Bab 4: Gadis Pekerja Kantoran yang Tetap Berjuang Hari Ini
Setelah memindahkan koper ke dalam rumah, Li Xingru pun menghela napas panjang penuh kelegaan.
Dia adalah mahasiswi tingkat akhir di Universitas Selatan Su, sama seperti teman-teman seangkatannya, ia pun mencari pekerjaan magang selama liburan musim dingin. Semester terakhir ini, ia hampir tidak lagi tinggal di kampus.
Meski orang bilang Tahun Baru belum benar-benar usai sebelum Cap Go Meh, sebagai calon karyawan baru yang akan segera memasuki dunia kerja, Li Xingru sudah kembali dari kampung halaman ke kampus kemarin.
Seharian penuh ia habiskan untuk membereskan barang-barang dari asrama, dan hari ini akhirnya pindah ke kontrakan barunya. Inilah awal dari hidup mandirinya untuk pertama kali, perasaannya terasa aneh sekaligus penuh harapan!
Sebagai lulusan jurusan sastra Universitas Su, pekerjaan yang didapatnya adalah magang sebagai editor. Tugas sehari-harinya nanti seputar menelaah naskah, menghubungi penulis, hingga membuat laporan.
Besok ia akan mulai bekerja! Yah, meski belum benar-benar mulai, karena besok ia harus mengikuti pelatihan selama empat hari lebih dulu. Intinya, ia harus mulai mengubah pola pikirnya.
Memikirkan hal itu, Li Xingru sedikit gugup. Di grup kecil asrama mereka, teman-temannya ada yang lanjut kuliah S2, ada pula yang sudah mulai bekerja lebih awal. Ia termasuk yang paling akhir memulai, dan setiap hari mendengar keluhan teman-temannya tentang kerjaan di grup—ternyata menjadi orang dewasa di dunia kerja tidaklah mudah.
Li Xingru sudah menyiapkan mental. Semoga para penulis rajin mengumpulkan naskah, semoga atasan tidak terlalu bodoh, semoga lembur tidak terlalu malam sehingga ia masih sempat naik bus terakhir pulang...
Setelah menaruh koper di sudut, Li Xingru berkeliling melihat-lihat suasana rumah.
Unit apartemen mungil seluas enam puluh meter persegi dengan dua kamar dan satu ruang keluarga. Sebenarnya akan lebih baik jika bisa berbagi sewa dengan sahabat, sayangnya tempat kerja mereka terlalu jauh, jadi ia harus menyewa sendirian.
Sewa rumah ini tidak murah. Di daerah Selatan Su, apartemen seperti ini saja sudah dua jutaan per bulan, sementara gaji magangnya hanya tiga setengah juta, sempat terpikir untuk mencari kontrakan di perkampungan kota yang lebih murah, tapi orang tuanya tidak setuju. Mereka meminta bantuan bibi untuk mencarikan rumah ini, menyuruhnya tinggal dengan tenang dan tetap mengirim uang bulanan seperti biasa.
Hal ini justru membuat Li Xingru merasa kurang nyaman. Sudah magang pun masih menerima uang bulanan, membuatnya merasa tertekan. Ia harus berusaha lebih keras agar bisa segera mandiri dan bertahan di kota besar ini.
Penyewa sebelumnya sudah pindah, dan pemilik rumah juga sudah membersihkan, jadi rumahnya cukup bersih. Perabotan seperti kulkas, AC, kompor, pemanas air, mesin cuci semuanya lengkap, jadi tidak perlu beli lagi—bisa langsung ditempati.
Baru saja pindah hari ini, masak sendiri jelas belum memungkinkan, ditambah lagi masih banyak perlengkapan hidup yang kurang.
Li Xingru pun memasukkan alamat baru di aplikasi, memesan makanan, lalu menelepon ibunya lewat WeChat untuk memberi kabar.
“Halo, Bu~!”
“Xingru, sudah makan?”
“Belum, baru saja pindahin barang dari asrama ke kontrakan, sudah pesan makanan online, nanti makan. Mama sendiri sudah makan?”
“Baru saja masak nasi. Kamu jangan sering-sering makan makanan luar, kalau sempat masak sendiri, lebih sehat.”
“Iya, Ma.”
“Kamu sudah sampai di kontrakan? Coba kirim video, Mama mau lihat.”
“Baik, nih, lihat sendiri—”
Li Xingru mengganti panggilan suara menjadi video, dan tampak wajah ibunya di layar. Saat itu ibunya sedang di dapur menyiapkan masakan, melihat video, langsung menaruh pekerjaannya dan dengan penuh rasa ingin tahu memperhatikan rumah kontrakan putrinya.
“Ini ruang tamu, kamar yang lebih besar aku tempati, ini kamar mandi, ini dapur…”
Rumahnya kecil, Li Xingru hanya perlu berjalan sebentar sambil membawa ponsel untuk memperlihatkan semuanya.
“Kok kecil sekali?”
“Nggak kecil, kok! Teman-temanku yang lain malah kontrakannya lebih kecil, nggak ada ruang tamu segala, ini sudah bagus!”
“Kamu nggak mau tinggal di rumah bibimu, padahal sudah disuruh.”
“Aduh, Bu, aku kan bukan anak kecil lagi, sekarang anak SMA saja harus panggil aku kakak, tinggal di rumah bibi juga nggak enak, satu rumah rame, aku nggak mau merepotkan bibi. Di sini juga aman, jadi nggak perlu khawatir.”
Li Xingru manja pada ibunya. Kalau Lin Lu melihatnya, pasti melongo—padahal biasanya ia terlihat dingin dan dewasa!
“Pokoknya, Mama nggak mau tahu, tinggal sendiri harus hati-hati. Pulang rumah jangan lupa kunci pintu, dengar?”
“Iya, tahu.”
“Bagaimana tetangganya? Ada yang kelihatan aneh nggak?”
“Nggak ada, semuanya baik-baik saja.”
“Baguslah. Usahakan akrab sama tetangga, orang bilang tetangga dekat lebih baik dari saudara jauh. Kalau ada apa-apa bisa saling bantu. Tapi kalau ada yang niatnya nggak baik, jangan bergaul.”
“Iya, Ma.”
“Perusahaan tempat kamu kerja jauh nggak dari kontrakan? Jalan kaki atau naik bus?”
“Dekat, kok! Naik bus cuma empat halte. Tapi empat hari pelatihan besok harus ke kantor cabang, agak jauh…”
“Kamu sudah hapal jalan belum? Telat nggak apa-apa, jangan sampai tersesat.”
“Sekarang kan ada GPS, Bu! Dari asrama ke sini saja gampang, aku sudah besar, nggak mungkin nyasar!”
Ibunya tertawa geli di video, lalu membuka aib lama putrinya tanpa ampun—
“Masih bisa ngomong begitu? Waktu SMA, kamu ke rumah bibi sendiri, sok mandiri jalan-jalan, eh malah nyasar, duduk di taman seharian nggak tahu jalan pulang!”
“Itu… itu waktu itu HP aku habis baterai!” Li Xingru malu sekali.
“Sudah, sudah. Mama nggak mau cerewet lagi. Sekarang cari kerja susah, bisa dapat perusahaan yang kamu suka itu bagus. Magang itu cari pengalaman, soal gaji nggak usah dipikirkan. Kalau kurang, bilang sama Mama. Di kantor juga usahakan akrab sama rekan, ramah, cerdas, kalau nggak ngerti apa-apa, banyak bertanya, siapa tahu bisa disukai atasan, cepat diangkat jadi karyawan tetap. Tapi jangan terlalu ngoyo, Mama sering baca berita anak muda kenapa-kenapa. Kalau terlalu lelah, nggak usah tinggal di Selatan Su, pulang saja. Mama dan Papa nggak perlu kamu cari uang, yang penting sehat, mengerti?”
Petuah ibu yang sudah dihafal di luar kepala, sudah berulang kali didengar Li Xingru di rumah. Namun, setiap kali mendengarnya, hatinya tetap terasa hangat. Ia pun menjawab manis, “Iya, Ma~!”
“Kamu sendirian di luar, nggak ada yang jagain. Kalau ketemu yang cocok, boleh pacaran juga!”
“Ma~!”
Baru saja haru, sekarang Li Xingru langsung kehabisan kata: “Waktu masih sekolah Mama melarang pacaran, sekarang baru magang sudah disuruh cari pasangan?”
“Aku nggak pernah melarang, itu kan kamu saja yang belum ketemu yang cocok, malah nyalahin Mama?”
“Pokoknya… sekarang belum mau pacaran, yang penting kerja dulu!”
“Terserah kamu saja, yang penting jangan lupa banyak minum air putih. Dari dulu disuruh minum nggak pernah nurut.”
“Iya, nih, aku bawa botol air segede ini!”
“Tapi air di kontrakan itu bersih nggak ya, kalau ada bau…”
“Ma, HP aku hampir mati! Sudah dulu, ya, dadah!”
Setelah menutup telepon, barulah Li Xingru bisa bernapas lega. Benar kata orang, ibu di seluruh dunia itu sama, bilang “Mama nggak cerewet lagi,” padahal sebenarnya sedang menyiapkan sederet nasihat berikutnya. Satu bab berlalu tanpa melakukan apa-apa selain mendengarkan ibu bercerita.
Setelah telepon berakhir, rumah kecil itu terasa sangat sunyi, hanya ia seorang diri. Lantainya cukup tinggi, bahkan jika membuka jendela pun suara dari bawah tak terdengar, membuat Li Xingru merasakan kesunyian khas saat baru memasuki dunia kerja.
Ternyata benar kata para senior, melangkah ke dunia nyata adalah belajar membiasakan diri dengan kesepian.
Mumpung makanan belum datang, Li Xingru mulai membereskan koper dan membersihkan rumah. Ia memang suka kebersihan, jadi semuanya harus dibersihkan lagi agar nyaman ditempati.
Perutnya mulai lapar, ia mengambil permen dari tas dan memakannya. Tanpa sadar, kenangan pahit yang baru saja diceritakan ibunya melintas kembali di benaknya.
Ia masih ingat hari itu, tersesat hingga tiba di sebuah taman, lalu bertemu seorang anak laki-laki.
Waktu itu ia mengira anak itu juga tersesat, ternyata anak itu bercerai dari orang tuanya. Li Xingru pun malu mengaku dirinya juga tersesat, akhirnya dua anak yang bernasib berbeda itu duduk bersama menunggu di taman, berjemur seharian…
Entah bagaimana kabar anak itu sekarang, yang diingat hanya ia adalah anak laki-laki gemuk yang lucu.
Anak gemuk yang lucu… Mungkin sekarang sudah berubah, tidak lucu lagi.