Bab Lima Puluh Satu: Mengenal Diri Sejati di Tengah Kesedihan
Tatapan mata hitam yang penuh keteguhan, tak mau menyerah, terus menantang Simi. Mata bening yang mulai buram oleh air mata membuat Luo Jue merasa sangat iba, namun baik gadis yang penakut maupun kucing kecil yang liar harus belajar tumbuh. Beberapa pemahaman yang keliru memang harus segera diluruskan. Keras kepala yang mengalir dalam darahnya membuatnya tak mudah menyerah sebelum benar-benar tak ada harapan. Jika ingin ia tumbuh dewasa, maka terkadang harus bersikap tegas padanya. Di dunia mana pun, hanya dengan hati yang cukup kuat menanggung segalanya, seseorang tak akan tumbuh menjadi pengecut yang takut menghadapi kegagalan. Hanya dengan begitu, ia bisa melangkah maju di atas darah dan air mata, lalu berkembang.
Simi akhirnya yang mengalah lebih dulu. Ia mengakui tak sanggup menahan tatapan Luo Jue yang terasa membara meski tetap dingin; seolah ada secercah rasa iba dalam sorot matanya yang sulit ditebak. Perubahan ekspresi itu membuat hati Simi terasa terbelit, tak sanggup lagi menahan keganjilan yang muncul, ia memilih pergi, melarikan diri, dan tak ingin lagi memikirkan semua yang terjadi hari ini.
Air mata bercucuran seiring langkahnya yang semakin cepat, Simi berlari tanpa arah, memikirkan segala hal yang telah menimpanya sejak tiba di sekolah ini. Ia menempuh perjalanan jauh, sendirian, menuju sekolah yang benar-benar asing. Ia pernah ketakutan, pernah murung, juga pernah tersesat dalam kebingungan. Di tempat hiburan, ia pernah bertemu lelaki hidung belang, bahkan di jalan pulang seusai bekerja pun ia kembali menghadapi bahaya yang sama. Ternyata dunia ini jauh lebih gelap dari yang ia sangka. Selama ini ia selalu menenangkan diri, meyakini dunia ini indah, namun kini ia sadar banyak hal tak seindah yang ia kira. Ia hidup dalam bawah sadarnya sendiri, terasa sangat asing dari lingkungan sekitar.
Dulu pun ia pernah memaksakan teorinya sendiri pada orang lain, menyalahkan pria itu yang dianggapnya kejam karena membanting wanita ke lantai. Tapi bukankah ia juga pernah menampar orang lain? Meski akibatnya berbeda, hakikatnya tetap sama. Beberapa hal memang tak selalu sejalan dengan pemahaman logika; kemurahan hati yang ia yakini ternyata tak sepenuhnya benar. Ia tak mungkin memaafkan pria itu, namun di sisi lain ia juga berterima kasih padanya. Pria itu telah membantunya keluar dari dunia khayalan yang terlalu indah, sekaligus membuatnya lebih mengenali diri sendiri. Ia tak boleh lagi jadi pengecut, tak boleh membiarkan pikiran dan tindakannya saling bertentangan. Ia ingin menjadi dirinya yang sebenarnya, menerima bagian lain dari dirinya yang selama ini ia tolak dalam hati.
Sentuhan dingin mengusik Simi dari lamunan. Ia tersadar dan mendapati dirinya telah sampai di Alun-Alun Jiangdan. Tetesan hujan yang berjatuhan satu per satu seperti air mata, perlahan membentuk kabut tipis yang menutupi pandangan.
Simi mendongakkan kepala, membiarkan bulir-bulir hujan menampar wajahnya, berharap hujan turun lebih deras lagi.
Mengapa ia dan pria itu bisa memiliki keterkaitan? Di lapangan, saat ia ditolong, ia begitu berterima kasih. Awalnya, ia sangat mengagumi pria itu—bakatnya, caranya mengajar yang penuh ekspresi, semua begitu menarik baginya. Meski ia tak mengerti mengapa pria itu memintanya menyanyikan lagu yang paling tidak ia kuasai, ia tetap merasa tersentuh, karena pria itu tidak menyerah padanya meski ia bernyanyi buruk. Sampai akhirnya ia melihat sisi dinginnya, sikap acuh tak acuh terhadap kehidupan yang membuatnya terluka, marah, dan juga—ciuman itu. Hanya sekejap saja, namun ia dapat merasakan bibir yang dingin namun tetap lembut itu.
Jangan dipikirkan lagi, semua harus lenyap dari benaknya. Simi berseru dalam hati, ingin mengusir bayangan wajah itu sejauh mungkin. Kali ini, langit sangat mendukungnya; hujan semakin deras, membasuh semua kenangan yang menghantui pikirannya.
Simi tak lagi memikirkan alasan mengapa Luo Jue membuatnya marah, apakah hanya karena Shen Qianqian? Atau jangan-jangan karena rasa kecewa? Dalam hati Simi, sosok Luo Jue mungkin seperti seorang idola. Ketika tindakan sang idola menghancurkan gambaran indah dalam benaknya, maka kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan pun datang bersamaan.
Penguasa Darah, aku menantimu. Bab 51—Mengenal Diri Sendiri di Tengah Kesedihan—selesai diperbarui!