Bab 28: Merayakan Tahun Baru di Rumah Kakak
Sudah begitu lama sejak terakhir kali Lin Lu pergi ke pasar, sampai-sampai ia sendiri lupa sudah berapa tahun berlalu. Bagaimanapun, ia memang tidak bisa memasak, dan juga tak punya kegemaran jalan-jalan santai ke pasar. Pasar itu telah beberapa kali direnovasi, tata letaknya kini sudah berbeda dibandingkan bertahun-tahun lalu, lebih bersih dan rapi. Dulu, di luar pasar ada sebuah mini market tua, di depannya terparkir mobil-mobilan koin; saat ibunya berbelanja, ia akan mengeluarkan dua yuan supaya Lin Lu bisa duduk dan bermain sendiri di mobil-mobilan itu, sambil mendendangkan lagu: “Ayah punya ayah namanya Kakek~ Ayah punya ibu namanya Nenek~”
Sekarang, mini market itu sudah dibongkar, digantikan oleh toko buah-buahan, sementara kios-kios lain di sekitarnya juga sudah berubah rupa. Walaupun tumbuh besar di kota besar, Lin Lu sering kali tidak benar-benar merasakan perubahan kota itu. Seperti halnya semua orang pernah melihat orang tua, pernah melihat bunga bermekaran, tapi proses menua dan mekar itu terjadi perlahan, sunyi, tanpa terasa, tiba-tiba sadar waktu sudah berlalu begitu lama.
Tanpa melihat foto, Lin Lu pun sulit benar-benar mengingat rupa ibunya saat muda. Ia hanya ingat, dulu ibunya berambut panjang. Entah sejak tahun berapa, ibunya mulai berambut pendek, model klasik yang kini jadi ciri khasnya.
Melirik ke arah Li Xingruo yang penuh semangat muda di sampingnya, Lin Lu tak bisa menahan diri untuk merasa kagum. Dulu, ibunya juga pernah memiliki masa muda seindah ini.
Pengalaman hidup Lin Lu yang lebih rumit dari teman-teman seusianya, telah mengendap dalam dirinya, diam-diam membentuknya menjadi pribadi yang lebih halus dan dewasa.
“Jadi, pasar itu di sini ya, lumayan besar juga!” Li Xingruo menatap penasaran ke arah lingkungan sekitar pasar.
“Kalau dibandingkan sama pasar di dekat rumah Xingruo, gimana?” Lin Lu mengajaknya masuk dari gerbang timur pasar. Dulu, pintu masuknya terbuka lebar, entah sejak kapan dipasang pagar pembatas, mungkin sisa-sisa aturan pencegahan penyakit dulu, bahkan di tembok masih tertempel petunjuk scan kode kesehatan yang belum dicopot.
“Hmm, di tempatku itu cuma pasar kecil khas kota kecamatan, malah lebih mirip pasar tumpah, banyak pedagang kaki lima di luar, di dalam pasar aslinya malah sempit.”
“Pasti lebih ramai dong pasar tumpah itu?” tanya Lin Lu penasaran.
“Dulu memang ramai, apalagi pas hari pasar, jalannya sempit, dipenuhi pejalan kaki, motor, becak. Tapi sekarang sudah sepi, anak muda di kota kecamatan sudah banyak yang merantau ke kota besar. Di hari biasa, jarang kelihatan anak muda, tapi nanti kalau Tahun Baru, semua yang merantau pulang, nah itu baru ramai! Ada yang jualan tulisan Imlek, kebutuhan tahun baru, kertas sembahyang, dupa, kembang api. Eh, Lin Lu, gimana suasana Tahun Baru di sini?”
“Justru kebalikannya, sehari-hari lumayan ramai, tapi pas Tahun Baru kota jadi sepi, kendaraan dan orang di jalan berkurang, suasananya tenang.”
“Kalau kamu sendiri gimana?”
“Aku?”
Bagi anak kota seperti dirinya, apalagi dengan kondisi keluarga yang seperti itu, perayaan Tahun Baru malah terasa membosankan. Malam tahun baru makan bersama di rumah, hari pertama Imlek ikut ibu dan adik perempuan ke rumah ayah sambung, hari kedua ke rumah nenek dari ibu, hari ketiga ke rumah ayah kandung…
Kelihatannya bisa ke mana-mana, tapi selain rumah sendiri, Lin Lu selalu merasa canggung di tempat lain. Lama-lama, kecuali kalau memang harus, ia memilih tidak ikut silaturahmi, lebih baik mengajak adik-adiknya bermain, membiarkan ibu dan Pak Wen yang mengurus semuanya.
“Aku juga bosan, kok,” Lin Lu tidak mau menjelaskan lebih jauh.
“Oh begitu,”
Li Xingruo mengangguk, teringat dengan keadaan Lin Lu, lalu tertawa ringan, “Kalau ada waktu, mainlah ke kota kecamatanku, nanti kakak ajak kamu main kembang api!”
“Jangan bohong, ya! Aku anaknya polos, kalau kamu undang, nanti benar-benar datang, lho! Di Kota Wutong, Liangxi kan?”
“……”
Kok kamu nggak jawab seperti biasanya, sih! Kan harusnya bilang ‘lain kali pasti main’!
“……Iya! Aku nggak bohong!”
“Kayaknya kamu terpaksa, ya?”
“Nggak, nggak.”
“Kalau aku ke sana, nginap di mana?”
“……Di rumahku! Kamarnya banyak!”
“Xingruo, kamu baik banget.”
Entah karena sapaan ‘Kak Xingruo’ yang terdengar manis, atau senyum polos Lin Lu yang sulit ditolak, Li Xingruo tiba-tiba merasa malu dan menunduk, hatinya geli, tak nyaman, apakah ini reaksi yang salah?
“Haha, kan sudah dibilang, kalau butuh bantuan, tinggal cari kakak saja!” Li Xingruo memutar-mutar ujung rambut di telinga, bergaya kakak yang bijak.
“Tapi kalau aku Tahun Baru ke rumah Xingruo, jangan-jangan Om sama Tante bakal ngira aku pacar kamu?”
“……?!”
Melihat Li Xingruo tertegun, tampak serius memikirkan solusinya, Lin Lu tertawa, “Bercanda, kok! Kalau benar main ke sana, pasti aku pakai seragam sekolah!”
“……Benar! Kamu pakai seragam sekolah saja! Pasti ayah ibuku nggak salah paham!”
Gadis itu langsung merasa lega, menganggap itu ide brilian.
Entah Li Xingruo sungguhan atau hanya bercanda, Lin Lu memang tak berniat benar-benar berkunjung, tapi saat itu ia merasa sangat hangat.
Pasar di sore hari sekitar pukul enam berbeda dengan pagi. Pembelinya kebanyakan anak muda dan paruh baya, sebagian besar baru saja pulang kerja. Kalau pagi, isinya lebih banyak ibu rumah tangga dan orang tua.
Karena tidak bisa beli bahan makanan apalagi memasak, Lin Lu hanya bisa jadi porter, mengikuti Li Xingruo berbelanja.
“Nona, ayo lihat-lihat, sayurnya baru! Sore tadi baru datang!”
“Mau tulang besar buat adikmu, Nona? Buat sup enak, lho! Anak laki-laki SMA kan? Biar sehat!”
“Mau udang, nggak, Nona? Masih hidup, loncat-loncat! Pagi empat puluh, sekarang tiga puluh sembilan buat kamu!”
Penjual-penjualnya juga lebih ramah dibanding pagi hari, maklum sebentar lagi tutup, harga daging dan sayur juga lebih murah. Jangan remehkan potongan harga seribu-dua ribu, banyak orang menggantungkan hidup pada selisih itu.
Li Xingruo merasa lucu mendengarnya, lalu menoleh pada Lin Lu, “Mereka benar-benar mengira kamu adikku!”
“Mau aku lepas seragam sekolah?”
“Jangan! Nanti aku nggak mau ajak kamu lagi.” Li Xingruo buru-buru menolak.
“Sepertinya Kak Xingruo suka ya punya adik buat bantuin bawa belanja?”
“Lumayanlah~”
Sampai di lapak daging babi, Li Xingruo membungkuk, satu tangan menyingkap rambut panjangnya agar tidak kena kotoran di meja, tangan satunya mengambil penjepit, memilih-milih daging dan iga, kadang mendekat mencium bau daging, tampak sangat ahli.
“Semuanya baru, Nona, tenang saja!”
“Kalau daging paha depan sama iga, berapa harganya?”
“Paha depan tujuh belas, iga dua puluh delapan, pagi tadi masih mahal dua ribu!”
Sekarang harga pasar sudah transparan, kecuali beli borongan, penjual jarang mau ditawar. Li Xingruo berpikir sejenak, lalu mengumpulkan daging pilihannya, pedagang wanita langsung menimbang.
“Dua puluh enam ribu lima tambah tiga puluh ribu, Nona bayar lima puluh enam ribu saja!”
“Makasih, tolong iganya dipotong kecil-kecil, jangan terlalu besar.”
“Bisa!”
Belanja di daerah selatan memang enak, beli daging lima ribu pun penjualnya senang melayani, minta potong-potong, cincang, bahkan dibuatkan isian pun dilayani dengan senyum.
“Jangan-jangan beli kebanyakan, nggak habis, kan…” Lin Lu tak bisa membantu, hanya berdiri di sampingnya.
“Nggak kok, kan ada kulkas. Beli sekaligus, jadi nggak perlu bolak-balik ke pasar.”
Karena harus kerja, Li Xingruo belum tentu selalu sempat ke pasar. Tapi beli terlalu banyak juga tidak baik, jadi ia hitung-hitung, cukup untuk dua-tiga hari.
Eh, tanpa sadar Lin Lu juga ia masukkan hitungan. Kalau hanya makan sendiri, daging sebanyak itu bisa buat lauk seminggu.
“Nih, Nona punyamu.”
“Sini, aku yang bawa.”
Pedagang wanita menyerahkan daging dalam plastik, Lin Lu langsung datang mengambil, jadi porter sejati.
“Itu adikmu ya? Kalian serasi banget! Ganteng-ganteng!”
“Iya, Ibu memang pintar menilai orang~”
Li Xingruo tertawa nakal, rasanya menyenangkan punya ‘adik’ yang bisa dibujuk jadi porter dan pengawal pribadi.
.
.