Bab Empat Puluh Dua: Memerintah Sang Putri
Nada bicara Chu Yu dan Situliu Yun membuat Shen Yunyou seketika membeku di tempat, tubuhnya tanpa sadar langsung bermandikan keringat dingin. Melihat penampilan Situliu Yun yang tanpa pengawal, kemungkinan besar ia memang menyelinap keluar istana seorang diri.
Shen Yunyou berdiri di situ dengan sangat canggung. Ia melihat Situliu Yun diam-diam mengedipkan mata, memberi isyarat agar tak bersuara, membuat Shen Yunyou tiba-tiba merasakan firasat buruk.
“Aku teman Yunyou, tapi jelas bukan orang gila seperti yang kau maksud,” ujar Situliu Yun pada Chu Yu dengan senyum tipis yang sama sekali tak menyentuh matanya. Kesan Situliu Yun terhadap Chu Yu seketika berubah buruk. Ia selama ini memang penasaran, seperti apa sosok perempuan yang mampu membuat kakak keenamnya begitu tergila-gila. Namun sang kakak selalu menolak mempertemukan siapa pun dengan Chu Yu, sehingga Situliu Yun hanya pernah mengintip diam-diam dua kali. Tak disangka hari ini, ia yang kebetulan keluar istana, justru bisa memenuhi keinginannya.
Melihat barang-barang yang dipeluk Shen Yunyou dalam jumlah banyak, Situliu Yun mengerutkan kening, lalu dengan inisiatif mengambil beberapa dan berkata, “Biar kubantu.”
“Tak perlu, tak perlu, aku bisa sendiri,” Shen Yunyou buru-buru menggeleng, menolak tawaran baik Situliu Yun. Masa seorang putri membantunya membawa barang? Ia belum bosan hidup!
“Kita ini satu keluarga, untuk apa sungkan?” Ucapan santai Situliu Yun itu membuat Shen Yunyou melongo, sementara di seberang sana Chu Yu hanya mendengus geli.
“Satu keluarga, ya? Kalau begitu, kau dan Shen Yunyou temani aku berkeliling,” ujar Chu Yu tanpa basa-basi, langsung menerima ‘budak’ yang datang sendiri, mempermainkan Shen Yunyou sekehendaknya. Hal itu membuat Chu Yu senang, sehingga ia tak lagi memikirkan siapa sebenarnya perempuan yang tiba-tiba muncul itu.
Shen Yunyou dengan perasaan campur aduk memandangi sang putri yang kini harus menemaninya bersusah payah, lalu tersenyum penuh permintaan maaf pada Situliu Yun, memberi isyarat agar barang di tangannya diserahkan kembali padanya.
Situliu Yun hanya menggeleng pelan, tak berkata apa-apa, terus mengikuti Shen Yunyou dan Chu Yu hingga Chu Yu merasa puas berjalan-jalan, lalu memilih kembali ke Jalan Yunliu karena lelah.
Shen Yunyou dan Situliu Yun mengantar Chu Yu pulang, lalu baru pergi setelah sempat mendengar sindiran Chu Yu. Situliu Yun memijat pundaknya yang pegal, menahan amarah dan rasa tidak suka pada Chu Yu, lalu berkata pada Shen Yunyou, “Jangan temui dia lagi. Aku akan bicara pada Kakak Enam.”
“Terima kasih atas perhatian Putri, tapi soal ini...” Shen Yunyou menghela napas, lalu berkata lirih, “Lebih baik Putri tak usah membicarakan ini pada Pangeran.”
“Kenapa?!” Situliu Yun langsung tak terima. “Apa hebatnya Chu Yu itu? Jangan takut! Urusan ini, aku akan membelamu!”
“Sekalipun ia punya seribu satu kekurangan, di mata Pangeran, Chu Yu tetap seseorang yang tak tergantikan. Itu fakta yang tak bisa diubah siapa pun. Perasaan Pangeran pada Chu Yu, Putri tentu lebih tahu daripada aku. Bahkan Kaisar pun tak mampu membujuk Pangeran, apalagi Putri. Jangan biarkan urusan ini merusak hubungan kakak-beradik kalian.”
Situliu Yun mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk sambil menggertakkan gigi. Ia sudah sering melihat Kakak Enamnya naik pitam setiap mendengar orang menjelekkan Chu Yu. Namun, sikap kasar Chu Yu yang berani memerintahnya ke sana ke mari, mana bisa ia biarkan begitu saja? Menggerak-gerakkan lengannya yang pegal, Situliu Yun bertekad dalam hati, suatu hari ia harus membalas perlakuan Chu Yu!
Ia menghela napas berat. Melihat senyum lembut Shen Yunyou, tiba-tiba ia sadar bahwa paras Shen Yunyou tak kalah cantik dibanding Chu Yu. Kenapa Kakak Enam tak menyukai dia saja?
Shen Yunyou berjalan tenang di sisi Situliu Yun, melangkah tanpa tujuan pasti. Sampai akhirnya mereka berpapasan dengan Ye Zixuan, barulah keduanya menghentikan langkah.
Ye Zixuan melihat Situliu Yun dan Shen Yunyou, lalu menunduk hormat pada Situliu Yun, berkata pelan, “Ye Zixuan memberi salam pada Putri.”
“Kakak Tiga...” Situliu Yun menggigit bibir bawahnya, memandang Ye Zixuan yang membungkuk hormat di hadapannya dengan sorot mata berkedip-kedip, lalu berkata dengan nada pilu, “Kita sudah lama tak bertemu.”
Shen Yunyou yang berdiri di sampingnya, menatap aneh interaksi keduanya. Rupanya Ye Zixuan adalah Pangeran Ketiga. Secara silsilah, bahkan Pangeran Rui pun harus memanggilnya Kakak Tiga.
“Kelak bila ada waktu, aku pasti akan menghadap Putri di istana,” sahut Ye Zixuan sopan, tak menghiraukan raut wajah Situliu Yun yang enggan berpisah. Setelah berbasa-basi sebentar, ia segera mencari alasan untuk pergi.
Situliu Yun menatap sayu pada punggung Ye Zixuan yang menjauh, lama tak bersuara. Hal ini membuat Shen Yunyou sangat penasaran dengan hubungan di antara mereka. Putri seharusnya berada di pihak Pangeran Rui, tak mungkin dekat dengan Ye Zixuan. Tapi mengapa tatapan Putri pada Ye Zixuan jauh lebih hangat daripada pada Kakak Enam-nya sendiri?