Bab Sembilan Puluh Tiga: Apa Ini Bisa Disebut?
Seiring waktu, Simengsi dan Gu Wensong mulai sering bertemu. Ia akan mengajaknya ke tempat-tempat mewah, memperkenalkannya kepada teman-temannya, dan sesekali menciptakan suasana romantis dengan makan malam ditemani cahaya lilin.
Simengsi mulai menceritakan tentang dirinya kepada Gu Wensong. Mereka seperti pasangan kekasih pada umumnya, dan Simengsi merasakan manisnya cinta seperti yang sering dibicarakan orang-orang.
“Kau harus putus dengan Gu Wensong.” Simengsi sangat terkejut mendengar perkataan Liu Shiqing.
“Mengapa?” Ia meletakkan cangkir di tangannya dan menatap nyala kemarahan di mata Liu Shiqing.
“Dia tidak akan pernah mencintaimu dengan tulus,” kata Liu Shiqing dengan nada marah.
“Tapi sekarang kami sangat bahagia bersama.” Simengsi sengaja tak mau memikirkan masa depannya dengan Gu Wensong, karena ia pun tak tahu sampai kapan hubungan mereka akan bertahan.
“Jadi, kau mau putus dengannya atau tidak?” Liu Shiqing mencengkeram bahu Simengsi dengan keras.
Melihat Liu Shiqing yang tampak begitu serius dan bahkan agak gila, Simengsi hanya menggeleng pelan.
“Aku akan membuatmu melihat siapa dia sebenarnya,” ujar Liu Shiqing, lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah itu, Liu Shiqing selalu tampak sibuk, tak punya waktu lagi untuk bersama Simengsi. Simengsi pun tak tahu kesibukan apa yang menyita waktunya. Beberapa kali mereka bertemu pun, Simengsi memilih buru-buru pergi, karena ia selalu merasa tatapan Liu Shiqing padanya semakin aneh, menimbulkan tekanan yang membuat hubungan mereka tak lagi seperti dahulu, tak lagi hangat dan terbuka seperti saat pertama bertemu.
Ketika suara pintu terdengar, Liu Shiqing menarik kembali semua emosinya. Ia keluar dari kamar mandi, menenangkan tangannya yang sempat mengepal, lalu tubuhnya yang telanjang bulat langsung tertangkap oleh mata Gu Wensong.
Gu Wensong yang baru masuk ke rumah sangat terkejut. Ini adalah rumahnya sendiri, bagaimana mungkin wanita itu bisa masuk?
“Kau heran mengapa aku ada di sini?” Suara Liu Shiqing terdengar begitu tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah, membuat Gu Wensong mengerutkan dahi.
Keterkejutannya hanya berlangsung sesaat. Pasti kedua sahabatnya itu, hanya mereka yang tahu lokasinya.
Melihat ekspresi Gu Wensong yang sudah paham, Liu Shiqing tahu ia sudah bisa menebak. Ia pun merasa tak percaya dirinya bisa sampai di sini dengan begitu mudah. Saat secara kebetulan bertemu Zhao Jiemin—yang ia ingat sebagai teman Gu Wensong—ia bertanya di mana Gu Wensong tinggal. Tak disangka, pria yang suka bergurau itu bukan hanya memberitahukan alamat, tapi juga memberikan kunci rumah. Itulah sebabnya sekarang ia bisa berada di sini.
“Aku yakin sekarang kau sudah tak penasaran lagi bagaimana aku bisa ke sini. Tujuanku datang adalah ingin tidur denganmu. Tentu saja, aku masih perawan, jadi tak akan merugikanmu apa pun. Aku juga tak butuh kau bertanggung jawab. Aku yakin kau cukup cerdas untuk tidak melewatkan kesempatan ini.”
Suasana kamar itu hening, keduanya diam dengan pikiran masing-masing.
Tanpa mereka sadari, seorang pria bernama Luo Jue berdiri di depan pintu. Ia menggunakan ilmu sihir untuk menyembunyikan dirinya sehingga tak terlihat oleh manusia biasa. Dengan penuh minat, ia memperhatikan kedua orang di hadapannya. Lalu, ia mengangkat tangan dan sebuah cahaya melesat masuk ke tubuh Gu Wensong, tanpa diketahui dua orang lainnya.
Menghadapi tubuh wanita di depannya, Gu Wensong merasakan tubuhnya memberi reaksi. Tak mungkin ia tak peduli pada masalah ketidakmampuannya selama ini, namun kini, ia merasa seperti pria normal.
“Aku sekarang kekasih Simengsi. Apa menurutmu ini pantas dilakukan oleh sahabat dekatnya?” Gu Wensong menahan gejolak dalam dirinya dan berusaha tetap tenang.
“Haha, sahabat? Itu hanya sesuatu yang membosankan bagiku. Aku yakin kau belum pernah menyentuhnya, bahkan mungkin belum pernah menciumnya, bukan?” Liu Shiqing bicara dengan nada penuh kemenangan. Ia sangat mengenal Simengsi; ia tahu Simengsi bukanlah orang yang mudah membuka diri.