Bab 25: Kata Sandi yang Cocok
Hampir sepanjang hari, selain serius mendengarkan pelajaran di kelas, Lin Lu menghabiskan waktunya mengikuti jadwal belajar yang diberikan oleh Li Xingruo. Untuk itu, ia sengaja membeli beberapa buku catatan lepas kecil di warung untuk mencatat soal-soal yang salah dan poin-poin materi yang belum ia pahami. Seratus kosa kata yang menjadi target hari ini juga telah ia hafalkan semuanya.
Lin Lu harus mengakui, selain tampan dan sangat mahir dalam menggambar serta kerajinan tangan, dirinya sebenarnya cukup berbakat dalam hal belajar—setidaknya daya ingatnya luar biasa. Cara menghafal kosa katanya berbeda dari Liu Pang dan yang lain; ia suka membayangkan huruf-huruf sebagai bentuk gambar, seperti sebuah lukisan yang tersusun dari berbagai garis. Omong-omong, tulisan tangannya dalam bahasa Inggris pun sangat indah.
Tentu saja, berbakat saja tak cukup untuk meraih hasil. Bagaimanapun, belajar bukanlah sesuatu yang ia minati, apalagi matematika—ia bahkan berharap matematika tidak pernah ada. Ia curiga bakatnya dalam mengingat pola dan estetika bentuk justru didapat dengan menukar kemampuan matematika yang buruk.
Lin Lu perlahan menyadari, ujian masuk perguruan tinggi bukan hanya ujian kecerdasan, tapi juga ujian ketahanan mental. Tidak ada yang lebih mengasah keteguhan hati selain melakukan hal yang dibenci dan tidak dikuasai.
Setelah sekolah bubar pukul lima tiga puluh, Lin Lu tidak ikut bermain bola bersama Liu Pang dan kawan-kawan. Ia tetap perlu berolahraga, tapi ia memilih lari karena lebih menghemat waktu.
Lintasan atletik sekolah panjangnya empat ratus meter. Sambil berlari, Lin Lu mengulang seratus kosa kata yang ia hafalkan hari ini di dalam benaknya.
Setelah lima putaran, kosa kata selesai diulang, dua kilometer ditempuh, keringat bercucuran, dadanya terasa sesak, dan nafasnya memburu.
Kondisi fisiknya tak bisa dibilang buruk, tapi juga tak istimewa. Setelah ujian masuk universitas, ia bertekad untuk lebih serius berolahraga di liburan musim panas nanti.
Meski asupan gizi generasi sekarang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya, kondisi fisik justru kalah jauh. Bahkan tanpa pacar pun, banyak yang kelewat berlebihan, sampai-sampai banyak anak muda yang jika duduk jongkok terlalu lama, saat berdiri malah pandangannya menghitam.
Setelah berjalan santai satu putaran, Lin Lu kembali ke kelas, mengambil tisu Liu Pang yang disembunyikan di laci untuk mengelap keringat. Tisunya sendiri sudah habis diambil orang lain tak lama setelah diletakkan di meja.
Melihat jam, sudah pukul enam sepuluh. Lin Lu menggendong tas dan meninggalkan kelas untuk pulang.
Baru saja keluar gerbang sekolah, Lin Lu sudah dihadang seseorang.
Baru dua hari lalu namanya digosipkan, hari ini sudah dihadang lagi, Lin Lu merasa ia harus lebih waspada untuk menjaga keselamatan diri.
Untungnya, yang menghadang hanya dua gadis.
Melihat dari usianya, mereka sepertinya masih kelas satu SMA. Pelajaran belum dimulai, tapi kedua gadis itu berdandan sangat rapi, bahkan memakai makeup. Sayang, dada mereka rata.
"Lin Lu kakak kelas~!"
"Kalian siapa...?"
Lin Lu tertegun, sama sekali tak mengingat kedua gadis ini.
"Itu, dari dinding pengakuan cinta..." Gadis di sebelah kiri mengingatkan.
"Dia suka padamu! Minta tambah QQ tapi tak kamu terima, jadi dia sengaja menunggumu pulang!" Gadis di kanan terkekeh.
"Jangan sembarangan bicara..."
"Aduh, sakit!"
Dua adik kelas itu mulai bercanda satu sama lain, Lin Lu pun tak sempat menyela.
"...Jadi, hari ini kalian mau menegurku, ya?"
"Bukan, bukan!" Kedua gadis itu akhirnya berhenti bercanda dan berdiri di depan Lin Lu. Gadis di kiri bicara lebih dulu, "Kak Lin Lu, aku suka padamu!"
Lin Lu terdiam.
Gadis di kanan langsung menyusul, "Kak Lin Lu, aku juga suka padamu!"
Lin Lu, "…??"
Lalu, keduanya kompak berkata, "Jadi, kami ingin menambah kontak WeChat kakak!"
"Kalian sedang menggodaku, ya?"
"Kami serius, lho!"
Agar tak menolak mereka mentah-mentah dan melukai hati adik-adik kelas itu, Lin Lu berpikir sejenak lalu bertanya, "Apa huruf kelima dari belakang pada kata compromise?"
"Eh?"
"Compromise, artinya kompromi," Lin Lu mengingatkan.
"Umm..." Dua gadis itu langsung serius, buru-buru mengeluarkan ponsel untuk mencari jawabannya, tapi ketika mereka mengangkat kepala, Lin Lu sudah naik bus dan kabur.
Yah, meskipun gagal menambah kontak WeChat kakak Lin Lu, setidaknya mereka jadi benar-benar mengingat kata compromise hari ini.
…
Peristiwa kecil tadi tak begitu dipikirkan oleh Lin Lu. Sejak SMP, ia sudah sering menerima pengakuan cinta.
Waktu SD sih tidak, sebab dulu ia masih gemuk. Hanya yang pernah mengalaminya yang tahu betapa tolerannya masyarakat pada orang yang berwajah menarik.
Memang, wajah tampan bisa menimbulkan ketertarikan, tapi jika hanya karena itu langsung menyukai seseorang, rasanya terlalu dangkal. Namun, begitulah masa muda.
Untuk bisa mendapat tiket masuk ke dunia cinta, setidaknya harus bisa menjawab huruf kelima dari belakang kata compromise tanpa berpikir, bukan?
Bus di jam segini penuh sesak. Begitu naik, ia berjalan perlahan ke arah pintu belakang, lalu berdiri menghadap pintu, satu tangan memegang tiang, tangan lain mengambil catatan saku dari saku celana untuk membaca ulang catatan hari ini.
Ia merasa seperti ada tangan kecil menyentuhnya pelan dari belakang, tapi Lin Lu tak terlalu peduli, hanya merapikan tali tas dan sedikit maju ke depan.
Namun tangan kecil itu belum juga menyerah, bahkan mencubit lengannya lembut meski terhalang seragam.
Lin Lu akhirnya menoleh, matanya membesar sedikit. Melihat gadis di belakangnya yang menahan tawa, sudut bibirnya pun melunak.
"Kak Xingruo? Kebetulan sekali."
Yang jahil itu adalah Li Xingruo. Usai kerja, ia menumpang mobil Zhu Hui ke Jalan Wenxing, lalu naik bus dari sana, menghemat banyak waktu perjalanan, dan tak menyangka bisa bertemu Lin Lu yang baru pulang sekolah.
Ia sendiri agak terkejut, sudah lebih dulu melihat Lin Lu dari luar, tapi cowok ini rupanya tak terbiasa memperhatikan sekitar. Setelah naik bus, ia bahkan tak melihatnya.
"Iya, sudah hampir jam enam dua puluh, kamu baru pulang sekolah, ya?"
"Tidak, aku tadi baru saja lari, jadi keluarnya agak telat."
Setelah seharian melihat gadis-gadis remaja, saat kembali melihat Li Xingruo, rasanya sungguh berbeda.
Entah dari nada bicaranya yang lembut, gaya berpakaiannya yang anggun, atau bentuk tubuhnya yang proporsional dan berlekuk, semuanya membuat Lin Lu merasa jauh lebih nyaman.
"Serius? Jangan bohong sama kakak, lho," Li Xingruo memperpanjang nada bicaranya, tersenyum agak menggoda, seolah berkata, ‘semua rahasiamu sudah kuketahui’.
"Tentu saja, kalau tidak percaya, coba cium aku, masih bau keringat, kok."
Lin Lu mendekat, menarik kerah baju, dan aroma samar peluhnya pun tercium ke hidung Li Xingruo.
Anehnya, Li Xingruo tidak merasa bau, malah... justru enak dicium.
Baru kali ini ia mencium aroma laki-laki dari jarak sedekat ini, membuat jantungnya berdegup lebih cepat, mirip aroma anggur muda yang memabukkan.
"Aku nggak mau cium~!"
Segera sadar, Li Xingruo buru-buru mengganti topik, "Tadi aku lihat kamu ngobrol sama dua cewek, jangan-jangan...!"
"Mereka cuma tanya sesuatu," Lin Lu baru ingat.
"Tanya apa?" tanya Li Xingruo penasaran.
"Apa huruf kelima dari belakang kata compromise?"
"O."
Li Xingruo menjawab tanpa pikir panjang, tak sadar apa maksud pertanyaannya. Benarkah sekarang ia sudah mulai ada jarak dengan anak-anak muda?
Melihat Lin Lu hanya tersenyum dan tak berkata apa-apa, Li Xingruo merasa mungkin jawabannya salah, lalu memegangi dagu mungilnya, berpikir sejenak, lalu matanya berbinar karena merasa menemukan kunci jawaban.
"Itu telur yang dikeluarkan burung dara, kan?"
"...???"
"Eh? Masih salah juga ya..."