Bab Empat Puluh Dua: Skandal
Bab 42: Skandal
Dewi Mimpi tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam kehidupan Ziyue, lalu dengan cepat pula menghilang dari hidupnya, meninggalkan jejak yang entah seberapa dalam, Ziyue sendiri pun tak tahu. Setelah Dewi Mimpi pergi menjaga perbatasan, Ziyue pun kembali mejalani hari-hari seorang diri.
Kadang, saat Dewi Bunga Kembang pulang ke kamarnya, Ziyue akan mengantarkan pil yang telah dibuatnya ke sana. Terkadang, Dewi Bunga Kembang akan mengajaknya keluar, meski Ziyue tak pernah benar-benar mau. Sesekali, Dewi Asap Ungu yang melintas akan datang menengoknya, memberikan beberapa teknik atau alat sihir yang umum digunakan, serta memberikan petunjuk dalam latihannya. Namun, sebagai penguasa Langit Chu Yuan, Dewi Asap Ungu selalu sibuk dan jarang berkunjung.
Namun, tidak ada lagi yang akan dengan semangat mengetuk pintu kamarnya, lalu menyeretnya keluar dengan kegilaan sendiri. Tak ada lagi yang menunggunya masuk ke dunia maya Bunga Terbang Bebas Ringan Laksana Mimpi, lalu membawanya menjelajahi setiap sudut menakjubkan di sana—lautan bintang, api neraka—bahkan jika tidak keluar kamar, tetap mengajaknya menikmati luasnya dunia. Tak ada lagi yang bercanda dan berkelakar dengannya, kadang, karena sentuhan tak sengaja, memunculkan reaksi aneh dalam dirinya hingga ia mati-matian menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tak ada, lalu merasa canggung sendirian.
Meski pertemanan itu singkat, namun hubungan antarmanusia memang penuh keajaiban. Terlebih, inilah sahabat perempuan pertama yang Ziyue miliki.
Hari-hari seperti itu terus berlanjut hingga suatu ketika, Panglima Agung Wuding bergegas masuk ke Istana Bunga Kembang sambil menggendong seorang wanita muda yang ringkih dari Balairung Pemindahan. Pemandangan ini membuat lautan bunga sepanjang tiga ribu li bergetar riuh, seolah dilanda badai. Bahkan Ziyue, yang selama ini jarang peduli urusan dunia di Istana Bunga Kembang, ikut terkejut.
Mendengar kabar itu, Ziyue kembali berlari keluar kamar. Bukan karena Panglima Wuding membawa seorang wanita, melainkan karena ia datang dari Balairung Pemindahan.
Ada masalah di Gerbang Wuding!
Hanya pikiran itu yang memenuhi kepala Ziyue—apakah dewi yang terluka itu Dewi Mimpi?
Ia tak tahu harus menuju ke mana, atau bertanya pada siapa. Darah mengalir deras ke kepalanya, mendesak ruang berpikirnya, bahkan urat di keningnya pun tampak berdenyut. Tanpa tujuan jelas, ia menerobos masuk ke ruang perawatan.
Meja batu yang tebal sebagai penopang formasi sihir, tanpa ruang kosong di bawahnya—itulah formasi terbaik. Di atas ranjang duduk seorang wanita bertubuh mungil, itu yang pertama kali dilihat Ziyue.
“Braakk!” Pintu membentur dinding keras, suara kerasnya seperti petir yang menggelegar, membuat semua pandangan di ruangan itu terarah pada Ziyue, bahkan wanita di ranjang pun menoleh.
Bukan Dewi Mimpi. Syukurlah.
Darah yang tadi naik ke kepala seketika surut, wajahnya pun mendadak pucat.
Ketika ia sadar enam atau tujuh pasang mata menatap padanya bagai sorotan lampu, rona merah perlahan menyebar di wajah Ziyue.
Kali ini, ia benar-benar malu.
“Jingyi? Kenapa kamu keluar kamar?” Dewi Bunga Kembang bahkan lebih terkejut; siapa lagi yang lebih tahu betapa pemalunya gadis tetangga ini selain dirinya sendiri?
Ziyue menundukkan kepala, menatap ujung kakinya, di balik rambut hitamnya tampak sepasang telinga semerah batu delima, suaranya pelan nyaris tak terdengar, “Kudengar terjadi sesuatu di Langit Wuding…”
Apa urusannya Langit Wuding denganmu? Bukankah kau lebih suka bersembunyi di loteng, tak peduli musim berganti? Bukan tipe yang suka ambil pusing urusan seperti ini, kan?
“Kalau begitu, siapa yang kau khawatirkan?” Begitu tergesa masuk ke ruang perawatan, langsung melihat ke arah pasien—semua orang pasti tahu alasannya.
Barulah Ziyue mengangkat kepala saat mendengar pertanyaan itu, “Dewi Mimpi… dia…”
“Dewi Mimpi baik-baik saja, tak perlu cemas,” jawab seorang wanita asing. Suaranya terdengar lemah, namun setiap kata mengandung belas kasih yang menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Ziyue menoleh ke arah suara itu, ternyata wanita yang hampir ia kira sebagai Dewi Mimpi.
Wanita itu tampak berusia sekitar dua puluh tahun, tubuh ramping dan lemah, parasnya halus dan lembut, sekilas tampak rapuh dan membutuhkan perlindungan. Namun siapa pun yang melihatnya pasti akan lebih memperhatikan senyum penuh belas kasih di bibirnya, bukan kecantikan wajahnya yang mudah menimbulkan kesalahpahaman.
Itulah kasih sayang sejati seorang yang penuh welas asih, bukan karena ia lugu, melainkan telah melihat gelapnya dunia namun tetap mempertahankan secercah cahaya dalam hatinya.
“Inilah Dewi Honghan, selama ini menjaga Gerbang Wuding, kau belum pernah bertemu, sekarang kebetulan bisa berkenalan,” Dewi Bunga Kembang memperkenalkan dengan menunjuk ke ranjang.
Meski Ziyue jarang keluar kamar, nama besar wanita ini sudah lama didengarnya!
Orang kedua terpenting di Istana Bunga Kembang! Dewi paling welas asih di dunia para dewa! Tak ada duanya!
Kalau bicara siapa tabib tersakti di dunia dewa, tentu gelar itu milik Dewi Bunga Kembang yang terkenal dengan kekuatan luar biasa. Namun, soal siapa yang paling banyak menolong orang, tak ada yang bisa menyaingi Dewi Honghan!
Kekuatan sihir Dewi Honghan memang tak setinggi Dewi Bunga Kembang, tingkatannya secara resmi puncak Jenius Sejati, sebenarnya baru setara tingkat lima, belum mencapai tingkat sembilan. Bandingkan dengan Dewi Bunga Kembang yang sudah mencapai puncak tingkat sembilan. Namun, orang yang ia tolong adalah yang terbanyak.
Ilmu pengobatannya memang belum setinggi Dewi Bunga Kembang, kekuatan spiritualnya juga kalah, untuk luka berat dengan tambahan sihir ia tak mampu, maka ia memilih mendalami ilmu penyembuhan massal. Sekali ia melepaskan sihir, ratusan hingga ribuan orang bisa mendapat manfaat! Yang lebih hebat, ia tak pernah menolak siapa pun yang datang padanya, dari luka gores kecil hingga yang sudah sekarat. Bertahun-tahun, siapa tahu sudah berapa banyak nyawa yang ia selamatkan!
Pantas saja, di medan berbahaya seperti Langit Wuding, Dewi Mimpi ikut bertempur, namun Dewi Bunga Kembang yang biasanya terdepan memilih tidak turun langsung. Jelas, dibanding Dewi Bunga Kembang, Dewi Honghan memang lebih cocok menangani kebutuhan medis di sana!
Sadar akan hal itu, Ziyue buru-buru memberi salam. Wajah polos dan canggungnya membuat siapa pun sulit marah padanya. Dewi Bunga Kembang pun memanggil, “Sudah keluar juga, sekalian duduk di sini saja, nanti pulang.”
Ziyue bersembunyi di belakang Dewi Bunga Kembang, baru berani mengangkat kepala dan memperhatikan orang-orang di ruangan itu.
Tak banyak yang hadir, semuanya dikenalnya. Seseorang duduk sendiri di hadapan barisan para dewi, tampak seperti terdakwa yang menunggu diadili—itulah Panglima Agung Wuding. Bahkan kini masih ada noda darah di tubuhnya, sesuatu yang sangat langka bagi seorang dewa yang biasanya bisa mengatasi semua itu dengan satu mantra saja.
Begitu sadar bahwa Panglima Agung juga melihat wajah malunya, Ziyue makin memerah.
Ada juga Dewi Xiaoxiang yang pernah ditemuinya, lalu pengawalnya, Pendekar Pedang Teratai Biru. Biasanya, senjata dilarang di ruang perawatan, tapi pedangnya tetap tergantung di pinggangnya.
Ada seorang lagi, gadis muda berpenampilan imut namun berwajah dingin, gayanya malah seperti lelaki sejati: itulah Bintang Utama Utara, Tuan Bintang Tiang Langit. Ziyue memang belum pernah bicara dengannya, tapi ia tahu siapa dia.
Setelah bersembunyi dengan aman, mereka pun tak lagi menghindari Ziyue, dan melanjutkan perbincangan yang sempat terputus.
Namun, dari suasananya, Ziyue merasa ini lebih seperti interogasi terhadap Panglima Agung Wuding.
Padahal Ziyue tak tahu, kehadirannya barusan membuat suasana tegang di ruangan itu jadi jauh lebih santai.
“Maksudmu, insiden kali ini ada campur tangan Kaisar Langit?” Suara Dewi Bunga Kembang tetap galak.
Apa? Bahkan Ziyue langsung memasang telinga. Ini bukan sekadar gosip, ini benar-benar skandal!