Kamu hampir mati... Jadi, di detik-detik akhir hidupmu, tidakkah kau ingin mempertimbangkan untuk memperpanjang waktu? Harganya? Tentu saja, kami hanya punya sedikit sekali permintaan, hanya perlu menyelesaikan beberapa misi kecil dan tugas belaka. Tenang saja, kami sudah sangat mempertimbangkan sudut pandang pemain, jadi tidak akan memintamu melakukan hal-hal yang terlalu berlebihan. Misalnya, bertahan hidup selama seminggu di pantai Dunkirk. Atau menembak jatuh belasan pesawat musuh dalam pertempuran udara Operasi Singa Laut. Tentu saja, menenggelamkan satu kapal induk Armada Gabungan juga boleh. Lihat, kedengarannya tidak begitu sulit, bukan?
Ada yang berkata waktu adalah uang.
Jika kau kalah habis-habisan dari meja judi dan hanya tersisa dua puluh rupiah, untuk apa kau akan menggunakannya? Apakah kau akan memakainya untuk naik taksi pulang, atau menukarnya dengan taruhan paling kecil lagi, mengincar secercah kesempatan untuk membalikkan keadaan?
Hidup He Chi mungkin hanya tinggal beberapa jam lagi.
Di sebuah taman lembah terpencil di California yang jarang manusia, He Chi terjatuh dari tebing dan sekarang bersandar di dinding curam sendirian, sebuah batu runcing menembus perutnya. Kehilangan darah dalam jumlah besar membuat kondisinya sangat buruk.
Darah yang terus mengalir membuat tubuhnya kaku dan dingin. Dengan tangan yang mulai membeku, ia mengeluarkan bungkus rokok dari saku, menarik sebatang dan menyelipkannya di bibir, lalu menyalakannya dengan pemantik murahan.
Asap tembakau memenuhi paru-parunya, dan di bawah pengaruh tar dan nikotin, pikirannya mulai tenang.
Luka tembus di perut samping, kemungkinan pendarahan dalam, kaki patah hingga sulit bergerak, suhu tubuh menurun—masing-masing sudah cukup untuk mengancam nyawa.
Namun masalah terbesar adalah, ia mungkin sedang berhalusinasi.
Sebuah hitungan mundur yang terus berubah muncul di retina mata kanannya, angkanya kini menunjukkan [04:29:27].
Ia mengucek matanya, namun angka itu tak hilang, malah terus berkurang.
He Chi punya firasat bahwa ketika angka itu mencapai nol, itulah saat ajalnya tiba.
Namun ia bukan tipe yang menyerah begitu saja.
Bersusah payah ia meraih tas gunung di