Bab 49 Guru Li Datang Berkunjung ke Rumah

Tetangga Hari Ini Juga Sangat Menggemaskan Ciuman di Sudut Jalan 2860kata 2026-02-07 11:33:29

Sudah beberapa hari ini aku menjadi guru les privat bagi Lin Lu, dan hari ini adalah pertama kalinya Li Xingru datang ke rumahnya untuk ‘kunjungan rumah’.

Sebenarnya, biasanya guru leslah yang mendatangi rumah murid, bukan? Membuat Lin Lu setiap malam menempuh jarak jauh ke rumahnya hanya untuk mengerjakan PR dan belajar tambahan benar-benar terasa tidak adil...

“Mau ganti sepatu nggak?”

Li Xingru berdiri di ambang pintu dan bertanya. Dari sini, ia melihat ke dalam rumah; dibandingkan dengan apartemennya yang sejak lama disewakan, rumah Lin Lu jauh lebih luas, perabotan lengkap, terasa lebih seperti rumah—hanya saja karena biasanya ia tinggal sendiri, jadi agak terasa lengang.

“Bebas aja, lantainya juga nggak masalah kalau dipijak pakai sepatu.”

“Tapi aku ganti sepatu saja, Lin Lu. Dari penampilanmu, sepertinya kamu bukan tipe yang rajin bersih-bersih, ya.”

“Aku juga suka kebersihan, kok! Berantakan dan kotor itu dua hal yang berbeda!”

“Mmm, ada benarnya juga yang kamu bilang.”

Li Xingru tersenyum. Meski Lin Lu tidak serapi dirinya, sebenarnya ia memang cukup menjaga kebersihan.

Karena ia ingin ganti sepatu, Lin Lu pun membuka lemari sepatu untuk mencarikan sandal buatnya. Mengetahui Li Xingru suka kebersihan, Lin Lu memilihkan sepasang sandal baru.

“Coba pakai ini, kalau nggak pas, ada yang lain.”

Lin Lu membantu mengambilkan akuarium dan kacang kastanye panggang dari tangannya, menaruhnya di meja teh ruang tamu. Kucing gendut kecil pun mengikuti akuarium itu, melompat ke atas meja, menatap penasaran tiga ikan mas kecil di dalam akuarium lewat kaca.

“Jangan dimakan, tahu nggak? Kalau macam-macam, hati-hati nanti Ayah bawa kamu ke dokter buat dikebiri.” Lin Lu menunjuk kepala Xiao Man dan memperingatkan.

“Meong...,” Xiao Man mengangguk patuh.

Begitu Lin Lu berbalik, si kucing nakal itu segera menyelupkan cakar kecilnya ke akuarium. Baru saja menyentuh permukaan air, Lin Lu menoleh, ia buru-buru menarik cakarnya kembali, dan dengan canggung menjilat air di cakarnya.

Saat Lin Lu mendekat ke Li Xingru, ia sudah melepas sepatu putih kecilnya.

Tidak seperti Lin Lu yang asal copot sepatu, Li Xingru melepaskannya dengan anggun; ia lebih dulu membuka tali sepatu, lalu perlahan menarik kakinya keluar dari sepatu yang longgar.

Lin Lu berjongkok di sampingnya, membereskan tumpukan sandal yang baru dikeluarkan, matanya tak sengaja melirik kedua kaki mungil Li Xingru yang terbungkus kaus kaki putih bersih. Ia diam-diam menggerakkan hidungnya, tidak mencium bau aneh apa pun.

Ia jadi penasaran, kalau Li Xingru melepas kaus kakinya, seperti apa rupa kaki mungilnya? Meski hanya untuk berjalan, kaki pun bisa memiliki pesona keindahan yang layak dikagumi.

Sayangnya, Li Xingru tak berniat melepas kaus kakinya. Ia justru mengangkat kedua kakinya, mengenakan sandal yang diberikan Lin Lu, mencoba ukurannya.

“Sandalnya agak kebesaran, aku ambilkan yang lain, ya?” tawar Lin Lu.

“Nggak apa-apa, toh cuma dipakai sebentar.”

“Sandalnya banyak, yang penting pas supaya nyaman. Biasanya kamu pakai nomor berapa?”

“Ehm, nomor 37.”

Sepertinya kakinya berukuran sangat pas, walau perempuan jarang menonjolkan kakinya seperti mengukur suhu badan, Lin Lu punya standar estetika sendiri untuk kaki.

Pertama, ukuran ideal adalah tiga puluh enam sampai tiga puluh delapan, lalu lengkung telapak kaki harus indah, telapak berwarna cerah tanpa kerutan mencolok, jari kaki panjang dan ujungnya bulat, tumit tanpa kulit mati dan tidak keras, jempol kaki tidak menonjol ke luar, kulitnya putih dan halus, pergelangan kaki tidak kering, serta tidak ada bau aneh... Setelah semua itu terpenuhi, baru dilihat wajahnya—minimal di atas rata-rata baru ia akan menyebutnya ‘kaki indah’.

“Sandai baru nomor 37 habis... pakai yang ini saja, nomor 38, coba ya?”

“Haha, nggak masalah kok.”

Awalnya Li Xingru hanya berniat duduk sebentar lalu pulang, tapi melihat Lin Lu begitu telaten hanya untuk memilihkan sandal, ia merasa tidak enak jika tidak tinggal lebih lama.

Li Xingru mengenakan sandal nomor tiga puluh delapan, memang agak kebesaran, tapi justru terlihat kakinya makin mungil dan menggemaskan, apalagi dipadu kaus kaki putih bersih, semakin menambah kesan manis.

Setelah berganti sandal, ia berdiri dan berjalan masuk, mulai melihat-lihat isi rumah Lin Lu. Kini hubungan mereka sudah sangat akrab, apalagi tak ada orang lain di rumah, sehingga Li Xingru merasa bebas berkeliling.

“Wah, ternyata rumahmu besar juga! Tiga kamar dua ruang tengah, pasti seratus dua puluh meter persegi, ya...”

“Seratus dua puluh enam meter. Di gedung ini memang rata-rata begitu, tiap lantai ada empat unit, dua besar dua kecil.”

“Tinggal sendirian di rumah sebesar ini, enaknya!”

Lin Lu tertawa, “Kalau begitu, bagaimana kalau Xingru pindah saja ke sini dan tinggal bareng aku? Asal bantu aku belajar dan masak, aku nggak akan minta uang sewa!”

Li Xingru hanya mencibir manis, “Kenapa nggak dari dulu kenal aku? Kalau aku sekarang keluar kontrakan, rugi dong!”

“Kamu mau minum teh lemon Vita?”

“Mau!”

Lin Lu mengambil dua botol teh lemon dari kulkas, membukakan sedotannya dan menyerahkannya pada Li Xingru.

Gadis itu menyeruput teh lemonnya, penasaran melirik ke sebuah ruangan. Lin Lu pun menyalakan lampu.

“Itu ruang kerja, ya?”

“Iya, masuk aja, lihat-lihat.”

Li Xingru masuk. Dibilang ruang kerja, sebenarnya hanya rak besar yang penuh buku, selebihnya meja dan lantai dipenuhi alat dan bahan gambar serta kerajinan tangan Lin Lu.

Di atas papan gambar masih ada lukisan cat air yang belum selesai, hasil Lin Lu melukis pemandangan dari balkon rumah—ada gedung tinggi, langit, matahari terbenam, dan jalanan di kejauhan.

Di lantai ada beberapa kardus, Li Xingru berjongkok, mengambil selembar kertas gambar di salah satu kardus—semuanya hasil karya Lin Lu juga.

“Semuanya karya kebanggaanmu, ya?” puji Li Xingru. Karya-karya sebagus ini malah dibiarkan tergeletak begitu saja! Kalau ia yang melukis, pasti sudah dipigura dan dipajang.

“Itu semua coretan gagal, sengaja dikumpulkan, nanti kalau sudah banyak baru dikasih ke pemulung. Yang di kardus satunya lagi, itu kerajinan tangan gagal.”

Mendengar itu, Li Xingru yang tadinya ingin meminta satu lukisan langsung menutup mulut.

Bocah pamer kemampuan! Menyebalkan!

Ruang kerja Lin Lu memang lebih mirip gudang sekaligus tempat kerja, memang agak berantakan, tapi sangat fungsional. Untuk urusan bersih-bersih, Lin Lu selalu melarang ibunya menyentuh barang-barang di ruangan ini—kalau sekali saja dibereskan, ia yakin takkan bisa menemukan barang yang dicari.

Lin Lu mengambil kamera DSLR dari meja, memanggil, “Xingru!”

Gadis itu menoleh, begitu melihat kamera, buru-buru menutupi wajah dengan botol teh lemon.

“Aduh... jangan foto aku!”

“Kamu lucu sekali, Xingru cocok banget di depan kamera.”

Lin Lu memperlihatkan hasil jepretannya—tepat saat Xingru mengangkat teh lemon menutupi wajah. Terlihat ceria dan manis, ekspresi alami seperti itu tak bisa dihasilkan dengan pose apa pun.

“Eh, di kardus ini kok banyak mainan, itu mainanmu waktu kecil?”

“Itu punyanya adik-adikku.”

“Kamu punya adik?”

“Iya, kembar. Anak kandung ibuku, tahun ini mau empat tahun.”

Li Xingru mengangguk, kini paham hubungan keluarga Lin Lu. Rupanya ia cukup dekat dengan adik-adiknya, banyak barang milik mereka disimpan rapi di kamar ini.

Bakat Lin Lu dalam menggambar, desain, dan kerajinan tangan memang tak diragukan, tapi ia juga sangat rajin. Tumpukan ribuan coretan gagal dan kotak-kotak kerajinan setengah jadi adalah buktinya.

Sifat semacam ini, sering kali jauh lebih berharga daripada bakat.

Untuk pertama kalinya, Li Xingru tak berani lagi meremehkan Lin Lu hanya karena usianya yang masih SMA.

“Kalau begitu, biasanya kamu tidur di mana? Jangan-jangan di sofa ruang kerja ini?”

“Tentu saja tidak, kamarku di sebelah.”

Li Xingru pun mengikuti Lin Lu keluar, membuka pintu kamar tidurnya.

Saat itulah, ia benar-benar menyadari, dengan perpaduan bakat dan kerja keras, akan tercipta hasil seperti apa. Gadis itu akhirnya tak bisa menahan diri untuk berdecak kagum—

“Sungguh luar biasa!!”