Bab Delapan: Kau Berbaring di Atasku, Aku Berbaring di Atasmu
Bab 8: Kau di Atasku, Aku di Atasmu
Cahaya di depan matanya kabur, namun perlahan menjadi jelas seiring kesadaran Yue Bai kembali. Di hadapannya tergoyang-goyang daun rumput yang hijau muda, segar dan menawan. Apakah ini daun ketumpang air? Dalam benaknya yang masih samar, itu penilaian pertamanya.
Lalu, ingatan sebelum pingsan perlahan berputar kembali. Astaga!
Yue Bai segera berusaha bangkit dengan bertumpu pada lengannya, tetapi tubuhnya terasa sangat berat! Ia hampir saja jatuh tersungkur lagi karena sikunya lemas dan tidak sanggup menopang tubuh.
Siapa yang menindih tubuhnya? Yue Bai menoleh, dan langsung berhadapan dengan hidung mancung yang tinggi, masih berlumuran darah. Pemandangan itu nyaris membuatnya terkejut hingga mati ketakutan, apalagi kesadarannya baru saja pulih dan masih agak linglung.
Setelah berusaha menjauh sedikit, barulah ia melihat dengan jelas bahwa orang yang tergeletak di atasnya adalah Panglima Tentara Tanpa Kepastian yang tengah pingsan. Yue Bai menoleh ke samping, dan betapa terkejutnya ia, ternyata seluruh tubuh Sang Panglima menindih tubuhnya, melindunginya di bawah.
Wajah Yue Bai langsung gelap; betapa cepat balasan dunia datang! Baru saja ia menindih Panglima Tentara Tanpa Kepastian di dinding, sekarang malah ia sendiri yang ditindih balik?! Meski begitu, Yue Bai tahu betul bahwa Panglima Tentara melakukan ini demi melindungi dirinya, sang tabib lemah dari dunia para dewa. Ia baru saja hendak mengerahkan kekuatan ilahinya untuk menyingkirkan tubuh Sang Panglima, namun wajahnya seketika berubah; ke mana perginya kekuatan spiritualnya?
Yue Bai tak peduli lagi dengan posisi malunya, segera memusatkan pikiran dan memeriksa kondisi dalam tubuhnya. Untunglah, istana jiwa dan dantiannya baik-baik saja. Meski terluka, ia sudah menyiapkan diri dan masih sanggup menanganinya. Namun, setelah menelusuri jalur energi, Yue Bai menggigit bibirnya dengan khawatir; hubungan antara istana jiwa dan dantian terputus, bukan karena luka, melainkan seperti ditekan oleh sesuatu sehingga energi ilahinya tak bisa mengalir. Ia sama sekali tak bisa menggerakkan kekuatan dewa.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Yue Bai benar-benar terpaku! Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu ditemani kemampuan spiritual. Kekuatan dewa itu sudah seperti tangan dan kakinya! Kini, bangun dari pingsan, ia mendadak merasa seperti kehilangan anggota tubuh—siapa pun pasti akan tertegun! Dan ini bahkan seperti cacat tingkat tiga!
Yue Bai terbangun karena basah oleh darah. Cairan merah itu mengalir perlahan di punggungnya, seperti haid yang membasahi seluruh tubuh. Sensasi aneh ini sungguh membuatnya tetap terjaga, sampai-sampai ia tak sempat merasa panik.
Ingin meratapi nasib pun, ia harus membereskan dulu darah yang mengalir di punggungnya, bukan?
Ia pun hati-hati memindahkan tubuh Panglima Tentara Tanpa Kepastian. Luka yang diderita terlalu parah; jika salah penanganan, cederanya bisa semakin buruk, dan sia-sialah usaha mereka. Untung saja, berkat perlindungan Panglima, luka Yue Bai sendiri tidak terlalu berat. Meski kekuatan aneh itu menahan kekuatan ilahinya, keunggulan tubuh dewa tetap tak bisa dihapuskan. Meski luka cukup parah, setidaknya ia masih bisa bergerak bebas.
Setelah duduk, ia mengamati sekitar. Mereka berada di hutan lebat. Ke kanan dan kiri, keadaan sangat sunyi, bahkan suara binatang, jangkrik, dan burung pun tak terdengar.
Yue Bai tahu penyebabnya; dua dewa jatuh dari langit, darah berceceran di mana-mana, sementara binatang di gunung mematuhi hierarki dan naluri bertahan hidup. Siapa yang berani mendekati tempat yang dipenuhi aura para dewa?
Ia memeriksa dirinya. Tanpa kekuatan ilahi, kantong ajaib di lengan bajunya tak bisa dibuka, semua barang tak bisa dikeluarkan. Ia meraba-raba tubuhnya dan hanya menemukan tujuh batang jarum bambu ungu yang ia bawa saat mengobati Xiao Ye Zi. Obat-obatan lainnya tak bisa ia ambil.
Untung saja, mereka berada di hutan pegunungan, tempat yang tak kekurangan tumbuhan obat.
Yue Bai melihat sekeliling, lalu mencabut rumput ketumpang air yang tadi terus melambai di hadapannya. Ketumpang air dapat menurunkan panas, melancarkan air seni, menyehatkan mata, dan menghilangkan dahak—barangkali bisa berguna.
Yue Bai memeriksa nadi dan tulang Panglima. Alisnya langsung berkerut rapat. Cederanya sungguh parah; entah berapa tulang yang patah, belum lagi pendarahan dalam dan luka luar. Apalagi luka yang membasahi tubuhnya dengan darah itu, jelas akibat terbakar api suci milik Malaikat Agung.
Harus segera ditangani.
Baju zirah Panglima hancur saat Malaikat Agung meledakkan sayapnya, tapi justru memudahkan Yue Bai untuk mengobati. Kalau tidak, tanpa izin langsung dari Panglima, siapa pun takkan bisa melepas baju zirah itu.
Dengan cepat Yue Bai memasang jarum untuk menahan kondisi luka, lalu segera mencari obat.
Ada planet di Galaksi Bima Sakti yang bisa menekan kekuatan para dewa. Yue Bai belum pernah mengalaminya, tapi pernah mendengar. Namun, meski kekuatan ditekan, ini tetaplah dunia para dewa; tumbuhan obat yang tumbuh di sini tetap berkhasiat untuk para dewa. Mengenali dan mengolah tanaman obat adalah keahlian dasar seorang tabib dewa.
Melihat musim di tempat ini tampaknya akhir musim panas menuju awal musim gugur, saat banyak tanaman obat telah matang—waktu yang sangat tepat. Yue Bai beruntung menemukan tanaman panax notoginseng, obat terbaik untuk menambah darah dan menyembuhkan luka luar.
Pakaian mereka adalah jubah dewa, dan tanpa kekuatan ilahi, Yue Bai tak bisa merobeknya. Maka ia menggunakan daun lebar dan rumput untuk mengikat luka seperti membungkus ayam panggang, dan karena darah tak kunjung berhenti, ia memotong rambutnya sendiri untuk menahan pendarahan.
Dalam kesibukannya, ketika matahari terbit untuk kedua kalinya, Panglima Tentara Tanpa Kepastian akhirnya membuka mata.
Penampilannya kini sangat kocak—pakaian berantakan penuh darah, luka-luka terikat daun dan rumput, beberapa bagian bahkan menghitam karena abu. Tak ada api unggun, pakaian Yue Bai sedikit lebih baik, tapi rambutnya juga acak-acakan seperti digigit anjing saat mengaduk ramuan obat.
Tanpa kekuatan ilahi, kemampuan indra Yue Bai jauh berkurang. Ia baru sadar saat Panglima mulai bergerak dan menoleh padanya.
"Anda sudah sadar?" Yue Bai menghela napas lega, sambil melanjutkan meracik ramuan.
"Ya," suara Panglima serak, "Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku."
Sorot mata Yue Bai tetap tenang. Meski kondisinya sangat kacau, ia seperti tak memperdulikannya, "Sudah sewajarnya. Aku ini tabib dewa, tugas utamaku menolong sesama. Lagipula, Panglima adalah pilar dunia para dewa. Dalam situasi itu, siapa pun yang perlu pertolongan pasti akan aku selamatkan."
Yue Bai berhenti sejenak lalu berkata, "Terlebih, aku memang berniat pergi ke Gerbang Tanpa Kepastian untuk berjaga di perbatasan."
"Oh?" Panglima benar-benar terkejut mendengar itu. Di seluruh dunia para dewa, tak ada tempat yang lebih berbahaya selain Gerbang Tanpa Kepastian. Hampir semua tabib dewa yang gugur, jatuhnya di sana. Kenapa tabib yang satu ini malah ingin menyerahkan diri?
"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Namaku Yue Bai. Pangkat dewa tingkat sembilan, tak layak disebut tuan." Yue Bai menyerahkan ramuan yang telah selesai diaduk, membuka perban pada luka Panglima dan menggantinya. Luka di tubuhnya terlalu banyak, harus bergantian dibersihkan dan diobati.
"Namaku Mo Wenjun." Keheningan Yue Bai membuat suasana canggung. Ia tak tahu harus bicara apa, jadi hanya memperkenalkan diri.
"Mo Wenjun?" Yue Bai menatapnya heran. Orang ini begitu saja menyebutkan nama aslinya? Itu bukanlah sesuatu yang bisa diucapkan sembarangan! Namun yang terucap justru, "Kau tidak mau istirahat dulu?"
"Tidak apa-apa. Luka seperti ini, selama aku sadar, aku pasti bisa pulih." Mo Wenjun sudah berpengalaman menghadapi luka parah, bahkan lebih paham dari Yue Bai soal kondisinya.
"Baik," jawab Yue Bai, lalu menjelaskan situasi mereka saat ini kepada Mo Wenjun.