Bab Tujuh Puluh Sembilan: Kencan
Saat melihat sopir Gu Wensong, yaitu Lin Ao, berjalan ke arahnya, Ximengsi masih sedikit terkejut. Ia sebelumnya dilanda keraguan, apakah seharusnya menjelaskan kepada Gu Wensong bahwa ia tidak sepatutnya menggunakan orang lain demi membalas dendamnya sendiri. Ditambah lagi, meskipun hari itu Gu Wensong setuju menjadi pacarnya, mereka belum pernah berinteraksi, Ximengsi pun berpikir mungkin Gu Wensong hanya bercanda.
Ketika melihat Gu Wensong bersandar di pintu mobil di belakang Lin Ao, keheranan Ximengsi mengalahkan segalanya.
Mungkin ia benar-benar harus jujur, memberitahu Gu Wensong bahwa ia hanya bercanda hari itu. Tak peduli betapa marahnya Gu Wensong, ia akan memohon maaf.
Setelah masuk ke mobil, Ximengsi menundukkan kepala, “Maaf, waktu itu…”
“Kita sudah menjadi sepasang kekasih, jadi kamu tidak perlu terlalu sopan. Ini adalah kencan pertama kita, kamu ingin pergi ke mana?” Gu Wensong memotong ucapan Ximengsi. Dengan kecerdasannya, ia sudah menebak apa yang ingin dikatakan Ximengsi. Tapi sekarang bukan waktunya baginya untuk berhenti begitu saja, karena ia sangat tertarik pada gadis itu. Sifatnya yang berubah-ubah, tenang di luar namun berbeda di dalam, membangkitkan rasa ingin tahu yang kuat di hati Gu Wensong.
“Eh…” Ucapannya terputus, Ximengsi masih ingin kembali ke topik sebelumnya.
“Oh iya, kamu lebih suka kencan yang tenang atau ramai? Kalau suka tempat tenang, kita bisa ke tepi laut. Kalau ingin yang ramai, tempatnya banyak. Kamu mau ke mana?” Gu Wensong kembali menghentikan niat Ximengsi untuk bicara.
“Benarkah bisa ke pantai?” tanya Ximengsi penuh harap. Laut adalah kesukaannya.
“Tentu saja. Meskipun jaraknya agak jauh, tapi kalau kamu suka, tidak masalah. Jadi, kita ke pantai, bagaimana?” Gu Wensong meminta pendapatnya.
Ximengsi mengangguk. Itu kan laut! Ia pun melupakan niat untuk menjelaskan hubungan mereka, larut dalam imajinasi tentang laut. Ia belum pernah melihat laut yang sebenarnya, dan kini sebentar lagi akan melihat lautan yang selama ini didambakan. Ximengsi begitu antusias hingga lupa ingin membahas hubungan dengan Gu Wensong.
Senja yang mulai meredup membawa warna yang seperti mimpi. Ximengsi tak sabar membuka pintu mobil, berlari menuju lautan yang kini hanya beberapa langkah di depannya. Deburan ombak menghantam batu, lautan yang luas tiada batas membuyarkan segala kekhawatiran di hatinya. Seolah ia kembali menjadi anak kecil yang bahagia, tanpa beban, hanya mengikuti keinginan hati mengejar hal-hal yang ia sukai.
Ia memejamkan mata, di kepala dan telinga hanya terdengar suara ombak, membayangkan dirinya menyatu dengan lautan. Laut itu menggebu, tapi ketika ombak surut, ia kembali tenang. Ketenangan dan kegembiraan berjalan bersama. Ximengsi tiba-tiba menyadari, hidup itu seperti lautan, tak mungkin selalu tenang. Dalam ketenangan selalu ada gelombang yang dahsyat. Dulu ia keras kepala ingin mempertahankan ketenangan, tapi tak peduli sekuat apa ia berusaha, ketika beberapa batu dilempar ke dalam kehidupan, semuanya jadi kacau. Kini, di hadapan lautan, Ximengsi merasa dadanya lapang. Hidup memang seharusnya penuh gejolak, barulah jantung benar-benar bisa berdetak.
Dulu Ximengsi selalu menghindari cinta, ia terlalu keras kepala untuk menjalin hubungan, hanya karena tak ingin mengusik ketenangan hidupnya. Namun kini ia sadar, memiliki seseorang di sampingnya terasa sangat menyenangkan.
Perasaan itu berbeda dengan teman sesama jenis. Jika beberapa bulan lalu, Ximengsi menganggap memiliki teman saja cukup, karena ia tidak percaya pada cinta. Sebenarnya, di dalam hatinya ia pengecut, takut disakiti oleh cinta, sehingga menolak, berlapis-lapis menyamarkan diri dan melindungi diri sendiri. Kini, lautan memberinya keberanian. Jika belum mencoba, ia tak akan pernah tahu bagaimana akhirnya.
Ia menoleh ke arah Gu Wensong. Pria itu memandang laut, matanya tenang, angin meniup bajunya. Ia adalah pangeran impian para gadis, begitu tampan, bagaimana mungkin ia pantas bersanding dengannya? Perasaan galau kembali menyeruak, Ximengsi sangat berharap bisa bersama pria yang sedang menatap lautan itu. Jantungnya berdegup kencang, apakah ini yang disebut “cinta”?