Bab 65: Akan Kugelitiki Kau! (Mohon Langganannya!)

Tetangga Hari Ini Juga Sangat Menggemaskan Ciuman di Sudut Jalan 3784kata 2026-02-07 11:33:40

"Sup ayam kelapa ini enak sekali! Udang goreng polos, ayam rebus jamur, dan bakso kepiting juga lezat! Rasanya seperti masakan ibu!"
Setelah kenyang makan dan minum, Lintang Rembulan bersandar di kursi, mengelus perut kecilnya yang membuncit, lalu meluruskan kakinya dengan penuh kepuasan, jari-jari kakinya bergoyang santai.

"Ibu aku masakannya juga bisa bikin Kak Lintang merasa seperti makan masakan ibu sendiri?"
Rimba Jalan juga sudah sangat kenyang, meniru gayanya, meregangkan tubuh dengan santai.

"Soalnya aku bisa merasakan ketulusan hati di dalam masakannya!" Lintang menggambarkan dengan gaya puitis.

"Kalau begitu, bagaimana kalau Kak Lintang sekalian anggap ibuku sebagai ibu sendiri saja? Lagipula ibuku juga suka banget sama kamu, kamu jadi kakakku beneran deh." ujar Rimba sembarangan.

"Hmm..."
Melihat Lintang benar-benar seperti sedang berpikir serius, Rimba jadi terkejut dan buru-buru menghentikan candanya.

Ini bahaya! Dia kan punya niat ingin mendekati Kak Lintang di masa depan! Kalau benar-benar jadi kakak-adik, bukankah itu bencana besar?

"Aku cuma bercanda! Ibuku kan sudah punya dua anak perempuan, nggak kekurangan anak perempuan sama sekali!"

"Siapa juga yang bakal anggap serius hal kayak gitu!"
Lintang menubruk bahu Rimba, tubuhnya bergoyang-goyang seperti boneka tumbler.

Seiring kedekatan mereka, gerakan fisik seperti bercanda antar kakak-adik jadi makin sering, di depan orang yang dekat, memang gadis itu jadi lebih ekspresif.

Semua laki-laki tahu kalau punya kakak perempuan itu baik dan menyenangkan, tapi kalau mau mendekati kakak perempuan, sebenarnya sangat sulit.

Soalnya, kebanyakan perempuan tidak terlalu terbuka pada hubungan adik-kakak yang berubah jadi asmara. Beda umur jelas, seringnya mereka hanya menganggap kamu adik, dan banyak laki-laki sadar akan hal ini, jadi ingin segera mengubah pandangan kakaknya. Tapi faktanya, semakin ngotot membuktikan diri sudah dewasa, justru hasilnya bisa sebaliknya, jangankan jadi pasangan, jadi kakak-adik pun bisa tidak berhasil.

Tentu saja, Rimba sendiri juga belum berpengalaman, dia hanya menikmati waktu bersama Kak Lintang, toh waktu masih panjang, biar semua mengalir saja.

Justru karena sikap santainya itu, Lintang pun senang berada di dekatnya. Memang, perempuan itu seperti rusa kecil yang menggemaskan, dikejar akan lari, tapi jika kamu berhenti, dia akan menoleh. Kalau kamu menanam bunga dan rumput, dia malah bisa datang sendiri untuk bermain bersamamu.

"Cuci piring yuk~"
Lintang meregangkan tubuh mungilnya, menggeser kursi dan berdiri membereskan peralatan makan, sekaligus mencuci kotak makan dan termos yang dibawa Rimba.

"Biar aku saja, biasanya juga aku yang cuci piring."

"Kamu cepatlah belajar! Hati-hati besok nilai ujianmu jelek!"
Lintang mengambil setumpuk bahan belajar milik Rimba dan menaruhnya di depannya dengan suara berisik.

"Matematika! Matematika! Jangan cuma dapat nilai lima puluhan! Kalau nggak, aku bakal pakai gantungan baju buat mukul kamu."

"Lebih galak dari ibuku sendiri..."
Rimba menjawab, "Tenang saja, Kak Lintang, aku sudah merencanakan mau nonton film apa bareng kamu akhir pekan nanti."

Dia memang berbicara santai, tapi tangannya langsung mengambil lembar latihan matematika dan mulai mengerjakan.

Setengah bulan ini, fokus belajarnya memang matematika. Di pelajaran ini, Rimba mengakui dirinya tidak terlalu berbakat. Selain minta bantuan Lintang buat menguatkan dasar, sisanya harus rajin latihan soal sendiri.

Untungnya, hasilnya mulai terlihat. Akhir-akhir ini setiap dapat soal dari guru, dia hitung sendiri nilainya, rata-rata sudah bisa mencapai delapan puluh. Ini membuatnya jadi lebih percaya diri.

Lintang menggulung lengan bajunya dan mencuci piring di dapur. Ia mengenakan baju santai di rumah, rambut panjangnya terurai lembut hingga pinggang. Kadang busa sabun menempel di pergelangan tangannya yang putih dan halus. Pemandangan punggungnya yang seperti itu, sungguh tak pernah bosan dipandang Rimba.

"Sombong sekali, hati-hati saja ya, biasanya ujian pertama itu paling susah. Kalau kamu gagal, Kakak bisa hemat satu tiket nonton film~"

Kata-katanya seolah berharap Rimba gagal agar ia bisa berhemat tiket film, tapi di matanya tersirat kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Ia malah terlihat lebih peduli pada hasil ujian Rimba daripada dirinya sendiri.

"Sayang sekali! Aku yang baik hati ini tidak mau menghematkan uang Kak Lintang kali ini!"

"Hmph, semoga saja!"

Sambil merapikan soal-soal yang keliru hari ini, Rimba bertanya, "Kak, gimana kerjaanmu akhir-akhir ini? Masih jaga mesin fotokopi?"

"Jangan remehkan aku, sekarang aku sudah mulai mengerjakan tugas-tugas keren!"

"Masa sih?"

"Tentu saja!"

Rimba menatapnya penasaran.

Sejak pelatihan minggu pertama selesai, Lintang mulai kerja di kantor pusat. Kantor pusat dekat dari rumah, biasanya dia baru berangkat lewat jam delapan, jadi mereka sudah tak pernah lagi kebetulan bertemu pagi hari, tapi kadang siang mereka pulang naik bus yang sama.

Rimba tahu Lintang adalah gadis yang gigih, juga penasaran apakah pekerjaannya lancar. Soalnya, di minggu pertama di kantor pusat, dia bilang masih banyak kerjaan jaga mesin fotokopi dan bikin laporan, jauh dari pekerjaan idealnya.

Karena itu, beberapa waktu lalu Lintang sering tampak lelah sepulang kerja. Hanya saat bersama Rimba, ia berusaha tampil ceria.

Untungnya, Lintang bukan tipe yang harus dihibur orang lain untuk bangkit. Setelah dua-tiga hari menata diri, ia kembali ceria seperti biasa.

Mungkin justru karena pundaknya yang ramping, rambutnya yang lembut, penampilannya yang kelihatan lembut dan kalem, tapi dari dalam dirinya memancar kekuatan luar biasa yang tak pernah bisa dikalahkan, itulah yang membuat Rimba begitu terpesona padanya.

"Apa sih tugas kerennya itu?" tanya Rimba.

"Menyusun data karya yang masuk, data karya yang sudah kontrak, memantau perkembangan karya penting, menganalisis data rekomendasi, sampai merekomendasikan karya bagus untuk kontrak! Aku sekarang bisa akses perpustakaan naskah!"

Meski masih pekerjaan dasar seorang editor, jelas ini sudah naik satu tingkat dibanding jaga mesin fotokopi.

Saat menceritakan ini pada Rimba, Lintang bahkan berhenti mencuci piring sejenak, wajah mungilnya berseri-seri penuh semangat, tak henti-hentinya bercerita soal pekerjaannya.

Singkatnya, hal yang paling membuatnya bersemangat adalah ia kini boleh merekomendasikan karya bagus untuk dikontrak. Walau belum punya wewenang menandatangani langsung, ia benar-benar merasa sudah menjadi editor.

Saat ia bercerita, Rimba mendengarkan serius, tersenyum memandangnya, bahkan pena di tangannya ikut terhenti.

Terseret emosi cerianya, pundak Rimba yang tadinya tegang pun jadi rileks, senyumnya menular.

"Selamat ya! Jangan-jangan Kak Lintang akan jadi editor bintang!"

"Ah, masih jauh banget~!"

Setelah menceritakan semua itu, suasana hati Lintang jadi sangat baik. Ia kembali melanjutkan mencuci piring yang tadi terhenti. Bisa membagikan kebahagiaan pada orang lain, dan orang itu ikut senang untuk dirinya, rasanya benar-benar luar biasa. Tatapan kagum Rimba membuatnya sebagai kakak merasa sangat bangga.

"Dengerin, dengerin—"

Baru beberapa detik mencuci, Lintang tak tahan ingin berbagi lagi sesuatu yang sangat ingin ia ceritakan pada Rimba.

"Tahu nggak siapa editor yang membimbing aku?"

"Guru kamu ya?"

"Benar! Guru aku!"

Lintang terkekeh, lalu menyadari, "Maksudku, kamu tahu nggak siapa guru yang membimbing aku?"

"Siapa?"

"Haha, Jeruk Hujan!"

"Itu editor yang melahirkan banyak penulis hebat itu?!"

"Kamu tahu juga?"

"Aku juga baca banyak kok."

"Benar! Itu dia!"
Lintang berseru girang, tapi Rimba merasa di balik kegembiraannya ada sedikit rasa bangga yang nakal. Benar saja, detik berikutnya ia mengungkapkan kebanggaannya.

"Hehe, dulu aku pernah berkali-kali kirim naskah ke dia, tapi selalu ditolak. Pasti guruku nggak nyangka, anak yang dulu dia tolak, sekarang malah jadi rekan kerjanya, bahkan jadi muridnya!"

Kalimat yang ia tahan di kerongkongan, Rimba sudah bisa menebaknya: Tiga puluh tahun roda berputar! Suatu saat aku, Lintang Rembulan, akan bertahan, berjuang, menguras semua ilmu Jeruk Hujan, dan nanti... hmhm!

Eh? Aneh, padahal Lintang tidak mengucap kalimat itu, tapi Rimba bisa membayangkan betul ekspresinya saat mengatakannya, sungguh tak bisa dipercaya.

"Jadi..." Rimba menatapnya sambil tersenyum nakal, memperpanjang suaranya.

"Jadi—!" Mata Lintang berkilat semakin terang!

"Jadi Kak Lintang diam-diam juga menulis cerita, ya?" tanya Rimba.

"..."

Terlihat jelas, gadis yang tadi begitu bersemangat, mendadak membeku, seperti baru sadar lupa menaikkan resleting celananya.

Waduh! Ketahuan juga kalau dirinya adalah penulis gagal! Ternyata benar, kegembiraan yang berlebihan memang berujung petaka!

"Ng-nggak! Bukan!" Ia buru-buru membantah.

"Tadi katanya pernah kirim naskah ke Jeruk Hujan dan ditolak!"

"Itu, itu aku bantuin teman!"

"Kak Lintang, ayo dong tunjukin tulisannya~"

"Nggak, nggak! Sekarang aku nggak nulis!"

"Oh, berarti dulu pernah nulis ya? Wah, aku mau email Jeruk Hujan, kasih tahu muridnya itu mata-mata."

"Aduh! Kamu mau mati ya!"

Rimba pura-pura mengambil ponsel dan mencari kontak editornya untuk mengirim email pengaduan. Lintang yang ada di dapur langsung tidak bisa diam, berteriak lucu dan berlari keluar.

Tak peduli lagi apakah gerakannya terlalu dekat atau tidak, ia langsung menerkam Rimba dan menindihnya di atas meja, tangan basahnya merogoh ke kantong Rimba mencari ponsel.

"Kasih ke aku..."

"Nih, nih, ambillah! Ampuni aku..."

Setelah ponsel di tangan, gadis itu masih belum puas. Wajahnya merah merona, ia menghukumnya dengan mencubit-cubit tubuh Rimba.

Rimba dibuat kewalahan oleh ulahnya, tertawa sampai kehabisan napas, lari dari meja ke sofa, lalu meringkuk seperti landak di pinggir sofa, memeluk kepala dan perut, menghindari serangan cubitan geli dari Lintang.

"Lihat aja, berani-beraninya kamu menusuk kakak dari belakang...!"

"Kak, ampun, ampun, aku kapok...! Aku nggak berani lagi...!"

Siapa sangka, cowok segede Rimba ternyata takut juga dicubit-cubit geli.

Semakin Rimba berusaha menghindar, Lintang makin semangat, menindih tubuhnya di sofa, wajahnya memerah, tangan mungilnya sibuk menggelitiki perut Rimba.

"Cepat bilang, sekarang kamu harus dukung siapa?"

"Aku selalu dukung Kak Lintang! Selamanya akan membela Kak Lintang!"

Rimba mengalah dan dengan patuh memperlihatkan perutnya, tanda kalau lain kali dia akan rela dicubit-cubit kakaknya, hukuman seberat apapun.

"Hmph, kalau kamu berani mengadu, aku bakal lepas kaus kakiku dan sumbat ke mulutmu."

"..."

Melihat Rimba yang sudah tak berdaya di sofa, wajah Lintang memerah, ia merapikan rambutnya yang berantakan.

Akhirnya puas juga rasanya.

(Tamat Bab Ini)