Bab 76: Awal yang Telah Berlalu
Kasur empuk bagi Gu Wensong memiliki makna berbeda dibanding wanita lain. Ia memperhatikan kelembutan wajahnya, kebaikan hatinya, juga kesedihan yang sering terpancar di matanya.
Simengsi melangkah sendirian di jalan dari gerbang kampus menuju asrama. Biasanya Liu Shiqing akan menemaninya, tapi hari ini temannya itu ada urusan mendadak, sehingga Simengsi harus berjalan sendiri. Kebiasaan memang hal yang menakutkan—tanpa kehadiran sahabatnya yang cerewet, Simengsi merasa sepi.
Tiba-tiba, kegelapan pekat menyelimuti Simengsi. Ia merasakan sesuatu menutupi kepalanya, lalu kesadarannya pun menghilang.
Niemin, yang sedang menjalankan tugas Kaisar Darah di dunia manusia, melihat Simengsi diseret ke sebuah mobil. Ia segera melaporkan kejadian itu kepada Luo Jue melalui batu roh.
Niemin sebenarnya sudah melaporkan situasi di sekolah kepada Luo Jue sebelumnya, termasuk rumor tentang dirinya dengan Gu Wensong. Saat itu, Luo Jue hanya mengangguk singkat. Kini, ketika menerima kabar dari Niemin, Luo Jue hanya mengatakan satu kalimat, “Ikuti mereka!” Meski kata-kata itu dikirim lewat batu roh, Niemin tetap merasakan hawa dingin yang menusuk.
Melalui ilusi, Luo Jue memandangi wanita yang dilempar ke bagasi itu dengan tatapan rumit. Gu Wensong memang pria yang menarik, mungkinkah wanita itu akan jatuh cinta pada seorang manusia?
Simengsi terbangun karena rasa sakit. Beberapa pria menggotong karung berisi tubuhnya ke sebuah gudang tua, lalu melemparkannya ke lantai. Benturan itulah yang menyadarkannya.
Yang pertama ia rasakan adalah nyeri membakar di punggungnya, lalu ia mendapati sekelilingnya gelap gulita.
Dilanda ketakutan, Simengsi mencoba mencerna apa yang terjadi. Kesimpulan paling aneh yang terlintas di benaknya adalah: ia telah diculik. Ia merasa itu konyol, karena tak ada gunanya menculik dirinya—ia tak punya uang, parasnya pun biasa saja. Untuk apa mereka repot-repot? Jangan-jangan... ia teringat gosip teman-temannya tentang pencurian organ tubuh yang marak akhir-akhir ini. Mungkinkah mereka mengincar ginjalnya?
Kegelapan tiba-tiba sirna, digantikan cahaya terang yang menyilaukan. Ia ingin berteriak minta tolong, namun saat melihat beberapa pria di sekitarnya, niat itu ia urungkan. Jika mereka sudah membawanya ke tempat ini, pasti mereka tak peduli ia berteriak. Lagipula, kemungkinan besar tempat ini memang sepi.
Dugaan Simengsi benar, di sekelilingnya benar-benar tak ada seorang pun.
Menatap para pria di hadapannya, Simengsi ketakutan, namun ia berusaha menenangkan diri.
“Perempuan ini tampak lugu, tapi entah kenapa bisa bermasalah dengan wanita sejahat itu!” salah satu pria berkata.
Jadi, yang menculiknya adalah seorang wanita? Siapa yang pernah bermusuhan dengannya? Namun, sekeras apa pun ia mengingat, Simengsi tak juga menemukan jawaban.
“Jangan salahkan kami, salahkan saja Shen Qianqian itu,” ujar pria lain, melihat Simengsi menggenggam erat tangannya mencoba tetap tenang. Ada rasa iba dalam suaranya, tetapi uang sudah diterima, tugas harus dijalankan.
Jadi Shen Qianqian... Apa ia punya dendam pada dirinya? Belum sempat Simengsi berpikir lebih jauh, para pria itu mulai mendekatinya.
“Kami juga tak ingin begini, ini permintaan wanita itu,” salah satu dari mereka berkata sambil melepas pakaian dan mendekat.
“Jangan...,” Simengsi mundur selangkah demi selangkah saat melihat dada para pria itu mulai terbuka.
Ia terus mundur hingga terpojok di sudut ruangan, tak ada lagi jalan untuk lari.
“Kumohon, lepaskan aku!” Simengsi memeluk erat bajunya, memohon dengan tangis tertahan.
Namun permohonannya sia-sia. Tangan-tangan kasar itu mulai merenggut pakaiannya satu per satu, meski ia berusaha menahan, semua usahanya sia-sia belaka.
Tak peduli seberapa keras Simengsi memohon, tangan-tangan itu tetap menyentuh tubuhnya. Ia menghentikan perlawanan, menutup matanya dengan putus asa.
Mengapa nasib harus sekejam ini padanya?
Kaisar Darah, aku sedang menunggumu.