Bab Enam Puluh: Perlakuan yang Berbeda
Pasti ini hanya perasaannya saja. Selain ayah dan ibu, tak ada yang berbicara padanya dengan nada penuh kasih sayang seperti itu. Bahkan teman yang paling dekat pun selalu menyisakan jarak tertentu.
Setelah merapikan diri, Mimpi Malam kembali keluar, menuruni tangga, dan menuju meja makan, di mana pelayan telah menyiapkan tempat duduk di hadapan Raja Mutlak.
"Itu... Guru, ini di mana?" tanya Mimpi Malam dengan suara pelan. Kediaman yang begitu anggun ini membuatnya ragu, seolah-olah ia sedang bermimpi.
"Ini tempat tinggalku. Kemarin kau mabuk, jadi aku membawamu ke sini. Semoga kau tidak keberatan," jawab Raja Mutlak dengan sopan, tampak layaknya seorang pria terhormat. Namun, kenyataannya tidak demikian. Ia sudah mencium dan memeluknya, sayangnya Mimpi Malam sama sekali tidak tahu.
Sikap guru yang dingin kini menjadi begitu ramah, membuat Mimpi Malam panik dan segera menggeleng, "Tidak, tidak masalah. Terima kasih, Guru. Aku seharusnya tidak mabuk." Ia menyesal. Ia memang jarang minum, tapi daya tahannya tidaklah lemah. Bagaimana mungkin hanya segelas anggur merah mampu membuatnya kehilangan kesadaran?
Melihat keraguan di mata Mimpi Malam, Raja Mutlak menjelaskan, "Anggur yang kau minum adalah anggur Prancis tahun 1990, kadar alkoholnya sangat tinggi. Kau meneguknya sekaligus, wajar saja kalau langsung mabuk."
Pelayan membawa hidangan satu per satu. Di atas piring yang indah tersaji masakan yang dihias dengan apik, bahkan lebih menggugah selera daripada makanan hotel kemarin.
Perut Mimpi Malam tiba-tiba berbunyi, wajahnya langsung memerah. Diam-diam ia melirik para pelayan yang sibuk, dan merasa lega melihat tidak ada yang bereaksi aneh. Dalam hati, ia bersyukur, tampaknya tak ada yang mendengar protes perutnya.
Namun, dari sorot mata Raja Mutlak yang berbinar, sebenarnya kelegaannya itu sia-sia. Saat ini, di mata Raja Mutlak hanya ada bayangan dirinya yang polos, menikmati setiap ekspresi Mimpi Malam.
"Ayo makan, setelah itu kita harus segera bersiap untuk bernyanyi," ingat Raja Mutlak.
"Ah, astaga, habislah aku! Hari ini hari pertunjukan di atas panggung!" Teriakan Mimpi Malam membuat seluruh penghuni apartemen terkejut. Ia baru sadar semua orang menatapnya, dan merasa telah mengganggu mereka. Bergegas, ia berdiri dari kursi dan dengan gugup meminta maaf.
Raja Mutlak melirik ke arah pengawal dan pelayan. Segera, para pengawal mengalihkan pandangan tanpa ekspresi sedikit pun seperti sebelumnya, berdiri tegak. Para pelayan pun kembali sibuk menghidangkan makanan dan membereskan peralatan makan, suasana pun normal kembali.
Melihat keadaan itu, Mimpi Malam merasa malu dan kembali duduk di depan meja makan.
"Bernyanyilah seperti saat kita berlatih. Kau pasti bisa," tatap Raja Mutlak yang penuh perhatian membuat Mimpi Malam merasa yakin pada dirinya sendiri. Ya, ia harus percaya diri.
"Ayo makan!" Raja Mutlak mendesaknya. Ia memperhatikan dengan saksama saat Mimpi Malam mengambil sumpit dan memasukkan makanan ke mulutnya, ingin tahu apakah masakan para pelayan sesuai dengan selera gadis itu.
"Enak tidak?" Begitu Mimpi Malam menelan makanannya, Raja Mutlak langsung bertanya.
Dari samping, Penyabar juga ingin tahu jawaban gadis itu, karena ia tahu betapa pentingnya jawaban itu bagi Raja. Jika diperhatikan baik-baik, tangan para pelayan pun bergetar, takut jika gadis itu tidak puas dan membuat tuan mereka marah, lalu mereka yang memasak akan lenyap bagai asap.
Masakan sungguh lezat. Mimpi Malam tersenyum puas, dua lesung pipitnya membuat semua yang hadir merasa lega.