Bab Enam: Sebuah tangan tiba-tiba muncul di sisinya...
Bab 6: Sebuah Tangan Tiba-tiba Muncul di Sampingnya...
Jubah hitam dan rambut gelap menyelimuti tubuhnya yang terendam dalam cahaya misterius, tenang dan kokoh. Hanya tombak panjang di tangannya yang bergerak buas, menebas ke segala arah tanpa tandingan. Meski tubuhnya telah penuh luka, wibawanya sama sekali tak berkurang.
“Panglima Tak Berubah?” Bisik Bulan Pucat, bibirnya mengatup. Galaksi bintang ini hanya berjarak beberapa langit dari Tak Berubah, memang tak terlalu jauh, tapi setahunya, Panglima Tak Berubah tak pernah meninggalkan wilayahnya tanpa alasan penting. Mengapa kini dia bertarung dengan beberapa malaikat dari luar wilayah di sini?
Bulan Pucat kembali menggigit bibir. Hanya dengan begini pun ia tak mungkin bisa menyelamatkan sang panglima. Ia harus menunggu... menunggu waktu yang tepat...
Panglima Tak Berubah jelas bukan orang bodoh. Dia tahu situasinya tak menguntungkan, tak akan bertahan mati-matian. Asal bisa menembus ke salah satu wilayah langit, ketiga malaikat agung itu pasti tak akan bisa kembali. Maka ia bertarung sambil mundur, tanpa sedikit pun berniat memperpanjang pertempuran.
Bulan Pucat memperhatikan arah gerak Panglima Tak Berubah, matanya tiba-tiba berbinar! Arah itu, sepintas tampak menuju Langit Asal Chu, namun ia tahu, di satu tikungan, ada lubang hitam yang sangat tersembunyi. Keluar dari sana, langsung mengarah ke Langit Gerbang Duri!
Jadi, dia hendak menuju Langit Gerbang Duri?
Langit Gerbang Duri memang bukan yang terdekat, tetapi sepanjang jalur galaksi ini, bahkan selain lubang hitam itu, masih banyak rahasia yang hanya diketahui segelintir orang di seluruh dunia abadi. Banyak tempat rahasia yang bisa dimanfaatkan untuk meloloskan diri! Selain itu, di Langit Gerbang Duri ada Muara Sungai Guan, dan di sana ada Dewa Anjing Bermata Dua. Jika bisa sampai ke sana, situasi akan sangat berbeda.
Hanya saja, entah apakah ia mampu bertahan sampai ke Langit Gerbang Duri.
Bulan Pucat mengernyit, lalu mengambil jalan memutar.
Di galaksi bintang, suara tak bisa merambat. Cahaya datang silih berganti, seperti gelombang pasang. Titik pusat pertempuran makin menjauh, Bulan Pucat mengatupkan bibir, nyaris mengira Panglima Tak Berubah bermaksud menuju Langit Tertinggi tempatnya berasal. Namun ia tahu, ia tak boleh gegabah. Jika salah langkah, nasib Panglima Tak Berubah bisa jadi sangat buruk.
Cahaya biru gelap di tubuhnya nyaris tak tampak di gelapnya angkasa. Hanya sekali gerakan pelan, ia berbelok.
Di sinilah letak lubang hitam itu, yang sekaligus menjadi lorong rahasia. Tekanan di dalam sangat besar, akibat kekuatan lipatan ruang. Namun, siapa pun yang mampu melewatinya, akan menemukan jalan pintas terbaik menuju tempat lain.
Lubang hitam ini, dari arah datang mereka, karena distorsi cahaya dan medan magnet, hanya menampakkan langit penuh bintang di belakangnya. Tak mungkin dilihat mata telanjang atau dengan sihir apa pun, hanya yang benar-benar masuk ke dalam yang akan tahu ada jalan rahasia di sini. Begitu menembusnya, Langit Gerbang Duri sudah dekat.
Bulan Pucat menarik napas dalam-dalam. Begitu melangkah masuk ke lubang hitam, tubuhnya langsung menggigil hebat. Tekanan di dalam terlalu dahsyat. Sebagai tabib abadi, bukan petarung, tekanan ini menjadi beban luar biasa berat bagi kekuatannya yang masih dangkal.
Tak ada jalan lain. Bulan Pucat menggertakkan gigi, melangkah perlahan ke dalam.
Angin lebih ganas dari badai ruang angkasa menghempas rambut hitamnya. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Tubuh kurus dan tegapnya bergetar hebat, namun ia tetap memaksakan langkah demi langkah. Lubang hitam adalah kegelapan paling murni di dunia, tanpa setitik warna pun. Bahkan cahaya biru samar di tubuhnya pun lenyap tanpa jejak.
Pelan-pelan, akhirnya seberkas cahaya perak dingin menyapa matanya. Cahayanya tak terlalu terang, namun di kegelapan seperti ini, setitik cahaya saja sudah membutakan. Itu adalah Pasir Bintang, inti sari bintang yang tertinggal setelah dihancurkan tekanan lubang hitam. Munculnya Pasir Bintang menandakan ia sudah tiba di titik tekanan terbesar lubang hitam. Bulan Pucat justru gembira, meski kulitnya mulai mengeluarkan darah, menodai jubah birunya...
Lubang hitam ini bagai jam pasir, besar di kedua ujung, sempit di tengah. Bulan Pucat melangkah beberapa langkah, lalu berdiri di sisi tersempit, tangan gemetar mengeluarkan sebuah manik hitam. Dengan satu sentakan kekuatan, manik itu berubah jadi cahaya hitam yang membungkus dirinya. Tak ada satu pun yang bisa menebak di sini ada seseorang.
Lubang hitam menyerap cahaya, memutarbalikkan medan. Ia tak bisa melihat apa pun, hanya bisa menunggu. Ia yakin Panglima Tak Berubah pasti memilih jalan ini, jalan yang bahkan di antara para abadi hanya sedikit yang tahu...
Di dalam lubang hitam, tak ada suara. Sunyi sekali, bahkan detak jantung pun tak terdengar, keheningan yang membuat hati gelisah.
Panglima Tak Berubah dan ketiga malaikat bersayap sepuluh bertempur sambil saling melukai. Salah satu malaikat hanya tersisa lima sayap, dua lainnya masing-masing delapan dan sembilan sayap. Namun, bagaimanapun, tiga lawan satu di tingkat yang sama, luka Panglima Tak Berubah jauh lebih parah. Tubuhnya bermandikan darah, wajahnya penuh sobekan seperti mulut bayi yang terus menganga, mengerikan. Tubuhnya penuh luka, darah menetes tiada henti.
Namun, semua itu belum cukup untuk menghentikan langkah dan semangat juangnya. Meski lengan penuh luka menganga, tombak panjang di tangannya tetap berayun dengan kekuatan penuh.
Kekuatan spiritual yang mendadak mengamuk memaksa dua malaikat mundur. Ujung tombak yang tajam menebas pangkal sayap, satu sayap malaikat bersayap sembilan terlepas, satu lagi patah setengah! Tak disangka, malaikat itu justru lebih nekat. Melihat kedua sayapnya tak bisa diselamatkan, ia mengguncang tubuhnya. Dalam sekejap cahaya menyilaukan meledak, dua sayap yang satu rusak satu patah itu meledak hebat!
Energi malaikat terkumpul di sayap. Meledakkan sayap adalah jurus pamungkas mereka! Apalagi, ini adalah sayap dari malaikat bersayap sepuluh!
Panglima Tak Berubah pun tak lolos dari dampaknya. Ledakan cahaya dari depan menghantamnya, bahkan zirah abadi di tubuhnya tak mampu menahan! Potongan besar zirahnya hancur jadi abu di tengah ledakan, namun abu hitam itu justru menghalangi cahaya sesaat.
Karena penghalang sesaat itulah, cahaya ledakan tak langsung menembus ke pusat kekuatannya!
Dengan memanfaatkan dorongan ledakan itu, ia tiba-tiba melepaskan diri dari cengkeraman tiga malaikat, melesat menjauh!
Tiga malaikat itu, wajah mereka yang bak pahatan sempurna, tampak mulai tegang. Sisa sayap mereka bergetar, lalu mereka mengejar dalam kecepatan penuh!
Panglima Tak Berubah memang bukan yang tercepat. Mana mungkin ia bisa terbang lebih cepat dari tiga malaikat bersayap? Meski memanfaatkan dorongan ledakan, ia tetap saja semakin dikejar.
Melihat dirinya hampir terkejar, tiba-tiba ia berputar, garis hitam di langit biru berkelok tajam, melesat ke arah berbeda!
Para malaikat tak sempat mengerem, menabrak awan bintang yang tiba-tiba muncul. Seketika itu juga, petir menyala-nyala di seluruh langit!
Namun, awan bintang itu hanya menahan mereka sejenak. Detik berikutnya, mereka sudah keluar tanpa meninggalkan bekas.
Namun, dalam sekejap itu, tetesan darahnya masih tertinggal di udara, sedangkan tubuhnya hanya menyisakan jejak cahaya pelarian.
Tiga malaikat seperti boneka mekanik, tanpa ragu terus mengejar.
Sosok Panglima Tak Berubah tiba-tiba lenyap, masuk ke lubang hitam tersembunyi.
Meski berhasil lolos sementara, ia tahu jika tak ada keajaiban, tak mungkin bisa keluar hidup-hidup...
Namun, apa pun yang terjadi, ia harus mencoba!
Tatapannya mantap, meski sorot matanya mulai redup, ia tetap gigih terbang ke depan. Ia lebih memilih mati bertarung daripada menyerah!
Cahaya Pasir Bintang dalam lubang hitam begitu menyilaukan. Ia menggertakkan gigi, mengangkat kaki, menerobos masuk!
Tiba-tiba, sebuah tangan muncul di sampingnya...