Bab Tujuh: Pertempuran Batu Naga (Bagian Pertama)
Tiba-tiba, pintu aula didobrak keras, dan sosok Jon Clinton menerobos masuk dengan paksa, sama sekali tak menghiraukan hadangan para penjaga.
Kedatangannya bagai badai yang mengamuk, seketika memecah keheningan.
Menteri hukum Simon menegur dengan keras, “Jon Clinton, pengkhianat kerajaan, berani-beraninya kau menerobos tempat pertemuan ini?”
Pria ini, yang dulu dalam Pertempuran Lonceng dengan keberaniannya melukai Adipati Hoster Tully dari Negeri Sungai hingga parah, sekaligus mengakhiri hidup pewaris Perdana Menteri Jon Aryn.
Namun, ketika kaum pemberontak mendekati Kastel Batu, Jon Clinton, demi kehormatan seorang kesatria, melepaskan kesempatan untuk membakar kota dan membinasakan pemimpin pemberontak Robert Baratheon; ia malah memilih pencarian yang kaku dan lamban, yang pada akhirnya berujung pada pembalikan keadaan perang.
Raja Gila, Aerys Dua, lalu menyeretnya turun dari kursi panglima, merampas tanah pinjamannya, dan hanya berkat permohonan Pangeran Rhaegar ia luput dari kematian, serta sekadar diasingkan.
Saat ini Jon Clinton terengah-engah, melangkah maju, dan dengan mendesak berkata:
“Yang Mulia, keadaan gawat, aku tak punya pilihan lain.”
Para kesatria dan pengawal di sekelilingnya segera mengerubung, bersiap membawanya pergi.
Rhaella sang ratu, yang duduk di kursi utama, memandangnya dengan tatapan rumit; orang yang pernah menjadi sahabat dekat putranya, Rhaegar. “Tunggu, biarkan Jon Clinton menjelaskan, urusan mendesak macam apa ini,” perintahnya.
Jon Clinton menyerahkan surat yang dikirim Varys, yang di dalamnya terurai dengan rinci rencana rahasia Stannis Baratheon untuk memimpin tiga ribu prajurit laut menyerbu Pulau Batu Naga.
Setelah membaca surat itu, Rhaella tanpa sepatah kata meneruskannya kepada Menteri Kelautan, Lucerys.
Isi surat itu membuat Lucerys keringat dingin; ia mengira kekuatan armada kerajaan sudah cukup untuk menahan armada para pemberontak yang baru berlatih setahun.
Ia sama sekali tak pernah membayangkan bahwa armada pemberontak yang baru berlatih setahun itu berani datang melakukan serangan mendadak.
Karena itu, ia telah membiarkan sebagian besar prajurit armada kerajaan kembali ke pantai untuk beristirahat.
Namun, setelah membaca surat tersebut, hatinya dipenuhi ketakutan; ia segera berlari keluar dari aula dan tergesa-gesa memerintahkan bawahannya memanggil kembali para prajurit yang sedang beristirahat di pelabuhan Pulau Batu Naga, lalu bersiap menghadapi pertempuran.
Para menteri, bangsawan, dan kesatria saling berpandangan. Dengan izin Rhaella, mereka pun bergiliran membaca isi surat itu, seketika gempar; suasana tegang pun menyelimuti ruangan.
Pada saat itulah, Rhaella tiba-tiba menahan perutnya dengan kesakitan, sementara darah mengalir di kedua kakinya, pertanda sang bayi di dalam kandungan akan segera lahir.
Viserys yang berada di sisinya melihat penderitaan sang ibu, hatinya seperti disayat-sayat, dan ia menangis tak berdaya untuknya. Empat dayang setia segera membantu sang ratu menuju kamar tidur, bersiap menyambut kelahiran kehidupan baru.
Di bawah tirai malam yang pekat, perairan di sekitar Pulau Batu Naga diselimuti hujan badai yang mendadak turun, dan armada laut Stannis Baratheon, laksana hantu hitam, diam-diam mendekati pulau itu.
Keganasan badai menandakan bentrokan yang akan segera datang, bagai sangkakala takdir yang bergema di langit malam.
Di tengah hujan lebat, di pelabuhan Pulau Batu Naga, Lucerys selaku panglima armada kerajaan berdiri di geladak kapal utama, lalu memekikkan perintah dengan amarah yang menggelegar, “Naikkan layar perang!”
Di atas kanvas hitam yang besar itu, tiga naga merah menyala tampak terjalin megah, melambangkan kewibawaan keluarga Targaryen.
Seiring perintah disampaikan, satu demi satu kapal kerajaan mengembangkan layar, lalu meninggalkan pelabuhan yang terlindung itu dengan gegap gempita, menyongsong pertarungan hidup dan mati melawan armada Baratheon.
Di mata Stannis tergambar pemandangan yang membuat ngeri: armada kerajaan dari Pulau Batu Naga telah keluar pelabuhan, dan kini bergerak mendekati armadanya.
Davos dengan cemas membujuk, mengusulkan agar segera mundur, setidaknya sebagian armada harus ditinggalkan di belakang untuk menahan serangan, agar seluruh pasukan tidak binasa.
Namun, di wajah Stannis terukir tekad baja; ia menggertakkan gigi dan menjawab dengan tegas bahwa ia takkan mundur, dan takkan meninggalkan satu pun prajurit.
Sumpah Stannis bagai dentuman genderang perang, membakar semangat para prajurit di atas kapal utama; mereka serempak berseru, bersumpah setia mengikuti sampai mati.
Melihat tekad Stannis telah bulat, Davos pun mencabut pedangnya dan berseru dengan darah yang bergolak.
“Berjuang demi panglima kita, Stannis! Berjuang demi Baratheon!”
Teriakan itu bagai gelombang yang bergulung-gulung, menular kepada setiap prajurit di kapal utama. Mereka pun mengangkat tangan dan berseru bersama, suara mereka bergema menembus hujan dan angin, membangkitkan seluruh armada Baratheon.
Kapal utama Stannis menjadi yang pertama menerjang armada kerajaan Targaryen, maju tak gentar.
Melihat itu, kapal-kapal Baratheon yang lain pun segera menyusul dari belakang. Namun, saat Lucerys menyaksikan barisan armada Baratheon yang luar biasa itu, ia menyeringai dingin dan memerintahkan agar seluruh tembakan diarahkan ke kapal utama Stannis.
Belum sempat Lucerys menuntaskan ucapannya. Di bawah langit yang berubah sekejap mata, seolah murka para dewa, kilatan petir yang membara bagai pedang perak raksasa tanpa ampun merobek jalur pelayaran armada kerajaan.
Kapal-kapal perang yang dahulu mengguncang lautan itu pun berubah menjadi puing-puing membara, terpatri dalam pekatnya malam, meninggalkan bekas luka yang menyilaukan.
Ketakutan mulai menjalar bagai wabah di hati para prajurit Targaryen; lutut mereka gemetar, memohon perlindungan Tujuh Dewa.
Namun di antara raungan angin kencang, doa-doa itu terdengar begitu lemah; ratapan mereka ditelan tanpa ampun oleh badai, lenyap dalam kekacauan yang tak bertepi.
Di antara langit dan bumi, angin puyuh bagai binatang buas yang menari gila-gilaan, mengaum menerjang, mengepakkan sayap raksasanya, dan mengaduk laut tempat armada kerajaan berada menjadi medan perang yang bergelora.
Gelombang raksasa bergulung-gulung, laksana kepalan tangan para raksasa yang murka, menghantam keras setiap geladak hingga armada kerajaan terperosok ke dalam mimpi buruk yang tak bisa dilepaskan.
Lucerys, menteri kelautan armada kerajaan, berdiri di geladak kapal utama dengan wajah pucat, berupaya keras mengeluarkan perintah mundur, mencoba membawa armada kembali bertahan di pelabuhan aman Pulau Batu Naga.
Namun di bawah amukan badai, kapal-kapal armada kerajaan tak berdaya bagai daun gugur, dibuai ombak dan angin, tersesat di lautan luas.
Di permukaan laut, seekor pusaran naga laut raksasa tiba-tiba menjulang, seakan iblis dari laut dalam, mencakar-cakar dengan ganas dan mengamuk liar di sekeliling armada.
Armada kerajaan, di bawah pembaptisan hujan badai ini, bagaikan nyala lilin yang terombang-ambing, setiap saat bisa padam.
Lucerys, sang menteri kelautan armada kerajaan, berdiri tegak di geladak kapal utama, menatap langit yang pecah oleh kilat; hujan badai membasahi jubahnya, tetapi tak mampu memadamkan ketakutan dan keputusasaan di matanya.
Bibirnya bergetar, ia mengajukan pertanyaan tanpa suara kepada langit, suaranya begitu tak berarti di tengah guntur dan kilat: “Apakah Tujuh Dewa juga meninggalkan kami, dan menyerahkan mahkota kemenangan kepada Baratheon?”
Armada kerajaan meronta-ronta di tengah gelombang badai; ada kapal yang ditelan tanpa ampun oleh ombak besar, ada pula yang lenyap di pusaran yang terbentuk di permukaan laut.
Para prajurit Targaryen di medan perang yang dipenuhi kilat itu mengeluarkan ratapan tanpa daya; keberanian mereka tampak begitu rapuh di hadapan amarah alam.
Sementara itu, armada Baratheon di bawah pimpinan Stannis memilih menjauh. Mereka menyaksikan dari kejauhan bencana bak kiamat ini, namun di dalam hati justru menyala harapan kemenangan.
Wajah panglima Stannis terukir keteguhan; di matanya berkilat kegembiraan yang liar dan percaya diri. Ia tahu, malam ini kekuasaan terakhir Targaryen akan runtuh berkeping-keping, dan panji Baratheon akan berkibar di atas benteng terakhir yang paling kokoh di Westeros.
Kapal utama armada kerajaan, dalam amukan gelombang badai, pada akhirnya tak mampu menghindari nasib kehancuran; ia didorong gelombang tanpa belas kasihan ke arah karang, lalu memulai tenggelamnya yang panjang dan penuh tragedi.
Para prajurit di geladak kapal utama satu demi satu melompat ke air laut yang sedingin es, berusaha melarikan diri dari cengkeraman maut.
Lucerys, yang dahulu menjabat menteri kelautan, berlutut di geladak sambil menyaksikan kehancuran armadanya. Air mata bercampur hujan meluncur di wajahnya, dan ia berbisik:
“Mengapa... mengapa bisa begini...”
Belum selesai ucapannya, ia dengan tegas menggorok lehernya sendiri dengan belati, mengakhiri hidupnya, dan menutup tragedi ini dengan titik akhir.
Setelah badai berlalu, puing-puing armada kerajaan berserakan di permukaan laut, bagai ratapan perang yang sunyi dan memilukan.
Angin dan hujan mulai mereda, kilat tak lagi mengaum, dan Stannis tanpa ragu memerintahkan armada Baratheon bergerak menuju Pulau Batu Naga. Ia tahu, kini Pulau Batu Naga tak lagi memiliki pasukan untuk bertahan, dan takkan sanggup menghadang langkah pasukan Baratheon.