Bab Tujuh Puluh: Mengelilingi Dunia

Raja Darah, aku sedang menunggumu. Biru Laut yang Menyegarkan 1067kata 2026-03-04 21:40:03

Jubah merah darah, gaun istana merah darah—yang satu memancarkan kemuliaan dan wibawa, yang lain menampilkan keanggunan dan kelembutan.

Simone dan Raja Merah terbang di udara. Semakin tinggi mereka melayang, angin pun bertiup semakin kencang hingga tubuh Simone bergetar menahan dingin. Barulah Raja Merah menyadari bahwa gadis di sisinya kini tak lagi sekuat dulu; tubuhnya tak mampu menahan cuaca sekeras ini. Dengan lembut, ia mengalirkan cahaya merah ke tubuh Simone, mengusir hawa dingin yang menusuk.

Mereka melayang bebas di langit, kadang tinggi, kadang rendah. Simone melihat mereka melewati Gerbang Kedamaian Surgawi, lalu menyapu di atas Tembok Besar. Kegembiraan tak kunjung pudar dari matanya, sebab pemandangan di bawah mereka terus berubah—kadang burung berkicau dan bunga bermekaran, kadang cuaca membeku dan tanah berselimut es.

Mereka berputar beberapa kali di atas Menara Eiffel dan sempat singgah sebentar di puncak Piramida. Sepanjang malam itu, mereka menjelajahi separuh dunia dari angkasa—sebuah pengalaman yang begitu indah dan ajaib.

Simone benar-benar tak ingin terjaga dari mimpi ini. Ia meyakini ini semua hanyalah mimpi, karena mana mungkin kejadian seperti ini nyata di dunia. Namun, inilah kenyataan—kenangan terakhir yang Raja Merah ciptakan bersama Simone sebelum ia meninggalkan dunia manusia. Namun, hanya Raja Merah yang akan menyimpannya; ia akan mengambil ingatan Simone. Bukan untuk menakutinya, tapi karena jiwanya yang belum utuh tak boleh mengingat apa pun tentang dunia darah; jika tidak, ia pasti akan pingsan lagi.

Simone yang berada dalam pelukan Raja Merah, terpesona oleh keindahan luar biasa yang berlalu di hadapannya. Ketika ia mendongak, ia mendapati sosok yang memeluknya begitu menakjubkan laksana dewa. Hatinya terasa lembut. Saat Raja Merah menunduk menatapnya, Simone menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah, bibirnya membentuk senyum malu-malu yang manis.

Bertemu seseorang yang begitu memesona, bahkan Simone—yang selama ini hanya berani memendam cinta dalam hati dan selalu berusaha menghindarinya—ikut terbuai oleh pesonanya. Ia berpikir, bukankah ini hanya mimpi? Jadi ia tak perlu lagi khawatir, tak perlu takut terluka.

Saat bibirnya disentuh oleh ciuman lembut, Simone menutup matanya. Tubuh mereka masih terbang di udara, seolah-olah sinar hangat mentari menyelimuti dirinya. Dalam pemandangan yang magis, bersama pria yang begitu sempurna, Simone larut dalam ciuman itu.

Hingga ia kehabisan napas dan mulai berusaha mengelak, Raja Merah pun merasakan ketidaknyamanannya. Ia melepaskan pelukannya, memandang gadis itu yang sedang menghirup udara segar dengan napas terengah. Dengan penuh kasih, ia mengacak rambut Simone dan membawanya mendarat di atas awan.

Di atas awan putih, Raja Merah berbaring santai, lalu dengan tegas menarik Simone ke dalam pelukannya. Dengan menggenggam tubuh mungil itu, hatinya menjadi tenang. Hanya gadis di pelukannya inilah yang mampu menghadirkan kehangatan di lubuk jiwanya; kesendirian telah menjauh dari dirinya.

Simone dengan patuh bersandar dalam pelukan itu—manis dan lembut. Perlahan-lahan, napasnya menjadi semakin tenang, lalu ia pun tertidur. Melihat gadis kecil itu sudah lelap, Raja Merah tersenyum lembut. Gadis kecil yang pelupa ini, bahkan dalam keadaan seperti ini pun bisa tertidur; ia benar-benar menganggap semua ini hanya mimpi.

Awan yang membawa dua insan itu melayang perlahan. Sebuah satelit berhasil merekam momen itu—hanya sekejap saja, mungkin orang-orang akan mengira itu benda terbang tak dikenal.

Raja Darah, aku sedang menunggumu.
Bab 70—Menjelajahi Dunia—tuntas.