Bab 26: Kau Bukan Pengagum Kakak Perempuan, Kan?
“Apakah cara berpikir Kak Xingruo memang selalu aneh seperti ini?”
“Apa-apaan, jelas-jelas pertanyaanmu yang aneh.”
“Tetap saja, tak terpikir bakal menghubungkannya ke telur, kan?”
“Aku cuma ingin mengikuti alur anak muda sepertimu.”
Bus berhenti di sebuah halte, dan banyak orang naik lagi, kerumunan bergerak ke bagian belakang, membuat Lin Lu dan Li Xingruo terdesak ke satu tempat yang sama.
Lin Lu lebih tinggi setengah kepala dari Xingruo, saat mereka berdempetan seperti ini, aroma rambutnya tercium samar di hidungnya, membuatnya tanpa sadar memperlambat napas. Sesekali, ketika bus berguncang, bahu lembut gadis itu akan bersentuhan ringan dengan dadanya.
Setiap kali begitu, Xingruo tampak canggung dan sedikit menarik bahunya, namun sensasi bersentuhan dengan dada kokoh Lin Lu selalu tertinggal lama di kulit bahunya.
Tak ada penumpang lain yang bisa mendekatinya, karena Lin Lu mengangkat tangan menggenggam pegangan di sebelahnya, menciptakan posisi setengah melingkar di antara mereka.
Rasanya seperti ‘berlindung’ di pelukan seorang pria, aneh tapi juga menakjubkan. Meski mereka hampir tidak bersentuhan, udara di sekeliling penuh dengan aroma tubuhnya, pengalaman yang belum pernah dirasakannya.
Kadang-kadang Xingruo diam-diam melirik Lin Lu. Ia menatap ke luar jendela, jakunnya yang tak terlalu menonjol kadang bergerak naik turun, dan ketika bus terguncang, poni di dahinya pun ikut bergetar lembut. Mata, hidung, dan bibirnya tampak bersih dan menawan.
Apakah ini yang dimaksud istri Zhezhi sebagai pengambilan inspirasi...?
Kalau cuma mengambil sedikit pengalaman dari dirinya diam-diam, rasanya tak masalah...
Baru delapan belas tahun, sayang sekali...
Hei, jangan melantur! Dasar kakak tua!
Merasa tenggorokannya gatal, Xingruo berdeham lalu melanjutkan, “Jadi, tadi dua gadis itu bilang apa sama kamu?”
“Kak Xingruo penasaran?” Lin Lu menunduk menatapnya.
“Ya, lumayan penasaran. Ini riset pasar, tahu kan? Ayo kakak mau tahu, apa saja yang dipikirkan anak SMA sekarang.”
“Mereka menghentikanku, lalu menyatakan cinta.” jawab Lin Lu dengan santai.
“...!”
Mendengar itu, Xingruo jadi semangat, sedikit memiringkan badan menghadapnya, wajahnya penuh rasa ingin tahu, “Biar kakak tebak!”
“Tebak apa?”
“Yang berbaju biru itu, benar kan?!”
“Mm, dia juga.”
“Tebakan kakak tepat sekali!”
Xingruo tersenyum puas, lalu jadi penasaran, “Tapi maksudmu ‘juga’ itu apa...”
“Soalnya yang berbaju putih juga menyatakan cinta.”
“Oh, begitu... eh?!”
Ekspresi Xingruo jadi sangat terkejut, ia menurunkan suara sembari mengacungkan dua jari mungilnya, “Maksudmu... dua orang?! Mereka sudah janjian?”
Lin Lu mengangguk.
Melihat Lin Lu yang tetap tenang, di kepala Xingruo terlintas kata-kata seperti ‘dua gadis melayani satu pria’, membuatnya sendiri jadi tak tenang.
Astaga, aku baru dua puluh dua tahun, kok sudah punya perbedaan generasi sedalam ini dengan anak SMA umur enam belas-tujuh belas?! Tapi bagaimanapun, ini benar-benar di luar nalar, dari sudut usia mana pun!
Xingruo menatap Lin Lu, lalu hati-hati bertanya, “Jadi... kamu terima salah satu dari mereka?”
Untuk pertama kalinya Lin Lu melihat ekspresi Xingruo begitu beragam di matanya, ada sedikit gugup, sedikit waspada, sisanya penuh rasa ingin tahu. Gadis itu bahkan secara halus menarik bahunya, seolah takut bertemu orang aneh.
“Mana mungkin, satu pun tidak, aku langsung pergi.”
Xingruo menghela napas lega, lalu sedikit menyesal, “Menerima dua-duanya tentu tak boleh, tapi menerima salah satu masih wajar.”
“Tidak ada yang menarik.”
“Padahal gadis berbaju biru itu cantik, lho.”
Mendengar itu, Lin Lu menatap Xingruo dan mulai menghitung dengan jarinya, “Matanya tak sebesar punyamu, kulitnya tak seputihmu, tubuhnya juga tidak sebagusmu, senyumnya pun tak secantik punyamu, Kak Xingruo, jangan asal menjodohkan orang, ya.”
Pujian tanpa basa-basi itu membuat kakak tua ini jadi agak malu.
Xingruo menatap Lin Lu sebal, “Dia masih muda, kamu kok bandingkan sama aku.”
“Soal itu, tampaknya Kak Xingruo belum paham pasar anak SMA sekarang. Kak, zaman sudah berubah. Sekarang banyak cowok lebih suka perempuan lebih dewasa, yang penyayang, sabar, perhatian, dan bisa merawat mereka. Siapa sih yang tidak suka kakak perempuan?”
“Jadi kamu itu...”
Xingruo kembali menarik bahunya, kali ini menatap Lin Lu dengan waspada.
“Hmm?” Lin Lu tampak polos tak berdosa.
“Kamu... jangan-jangan penyuka kakak juga?”
“Pertanyaan Kak Xingruo aneh lagi.”
Melihat Lin Lu begitu santai, Xingruo malah jadi merasa bersalah sendiri.
Ia tertawa menutupi rasa malu, “Kamu barusan bilang begitu banyak, kukira kamu penyuka kakak.”
“Apa sih, bukannya Kak Xingruo sendiri yang ingin tahu pasar anak SMA? Aku sebentar lagi mau ujian masuk universitas, mana sempat mikir yang aneh-aneh.”
Sambil berkata begitu, Lin Lu mengangkat buku catatan di tangannya, isinya semua soal salah dan materi yang ditugaskan Xingruo.
Xingruo sendiri tak paham bagaimana bola salju pembicaraan ini bisa menggelinding ke arahnya. Ia jadi malu atas prasangkanya sendiri.
Mana boleh menaruh prasangka aneh-aneh pada anak kelas tiga SMA yang sedang fokus belajar! Siapa sebenarnya yang menodai hubungan kakak-adik yang murni ini? Tentu saja kamu, Li Xingruo!
Akhirnya Xingruo kembali berlagak dewasa, mengangguk dan berkata penuh harap, “Benar, sekarang masa-masa penting, jadi kamu tidak boleh lengah.”
“Kak Xingruo, malam ini aku masih boleh ke rumahmu buat ngerjain PR, kan?”
“Tentu saja boleh!” Xingruo langsung menyetujui, lalu menambahkan, “Aku juga semalam sudah buat rencana tambahan pelajaran matematika SMA. Gimana kalau malam ini aku bantu kamu belajar matematika dulu?”
“Kamu besok masih harus kerja, kan? Belajar akhir pekan saja juga tidak apa-apa.” ujar Lin Lu dengan perhatian.
“Tidak apa-apa, minggu ini aku tidak sibuk. Lebih baik memang belajar dulu, baru menyesuaikan rencana belajarmu sesuai kebutuhan.”
Mereka mengobrol santai, hingga bus pun tiba di tujuan.
Saat ini jam setengah tujuh malam, banyak pegawai kantoran baru pulang, jalanan jauh lebih ramai dibanding siang hari.
Setelah turun dari bus, Lin Lu mengecek waktu lalu menawarkan, “Kak Xingruo belum makan, kan? Aku tahu warung nasi daging sapi yang enak. Mau coba?”
Perut Xingruo sebenarnya tidak terlalu lapar, apalagi semua peralatan dapur di rumah sudah lengkap. Ia memang berniat memasak sendiri.
“Bagaimana kalau kamu naik duluan, aku beli bahan makanan sebentar. Hari ini aku mau masak, kan tempo hari aku janji mau traktir kamu, nanti kalau sudah jadi aku panggil, ya!”
“Benar, nih?”
“Benar~ asal kamu tidak protes kalau masakanku tidak enak saja.”
“Soal makan malam, aku serahkan sama kakak!”
.
.