anze dengan suara tenang namun menusuk.
“Kau lupa apa yang kukatakan? Semuanya, bukan hanya sebagian.”
“Datang meminta maaf tanpa menunjukkan ketulusan sedikit pun. Kau kira lima puluh yuan sudah cukup untuk menyelesaikan semuanya?”
Nada Jiang Ning yang santai membuat senyum Zhou Anze membeku di wajahnya.
Gerahamnya terkatup rapat.
Selama Jiang Ning ada di sana, dia tidak akan mudah menipu Shen Qianqian.
Shen Qianqian pun menyambung perkataan Jiang Ning, “Kakak ipar keduaku benar. Kau sudah menerima begitu banyak krim Snowflake dan Peh Chao dariku. Kalau kau tidak mengembalikan semuanya sekaligus, jangan harap aku akan memaafkanmu.”
Zhou Anze berusaha keras mengendalikan emosinya. Dia tidak boleh membiarkan Jiang Ning dan Shen Qianqian mengetahui bahwa alasan sebenarnya dia melakukan semua ini adalah agar bisa ikut meninggalkan Desa Sungai Besar.
Dia harus menahan diri!
Zhou Anze pun pergi.
Dua hari kemudian, ketika Shen Qianqian pergi sendirian ke ladang, Zhou Anze menghadangnya.
Seketika Shen Qianqian teringat perkataan Jiang Ning—
“Aku tidak akan terus bersamamu sepanjang waktu. Dia pasti akan mencari segala cara untuk berduaan denganmu. Untuk urusan ini, kau harus memutuskan sendiri.”
Shen Qianqian juga tahu bahwa dulu dia begitu mencintai Zhou Anze karena matanya tertutup oleh perasaan. Terlebih lagi, Zhou Anze pernah menyelamatkannya ketika dia berada dalam keputusasaan.
Namun, sedikit rasa terima kasih itu telah benar-benar lenyap ketika dia mendengar langsung dari mulut Zhou Anze bahwa pria itu ingin menyerahkannya kepada kepala pabrik mesin sebagai alat untuk menjalin hubungan.
Zhou Anze memasang senyum paling lembut dan ramah, lalu berkata kepada Shen Qianqian, “Qianqian, ini seratus yuan.”
Shen Qianqian tak sabar menarik uang itu dari tangannya. Setelah menghitungnya, jumlahnya benar-benar seratus yuan.
Melihat Shen Qianqian tersenyum sambil menghitung uang, Zhou Anze segera memasang wajah penuh kesedihan. “Qianqian, aku sudah memberikan seluruh uangku kepadamu. Bisakah kau memaafkanku? Mengenai kejadian di gunung hari itu, aku benar-benar tidak bersalah.”
Semula Shen Qianqian menghitung uang dengan gembira. Namun, begitu mendengar nada iba yang dibuat-buat itu, selera hatinya seketika lenyap.
Dia tiba-tiba tersenyum. Kini, dia benar-benar bisa mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalu.
“Zhou Anze, sekarang kita sudah tidak saling berutang apa pun,” kata Shen Qianqian. “Apa yang telah kaulakukan, kau sendiri sangat tahu. Memaafkanmu? Teruslah bermimpi.”
Saat mendengar kalimat pertama, senyum perlahan merekah di wajah Zhou Anze. Namun, kalimat berikutnya membuatnya bertanya-tanya apakah pendengarannya keliru.
Bukankah perempuan bodoh bernama Shen Qianqian ini seharusnya langsung masuk ke dalam pelukannya setelah mendengar ketulusan hatinya?
Mengapa hasilnya berbeda dari yang dia bayangkan?