Bab Sepuluh: Para Dewa Ini Benar-Benar Membuat Mata Perih

Alam Dewa ini tampaknya mulai runtuh. Istana Giok Bulan Ungu 2375kata 2026-02-09 19:15:00

Bab 10: Para Dewa Ini Benar-Benar Bikin Silau

Betapa sulitnya naik ke alam dewa, siapa lagi yang lebih tahu dari dirinya, seorang anak yang sejak kecil tumbuh di keluarga kultivator? Tidak usah bicara orang lain, ambil saja ayah dan ibunya sebagai contoh—bukankah mereka juga jenius luar biasa? Namun, berapa tahun mereka berjuang keras? Bakat, kekuatan, dan mentalitas mereka tidak kurang sedikit pun, tapi tetap saja pintu menuju keabadian tertutup bagi mereka!

Kenaikannya sendiri pun hanyalah karena kebetulan, dan kebetulan semacam itu mana bisa ditiru sembarangan?

Tapi sekarang, para dewa yang naik atas usaha sendiri tiba-tiba muncul—dan bukan satu, melainkan tiga bersaudara! Apakah ini sebuah lelucon? Orangtua macam apa yang bisa melahirkan anak-anak sehebat itu? Dan ada tiga pula!

Ketika Ziyue sampai pada kesimpulan ini, hampir saja ia mengira dirinya sudah gila!

Bagaimanapun, ini semua hanya ia simpulkan dari sepatah dua patah kata yang ia dengar. Untuk tahu detilnya, jelas tidak semudah itu. Maka Ziyue hanya bisa mengamati orang-orang di sekitarnya.

Ia ingin tahu, seberapa tidak dapat dipercaya legenda-legenda dunia fana itu! Dan seberapa mengecewakannya alam dewa ini sebenarnya!

Kisah tentang Dewa Erlang memang tidak banyak, namun setiap kata-katanya membuat Ziyue merasa aneh, seolah ada makna tersembunyi di balik setiap ucapannya—dan jelas bukan makna yang baik.

Tak peduli apa maksud sebenarnya, cukup dengan satu kalimat barusan saja, citra Dewa Erlang di benaknya sudah hancur lebur.

Pria raksasa yang setengah lebih besar dari manusia biasa, yang tanpa malu-malu bermesraan dengan Dewi Ziyan di depan umum, ternyata adalah suami sah Dewi Ziyan, dengan gelar sederhana: Kaisar Penakluk. Tubuhnya besar, bahunya lebar, sekali duduk saja sudah membuat orang ingin membayar upeti perlindungan. Apalagi dengan wajahnya yang tajam, diam saja sudah seperti ada tulisan di muka: “Membawa Aura Pembunuh” di pipi kiri, “Bukan Orang Baik” di pipi kanan, dan di tengah berbunyi: “Mau Digebukin?”

Namun, pria yang layaknya raja iblis ini justru menatap Dewi Ziyan dengan penuh kelembutan, seperti seekor kucing besar yang membalik perutnya minta dielus. Sungguh pemandangan yang membuat mata perih.

Pasangan itu memamerkan kemesraan secara legal dan terbuka, sementara para jomblo hanya bisa menutup mata, atau kalau tidak tahan, mendingan mencungkil sendiri bola matanya.

Dalam kerumunan itu, ada satu orang lagi yang sangat mencolok. Kalau Kaisar Penakluk mencolok karena tinggi, maka yang satu ini mencolok karena pendek.

Orang itu sangat pendek, tingginya hanya sekitar satu meter dua puluh tiga, benar-benar seperti anak kecil yang belum tumbuh sempurna. Wajahnya juga seperti bocah delapan atau sembilan tahun, sangat halus dan cantik, hampir seperti gadis kecil. Dengan dua ikat rambut berdiri di kepala, baju zirah merah cerah yang pas badan, rok perang bermotif bunga teratai, gelang emas di lengan, kain sutra yang membalut tubuh, serta lengan dan kaki kecil yang putih seperti rebung muda, ia benar-benar mirip boneka lucu yang biasa tergambar di kalender tahun baru—membuat siapa pun ingin menggendong dan menciumnya.

Tapi siapa pun yang benar-benar berani mencium bocah ini pasti akan dibakar mulutnya oleh Api Sejati Samadhi, karena dia adalah Panglima Terkemuka Surga, yang sangat dikenal: Pangeran Ketiga Nezha, alias Si Bocah Nakal.

Ekspresi Nezha sangat dingin—sungguh luar biasa dia bisa tetap dingin sambil tertawa-tawa bersama dua teman yang tingginya dua pertiga darinya, ikut bersorak atas penderitaan orang lain.

Jadi, satu lagi tokoh legendaris yang imajinya hancur di hadapan Ziyue.

Tapi tangannya selalu berada di atas senjata andalannya, Lingkaran Semesta dan Kain Pengendali Langit, membuat siapa saja merasa ia bisa kapan saja mengamuk dan memulai perkelahian. Tapi, siapa yang sebenarnya ia waspadai?

Keramaian ini benar-benar membuat Ziyue sedikit pusing, matanya hampir saja buta karena terlalu banyak pemandangan aneh, sampai-sampai ia tak sadar kalau pertarungan sengit di tengah lapangan tadi sudah selesai.

“Hai, Gadis kecil, melamun saja?” Dewi Fuhua sudah muncul di samping Ziyue, melambaikan tangan, menyuruhnya sadar kembali.

“Dewi Fuhua.” Meski di dalam hati Ziyue masih menyimpan kekesalan atas kejutan yang diberikan dewi itu, ia tetap membungkuk dengan sopan.

Sopan dan tenang, sehingga tampak biasa-biasa saja, tidak menonjol.

Namun, justru sikap hormatnya itu membuat para dewa yang sudah berpengalaman seperti pasar tradisional jadi terkejut, bahkan lebih terkejut daripada ketika ia menampar Dewi Fuhua di depan umum.

Dunia dewa itu bebas, independen, penuh kepribadian dan kadang sedikit gila—bukan tempat bagi mereka yang kaku dan penuh aturan. Di antara sekelompok orang kuno, yang berbeda sendiri akan menonjol. Tapi di tengah sekumpulan makhluk penuh gaya dan anti-mainstream, tiba-tiba muncul satu orang yang lurus dan patuh, shock-nya sama seperti memasukkan burung puyuh ke kandang burung unta raksasa.

Gadis ini pasti bukan dari dunia dewa, kan?

Bahkan Dewi Fuhua yang sudah pernah bertemu Ziyue sebelumnya dan sudah siap mental pun tetap sedikit terkejut, meski tampaknya tetap santai. Padahal, dengan pakaian yang awut-awutan, rambut kusut, dan wajah memerah, Dewi Fuhua kini tampak seperti baru selesai berkelahi di tengah hutan, jauh dari kata tenang.

“Kelihatannya kamu lumayan cepat menyesuaikan diri, jadi aku bisa tenang. Orang yang tadi berani mengganggumu sudah aku balas, jangan khawatir—mulai sekarang aku yang akan melindungimu. Waktu aku naik ke sini, ayah ibumu itu cemasnya bukan main! Kalau saja barang-barang dunia fana bisa dibawa ke sini, mungkin seluruh rumahmu sudah mereka bongkar dan bawa ke atas sini.”

Dewi Fuhua tetap saja ceroboh dan blak-blakan, sementara Ziyue harus mengerahkan seluruh kesabaran demi menjaga sikapnya agar tidak secara terang-terangan melemparkan tatapan kesal. Semua ini salah siapa coba?

“Wah, wah, wah, ini pendatang baru ya? Pantas sebelumnya nggak pernah kelihatan. Fuhua, dari mana kau dapat gadis ini?” Pria berpenampilan norak dan suka pamer yang tadi berkelahi dengan Dewi Fuhua kembali mendekat, seolah-olah mau mengajak ribut lagi.

Dewi Fuhua tidak mengecewakan, langsung meludah ke wajahnya. “Pergi sana! Apa urusannya sama kamu?!”

Bahkan pria norak itu pun tidak tahan menghadapi serangan biologis sekelas itu, langsung mundur teratur dan sibuk mencuci muka.

Ziyue hanya melirik, para dewa lain pun mengabaikan saja.

“Gadis kecil, sudah tahu mau tinggal di mana di dunia dewa?” Dewi Fuhua kembali menghadap Ziyue dengan senyum lebar, dan perubahan ekspresinya begitu cepat sampai Ziyue pun tak bisa mengejar.

Sambil berbicara, Dewi Fuhua mencoba merapikan rambutnya, namun semakin diatur malah makin berantakan. Tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu, menjentikkan jari, lalu cahaya merah muda dan taburan bunga jatuh mengelilinginya. Seketika, penampilannya berubah rapi, bersih, dan indah kembali.

Kalau tidak punya kekuatan dewa, siapa yang mau mengurus dirinya? Jangan-jangan ia bisa hidup jadi wanita gila.

Tatapan Ziyue pun jadi kosong, dan ia tak sanggup menahan diri untuk melamun sejenak. Kemungkinan itu memang besar.

“Belum kepikiran ya? Kalau belum, bagaimana kalau tinggal di Istana Fuhua saja? Aku yang membawamu ke sini, tentu harus tanggung jawab dong, hahaha. Sudah, begitu saja ya, setuju.” Tanpa menunggu jawaban Ziyue, Dewi Fuhua sudah memutuskan sendiri.

“Eh, Fuhua, bukannya Istana Fuhua hanya menerima dokter cantik atau tabib berbakat saja? Kok sekarang jadi murah hati banget? Anak ini jadi tabib saja belum tentu!” Pria norak itu muncul lagi, matanya berputar-putar memperhatikan Ziyue, walau tak tampak niat jahat, jelas bukan juga niat baik.

“Istana Fuhua milikku, kenapa harus kamu yang atur? Kalau dokter sudah penuh, masak tambah satu tukang masak saja nggak boleh?” Dewi Fuhua kembali menunjukkan tanda-tanda akan menyerang dengan ‘senjata biologis’, membuat Ziyue tiba-tiba merasa firasat buruk menyergapnya.