Bab Tujuh Puluh Dua: Wibawa Kaisar Darah
Setiap otot, setiap sel, setiap saraf terasa nyeri, namun pemuda itu tiba-tiba merasa menikmati sensasi ini. Setidaknya, rasa sakit bisa mengalihkan perhatiannya, membuatnya tak perlu lagi memikirkan kenyataan bahwa dirinya kini telah menjadi vampir.
Jalan utama yang menghubungkan Alam Darah dengan dunia luar tiba-tiba terbuka, udara yang berbeda berhembus masuk melalui pintu yang kini terbuka lebar.
Semua orang menoleh ke arah pintu itu, lalu mereka melihat sosok penuh wibawa melangkah masuk diiringi hembusan angin. Siapa lagi yang memiliki aura sedemikian rupa selain Kaisar mereka?
"Kaisar, gagah tiada tanding! Alam Darah abadi selamanya!"
Seluruh penghuni Alam Darah serempak berlutut, meneriakkan kebanggaan mereka, panutan sekaligus pemimpin spiritual mereka, sang Kaisar.
Luo Jue menatap para vampir yang berlutut itu. Inilah dunianya, dulu juga merupakan dunia milik dirinya dan dia. Cahaya energi yang telah lama dirindukan, rakyat Alam Darah yang telah lama tidak ditemui, di sinilah kerajaannya, di sini dia adalah Raja Vampir: angkuh, dielu-elukan dan dipuja oleh banyak orang.
Jas yang dikenakannya di dunia manusia telah berubah menjadi jubah panjang berwarna merah darah, rambut hitam pendeknya pun kini menjelma menjadi rambut panjang biru yang tergerai indah.
Ia melangkah melewati kerumunan orang yang berlutut, lalu Luo Jue melihat seorang pemuda terbaring di tanah.
Pemuda itu meringkuk erat, matanya terpejam rapat, namun di wajahnya justru tergurat ekspresi bahagia. Vampir yang baru saja berubah dari manusia seperti ini, Luo Jue tahu, biasanya tidak disambut baik, namun melihat pemuda itu mengalami luka yang begitu parah, hatinya terasa tidak senang.
Mungkin karena Si Mengsi sebelumnya adalah manusia, Luo Jue merasakan sebuah kehangatan terhadap pemuda itu. Dia tidak ingin membiarkan anak itu dibully oleh para vampir lain, apalagi senyumannya yang polos turut menarik perhatian Luo Jue. Jika dibina, pemuda ini bisa menjadi talenta yang luar biasa.
Luo Jue menyapu pandangannya ke kerumunan yang berlutut. Meskipun mereka semua menunduk, namun hawa dingin yang terpancar dari Luo Jue membuat hati mereka berdebar tegang.
"Karena dia kini sudah menjadi vampir, maka mulai sekarang dia adalah saudara sekaum kalian." Suara otoritatif itu membuat siapa pun secara naluriah tunduk.
"Nie Min, bawa dia pulang. Ingat, mulai saat ini, pemuda ini memiliki kedudukan yang sama denganmu." Ujar Luo Jue sambil melangkah menuju Istana Penguasa Darah.
Nie Min mengangkat pemuda yang terbaring di tanah, mengikuti langkah Luo Jue.
Melihat punggung sang Raja Vampir yang menjauh, para vampir lainnya menampilkan berbagai ekspresi. Ada yang bersyukur karena sebelumnya tidak menantang pemuda itu, ada pula yang menyesali perbuatan mereka di masa lalu. Jika nanti pemuda itu membalas dendam, bisa-bisa mereka celaka. Terutama para vampir yang telah menggunakan sihir pada pemuda tersebut, wajah mereka kini lebih pucat dari mayat. Kedudukan setara dengan Nie Min berarti menjadi pengawal pribadi Kaisar, seorang tokoh penting. Jika mereka pernah menyakiti tokoh penting, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Semakin dipikirkan, semakin mereka dilanda ketakutan.
Saat Luo Jue dan Nie Min yang menggendong pemuda itu tiba di depan gerbang Istana Penguasa Darah, Nan Rong Jian dan Jian Bai bersama sekelompok orang sudah menunggu di sana, sambutannya sangat meriah.
Setelah mengatur urusan Alam Darah, Luo Jue datang ke tempat pemuda itu berada, yakni di ruang belakang Istana Penguasa Darah. Ruangan tersebut sederhana namun tidak membosankan, di tengah-tengahnya ada sebuah mutiara malam sebesar roda kereta yang memancarkan cahaya lembut.
Luo Jue tidak langsung menghapus mantra yang menahan pemuda itu, ia hanya memberi isyarat pada Nie Min agar membuat pikiran pemuda itu menjadi lebih jernih.
Rasa sakit itu sama sekali tidak berkurang, pemuda itu menggigit bibir menahan perih, lalu ia melihat seorang pria berdiri tak jauh darinya. Pria itu menatapnya, wajah pria yang begitu berwibawa dan tampan itu membuatnya menunduk, entah itu karena minder atau sebab lain.
Raja Vampir, aku sedang menantimu.
Bab 72 — Kewibawaan Raja Vampir, telah selesai diperbarui!