Bab Empat Puluh Dua: Kasih Sayang yang Istimewa
Membiarkan pikirannya kosong, Simengsi menatap tanpa sadar ke luar jendela mobil yang dipenuhi kabut hujan.
“Uhuk, uhuk...”
“Kamu masuk angin?” Mendengar suara batuk Simengsi, Gu Wensong bertanya.
Simengsi tidak mendengar pertanyaan Gu Wensong. Kepalanya terasa pusing dan pikirannya kacau. Bayangan ciuman Luo Jue padanya tak pernah bisa diusir dari benaknya.
Sentuhan hangat terasa di dahinya. Simengsi secara refleks menghindari sumber panas itu.
“Sepertinya kamu demam!” Gu Wensong menatap tangannya yang dihindari, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa ia begitu peduli pada seorang wanita?
Mungkinkah tatapan bingung gadis itu membangkitkan naluri protektif dalam dirinya?
Gadis yang seolah-olah hidup di luar dunia ini membuat hatinya menjadi lembut. Gu Wensong tidak ingin menganalisis perasaannya sendiri, membiarkan semuanya berjalan begitu saja.
“Pak Lin, ke rumah sakit!”
“Baik, Tuan Muda!”
Suara mobil berbelok membuat Simengsi kembali ke realitas.
“Mau ke mana?” Menyadari arah mobil berubah, Simengsi bertanya panik.
“Ke rumah sakit!” Gu Wensong tersenyum dalam hati. Akhirnya Simengsi tidak lagi seperti mumi, kini mulai panik. Apa, takut ia akan menculiknya?
“Kenapa ke rumah sakit?” Bukankah seharusnya ia diantar pulang? Mengapa malah ke rumah sakit?
“Kamu demam.” Menebak bahwa gadis di depannya tidak mendengar ucapannya tadi, Gu Wensong dengan sabar mengulang jawabannya.
“Oh, aku tidak mau ke rumah sakit, aku ingin pulang ke asrama.” Ia sama sekali tidak ingin ke rumah sakit. Ia hanya ingin tidur nyenyak; asrama adalah satu-satunya tempat yang bisa menghibur dirinya.
“Kamu harus ke rumah sakit.” Ucapan yang lembut, namun tak bisa dibantah.
“Aku benar-benar tidak mau, tidak mau ke rumah sakit...”
Gu Wensong melihat dengan sudut matanya Simengsi perlahan memejamkan mata, kepalanya terjatuh ke arah jendela.
Sebelum kepala Simengsi membentur kaca, Gu Wensong segera memeluknya, membiarkan kepala Simengsi bersandar di pundaknya. Suhu panas di dahi terasa menembus bajunya, membuat Gu Wensong merasa khawatir.
“Percepat laju mobil.”
Di jalan yang diselimuti hujan deras, sebuah mobil melaju kencang, segera menghilang di balik tirai hujan.
Simengsi mendengar langkah kaki pelan, lalu membuka mata. Ia melihat langit-langit putih, dan menoleh, tampak Liu Shiqing berjalan sambil membawa segelas air.
“Meng, akhirnya kamu sadar juga, hampir saja aku dibuat cemas olehmu.”
“Kenapa aku ada di rumah sakit?” suara Simengsi terdengar serak.
“Kamu tidak ingat?” Simengsi membuka mulut lebar-lebar, sangat terkejut.
Simengsi menggeleng.
“Sebetulnya aku juga kurang tahu. Tadi malam Gu Wensong yang memintaku datang. Setelah aku sampai rumah sakit, dia langsung pergi. Selain memintaku merawatmu, dia tidak bicara apa-apa. Meng, bagaimana kamu bisa bersama Gu Wensong, lalu masuk rumah sakit?” Liu Shiqing menjadi serius.
Simengsi berusaha mengingat, potongan-potongan memori perlahan tersusun: ciuman dingin itu, tetesan hujan yang terus jatuh, sebuah payung, dan luka di hatinya.
“Meng, maaf, aku tak ingin bicara sekarang.” Simengsi memejamkan mata, pikirannya kacau.
Liu Shiqing dengan tenang menggenggam tangan Simengsi. Setiap orang punya rahasia dan luka masing-masing. Jika waktunya belum tiba, mereka akan menyimpannya di lubuk hati terdalam, tidak bisa dibagi dengan orang lain, hanya diri sendiri yang bisa perlahan mengobatinya.
Aku menunggu darah merah, Bab 52: Perhatian Khusus telah selesai diperbarui!