Bab 77 Jangan Menangis, Jangan Menangis! (Mohon Berlangganan)
Ternyata langsung makan malam dan menonton film setelah bermain bulu tangkis memang pilihan yang bijak, menghemat banyak waktu yang biasanya dihabiskan untuk berpindah tempat. Lin Lu dan Li Xingru keluar dari restoran hotpot bubur saat jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh, masih ada waktu setengah jam sebelum film dimulai, sehingga mereka pun berjalan santai berkeliling pusat perbelanjaan.
Li Xingru memang suka jalan-jalan, tapi bukan tipe yang suka belanja banyak. Sebagian besar waktu, ia hanya melihat-lihat tanpa membeli apa pun, seperti menikmati pemandangan—menikmati deretan barang-barang yang memikat, sekadar memuaskan rasa penasaran dan keingintahuannya.
"Kakak traktir kamu minum teh susu, ya!"
"Nanti aku yang traktir Kak Xingru popcorn."
"Baiklah, mau teh susu apa?"
Keduanya masing-masing membawa raket bulu tangkis, seorang mengenakan baju olahraga, yang lain memakai seragam sekolah, ikut antre bersama pasangan-pasangan di depan toko teh susu.
Lin Lu memilih segelas jeruk kumquat lemon, sementara Li Xingru memilih teh susu stroberi keju dengan gula penuh.
Setelah membeli teh susu, mereka pun kembali berjalan santai di mal. Tak ada perasaan cinta yang menggebu di antara mereka, tapi keberadaan satu sama lain terasa menenangkan dan nyaman. Keharmonisan yang tercipta seperti dua boneka pajangan yang diletakkan bersebelahan di etalase—tak ada alasan harus bersama, namun jika bersama, terasa sangat pas.
Dengan gaya masing-masing, mereka meneguk teh susu sambil berjalan.