Bab Tujuh Puluh Satu: Pemuda dari Dunia Darah
Laksana rerumputan yang baru saja disirami hujan, Simons merasakan tubuhnya penuh energi, seluruh dirinya terasa segar dan bugar. Ia berpikir bahwa tidurnya semalam sungguh nyenyak, seolah-olah bermimpi indah, namun tak peduli sekeras apa ia mencoba, ia tetap tak mampu mengingat mimpi seperti apa yang ia masuki.
Ini adalah siang hari di dunia vampir, bola energi yang bercahaya menerangi seluruh dunia darah dengan terang benderang. Sesekali terlihat kerumunan orang berlalu-lalang, kadang juga tampak makhluk-makhluk aneh yang sulit disebutkan namanya membawa orang-orang, atau alat transportasi mirip tandu yang lewat, bahkan sesekali ada sosok yang terbang di langit...
Orang-orang di sana mengenakan pakaian seperti manusia kuno, jika tidak diamati dengan saksama, mereka tampak seperti sekelompok manusia istimewa. Namun jika diperhatikan baik-baik, sesekali akan tampak taring tajam mengintip dari mulut mereka. Mereka adalah vampir; dalam pandangan mereka, mereka adalah ras yang agung, setara dengan bangsa dewa dan iblis, suatu bangsa yang menakjubkan. Mereka menganggap manusia hanyalah sumber makanan, sekadar penyedia energi; cukup setetes darah manusia, mereka bisa mempertahankan kemudaan selamanya.
Meski dunia darah dan dunia dewa telah membuat perjanjian untuk tidak mengancam nyawa manusia, ada juga kesepakatan yang membolehkan mereka mengubah manusia menjadi vampir jika memang berkehendak. Namun, sangat jarang vampir mengubah manusia menjadi sejenis mereka, sebab kebanyakan dari mereka menganggap vampir hasil perubahan dari manusia adalah vampir tidak murni, dan mereka enggan menerima vampir semacam itu sebagai rekan.
Lihatlah, remaja yang lusuh dan berantakan itu, ia didorong-dorong oleh yang lain, ada pula vampir yang memamerkan taring mereka kepadanya dengan nada mengejek, mengancam.
Di dalam hati remaja itu tumbuh kecemasan dan ketakutan.
Remaja inilah yang telah diubah dari manusia menjadi vampir. Ia menjadi vampir karena salah satu vampir yang mengisap darahnya kehilangan kendali, dan ketika nyawa remaja itu hampir melayang, demi menghindari hukuman berat atas larangan membunuh manusia, sang vampir terpaksa mengubahnya menjadi sejenis mereka dan membawanya ke dunia darah.
Dalam ingatannya, ia tahu bahwa dirinya bukan lagi manusia. Namun dunia vampir terasa sangat asing baginya, dan dari sorot mata serta gerak-gerik para vampir, ia sadar bahwa dirinya tidak diterima, ia menjadi bahan tertawaan.
Ketakutan dalam hatinya berubah menjadi amarah. Atas dasar apa mereka mengejeknya? Jika bukan karena mereka, ia tidak akan berada di sini, meninggalkan dunianya sendiri, keluarganya, dan teman-temannya.
Amarah itu membuncah. Ketika seorang vampir kembali datang mendekat dan mengejeknya dengan memperlihatkan taring, remaja itu tidak lagi menghindar. Ia menerjang ke depan, menggunakan tenaga kasarnya untuk menjatuhkan vampir itu ke tanah.
Aksi mendadak remaja itu membuat suasana sekitar terdiam beberapa detik, lalu berubah menjadi sorak sorai penuh semangat.
"Hajar dia... hajar dia!"
Vampir adalah bangsa yang sangat memuja kemurnian darah, dan setelah itu kekuatanlah yang paling dihormati.
Kini, melihat seorang vampir keturunan manusia menantang vampir murni, mereka mengejek remaja itu—benar-benar tak tahu diri. Vampir yang terjatuh itu segera melancarkan sebuah sihir, membuat si remaja tersungkur di tanah dan menggeliat menahan sakit yang luar biasa.
Raja Darah, aku sedang menunggumu. Bab 71, Pemuda Dunia Darah, selesai diperbarui!