A Guerra dos Tronos: O Renascimento do Cervo

A Guerra dos Tronos: O Renascimento do Cervo

Penulis:Eu escrevo de qualquer jeito, você faz como quiser.

O feto que deveria ter sido abortado por Cersei e desaparecido no rio da história, contudo, chega de forma milagrosa, carregando o último esplendor da dinastia prestes a desmoronar. Ele avança endurecido no cerco de inimigos por todos os lados, imerso nos rugidos da alcateia de leões, sendo a última brasa da família Baratheon e o derradeiro berro do cervo coroado. (A alma moderna do protagonista transmigra, mas não compreende Jogo dos Tronos ou As Crônicas de Gelo e Fogo)

A Guerra dos Tronos: O Renascimento do Cervo

29ribu kata Palavras
0kunjungan visualizações
153bab Capítulo

Bab Satu: Kelahiran Baru (Bagian Satu)

Halaman (1/3)
Hari Terakhir 283AC
Kota Raja
Benteng Merah
Menara Maegor

Fajar merekah, jeritan memilukan memecah keheningan, berasal dari Ratu Cersei Lannister yang sedang digerogoti derita tiada akhir di kamar tidurnya yang mewah.
Mata Cersei hijau bak zamrud, rambut pirangnya bergelombang seperti ladang gandum diterpa cahaya mentari, tubuhnya ramping dan kulitnya seputih porselen, secantik patung pahatan, kecantikannya menyesakkan dada dan menyimpan pesona yang nyaris tak tertahankan.
Sir Jaime Lannister, si ksatria tampan berambut pirang dan bermata hijau, adalah saudara kembar Cersei.
Saat itu ia mendengar jeritan kesakitan sang kakak dan menatap Grand Maester Pycelle yang rambutnya telah memutih, dengan cemas bertanya, “Pycelle, kau harus melakukan sesuatu! Tak bisakah kau meredakan penderitaan kakakku?”
Pycelle menjawab dengan suara penuh kepasrahan,
“Sir, rasa sakit melahirkan adalah takdir setiap wanita. Aku sudah memberinya susu bunga penenang, juga telah mengirim utusan memanggil Suster Teresa dari Katedral Agung Santo Baelor untuk membantu persalinan.”
Di dalam kamar, Cersei bermandikan keringat, jeritan pedihnya menggema. Para pelayan perempuan sibuk mengelap tubuhnya yang basah kuyup dengan handuk hangat.
Di luar pintu, Jaime mencengkeram kerah jubah Pycelle, sorot matanya sedingin es hingga seolah mampu membekukan udara,
“Mengapa? Tiga kali teh bulan sudah diberikan, tetap saja anak ini lahir? Kenapa bisa begitu?” Suaranya rendah dan penuh amarah.
Pycelle nyaris tak dapat bernapas kare

📚 Rekomendasi Terkait

Lihat Lebih Banyak >

Peringkat Terkait

Lebih Banyak Peringkat >