Bab 67: Terima Kasih
Mendengar kritikan dari Ye Ming Shang, Guru Gunung Es semakin menggila dan meraung-raung seperti orang kehilangan akal.
“Aku tidak pantas? Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang murid rendah dan hina, sedangkan aku adalah guru yang mulia! Apa hakmu bicara padaku seperti itu?”
Gila, benar-benar sudah gila. Itulah yang terlintas di benak semua orang yang hadir.
“Guru memang pekerjaan yang suci, tapi kau sama sekali tidak layak menyentuh kesucian itu. Aku tidak tahu apa yang membuatmu jadi sebegitu gilanya, tapi setiap kata dan perbuatanmu justru menjauhkanmu dari kesucian itu. Luar tampak suci, namun hatimu sudah membusuk. Tuhan memberimu wajah cantik, namun jiwamu dipenuhi kebusukan dan kotoran. Bukan hanya tidak pantas jadi guru, bahkan kau tak pantas disebut manusia.” Setiap kata yang diucapkan Ye Ming Shang seolah menghujamkan belati ke hati Guru Gunung Es, dan setiap katanya juga membakar semangat para penonton yang berkumpul.
“Aku tak mengerti kenapa orang sepertimu bisa terus bertahan di sekolah ini dan tetap jadi guru. Kudengar kau orangnya licik? Orang yang menyinggungmu katanya mati secara misterius? Aku ingin lihat, kemampuan apa yang kau miliki sampai bisa membunuhku?!” Ye Ming Shang menatapnya dengan senyum mengejek.
Mendengar ucapan Ye Ming Shang, para siswa pun mulai ribut membicarakan. Di luar kelas pun sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berbisik dan saling menebak-nebak. Suara Guru Gunung Es yang cempreng memang sulit diabaikan. Dinding kelas pun tak cukup kedap suara untuk menahan keributan itu. Awalnya, guru-guru dari kelas lain menahan diri karena segan pada Guru Gunung Es, tapi begitu melihat ada yang melawannya dan penonton semakin banyak, mereka pun ikut penasaran dan menguping bersama para murid.
Sejujurnya, sebagai guru mereka sangat bangga, apalagi mengajar di sebuah perguruan tinggi ternama. Namun, mereka semua sangat muak dengan perilaku Guru Gunung Es, hanya saja wanita itu benar-benar menyeramkan dan penuh misteri. Siapa pun yang menentangnya konon mati secara aneh. Polisi memang selalu turun tangan, tapi tak pernah ada cukup bukti, sehingga dia selalu bebas. Karena kekuatan aneh itulah, para guru dan bahkan kepala sekolah pun tak berani menentangnya—siapa sih yang tidak takut mati? Apalagi mati dengan cara yang begitu ganjil.
Tapi karena sikap menghindar dan membiarkan itulah, wanita itu semakin menjadi-jadi. Awalnya masih mengajar dengan baik, tapi lama kelamaan benar-benar berubah seperti orang lain. Ekspresi semakin dingin, temperamen semakin meledak-ledak. Sudah beberapa kali ada yang mencoba menasihati atau menegurnya, tapi selalu dibalas dengan balas dendam tanpa jejak—tak pernah ada bukti.
Para guru dan murid sudah lama tak tahan dengan penindasan Guru Gunung Es. Ada yang keluarganya punya pengaruh, bahkan ada pejabat atau orang kuat daerah, tapi siapa pun yang mencoba menindasnya justru sial sendiri. Wanita itu selalu lolos tanpa luka, sementara lawannya malah harus masuk rumah sakit walau tidak sampai meninggal.
Karena itulah, tak ada yang berani menyentuhnya. Tapi kini ia bertemu Ye Ming Shang, yang sama sekali tak peduli soal keanehan atau kekuatan wanita itu. Ia yakin, apa pun cara yang dipakai guru tersebut, tak akan ada yang bisa menandingi dirinya. Kecuali mungkin kalau Empat Raja Suci dipanggil, tapi mungkinkah itu?
Ucapan Ye Ming Shang benar-benar tepat di hati semua orang. Mereka menatapnya dengan rasa haru, seolah bertemu kerabat sendiri. Mereka semakin mengaguminya dan diam-diam berharap Ye Ming Shang benar-benar mampu menaklukkan wanita gila itu. Namun mereka juga khawatir, jangan-jangan Ye Ming Shang malah menjadi korban berikutnya.
“Aku tak peduli kau punya ilmu hitam atau apalah itu. Semua itu tak berarti bagiku. Mungkin orang lain tak bisa menemukan bukti kejahatanmu, atau tak mampu melawan sihirmu. Tapi sayang sekali, kau bertemu aku. Mimpi burukmu akan berakhir di sini.” Ucapan Ye Ming Shang yang lantang langsung disambut tepuk tangan gemuruh dari dalam dan luar kelas.
Ye Ming Shang hanya bisa menghela napas dalam hati. Betapa menjengkelkannya wanita ini hingga bisa menjadi musuh bersama semua orang.
“Bajingan! Kalian semua mau mati, ya?! Dasar belalang hina, kalian semua harus mati, semuanya mati!” Dengan muka merah padam, Guru Gunung Es melompat-lompat, jarinya gemetar menunjuk ke sana sini.
“Mati? Kau pikir kau siapa? Mau siapa pun mati, langsung mati?” seseorang mengejeknya dingin.
“Berani-beraninya kau bicara begitu! Aku ini guru, pemberi ilmu pada kalian!” Guru Gunung Es menatap tajam pada siswa yang bicara.
“Kau sudah tak pantas jadi guru lagi. Kau sudah dipecat.” Terdengar suara dari luar pintu. Guru Gunung Es langsung menoleh dan berteriak.
“Kau siapa? Apa hakmu memecatku?!”
“Aku ini kepala sekolah!” Pintu terbuka, jalan diberikan, dan Li Jianguo melangkah masuk dengan wajah serius.
“Zhou Xiaoli, mulai hari ini kau bukan lagi guru di sekolah ini. Tak akan ada sekolah mana pun yang mau mempekerjakan guru seperti dirimu.”
Li Jianguo menatap Zhou Xiaoli yang mengamuk tanpa gentar. Meski takut akan rumor menyeramkan tentangnya, tapi setelah seorang ahli metafisika seperti Ye Ming Shang saja berani tampil, apa yang perlu ditakutkan?
“Li Jianguo! Berani-beraninya kau memperlakukan aku seperti ini! Kau tak takut mati?!” Zhou Xiaoli menatap Li Jianguo dengan tatapan dingin membunuh.
“Aku justru ingin tahu, apa kau sendiri tak takut mati?” Tiba-tiba terdengar suara laki-laki, dan Kepala Kepolisian Lu muncul di ambang pintu.
Ia melangkah masuk ke kelas, diikuti beberapa polisi di belakangnya, penuh wibawa.
“Zhou Xiaoli, kau diduga terlibat beberapa kasus pembunuhan dan penganiayaan. Silakan ikut kami!” Kepala Lu benar-benar datang tepat waktu. Awalnya ia khawatir Zhou Xiaoli akan mengamuk dan menolak pergi.
“Menangkapku? Atas dasar apa? Apa bukti kalian bahwa aku membunuh?!”
“Kami memang belum punya bukti, tapi hanya berdasarkan ancaman, intimidasi, dan penghinaan pada siswa saja aku sudah berhak menahanmu. Bawa pergi!” Kepala Lu tak memberinya kesempatan bicara, sekali lambaian tangan langsung memborgol dan membawanya pergi.
Setelah Zhou Xiaoli dibawa, masalah pun dianggap selesai. Li Jianguo berbicara beberapa kata dengan Ye Ming Shang lalu pergi. Kelas lain kembali masuk kelas, sementara para siswa berbondong-bondong mengacungkan jempol pada Ye Ming Shang.
“Kawan, kau hebat sekali, berani-beraninya melawan wanita gila itu~”
“Keluargamu kerja apa sih? Kayaknya keren banget.”
“Ye, tadi kau keren sekali.”
“Eh, jangan baper deh.”
“Urus saja urusanmu!”
...
“Tapi, wanita itu memang menyeramkan, Ye. Kau benar-benar yakin bisa menghadapi dia?” Anak laki-laki berkacamata yang dari tadi diam akhirnya angkat suara. Seketika suasana jadi hening.
“Iya, dulu ayahku sampai menyuruh orang memberinya pelajaran. Tapi semua orang itu malah celaka, wanita itu besoknya tetap masuk kelas seperti biasa, malah aku yang kena semprot habis-habisan, dan aku tak berani protes.”
“Bahkan beberapa kali orang yang menyinggung dia mengalami kecelakaan aneh, CCTV juga tak menemukan apapun, akhirnya kesimpulannya cuma satu—kebetulan!”
“Siapa yang percaya itu cuma kebetulan? Mana mungkin sebanyak itu kebetulan?”
“Betul, tapi dia selalu punya alibi dan tak pernah ada bukti yang menunjukkan itu ulah manusia.”
...
“Ye, kau harus benar-benar hati-hati.”
“Iya, kau yakin benar bisa? Kalau tidak mending sembunyi dulu sebentar.”
Atas perhatian semua orang, Ye Ming Shang merasa hangat di hati. Melihat anak-anak remaja ini, ia pun merasa mereka sangat menyenangkan.
“Tak masalah, apa pun ilmu hitam atau apapun itu, aku tak takut. Hal yang paling tidak kutakuti adalah ilmu-ilmu sesat.”
Ye Ming Shang tersenyum.
“Wah! Ye, kau percaya ilmu hitam atau tidak sih?”
“Tentu saja percaya. Zhou Xiaoli memang punya sedikit ilmu hitam.”
“Lalu kenapa kau sama sekali tak khawatir?” tanya seorang gadis mungil.
“Karena aku lebih hebat darinya.” Ye Ming Shang tersenyum pada gadis itu.
Senyum itu langsung membuat gadis kecil itu bersemu merah, menunduk dan memainkan jarinya.
“Haha, Ye, senyummu itu bikin cewek-cewek klepek-klepek.” Seorang siswa kekar menggoda.
“Ye, kau memang harus sering tersenyum, senyummu bagus sekali.” Seorang gadis lain menutup mulut dan terkikik.
...
Ye Ming Shang tersenyum menatap mereka semua, merasakan kehangatan suasana, seperti saat ia kecil bermain bersama teman-teman panti asuhan, seperti keluarga sendiri. Ia pun melamun sejenak.
“Eh? Ye, kenapa kau menatap Haozi terus? Jangan-jangan kau suka sama cowok? Hahaha!” seseorang menggoda.
“Jangan bercanda, Hao-ge itu orang bermartabat, sabun sebagus apapun dia tak akan pungut.” Anak laki-laki kurus buru-buru menukas.
Ye Ming Shang tersadar dan menggeleng sambil tersenyum kecut.
“Aku hanya merasa suasana sekarang sangat hangat, seperti saat kecil bersama teman-teman panti asuhan.” Ye Ming Shang tersenyum.
Namun semua orang mendadak terdiam, merasa sedih tanpa sebab. Meski Ye Ming Shang tersenyum, seolah tak mempermasalahkan, mereka tetap merasa iba dan tak tega, terutama mereka yang dulu sering membicarakan Ye Ming Shang di belakang, kini merasa sangat menyesal.
“Jangan seperti ini, sekarang kita semua teman Ye, kan?”
“Iya, betul. Mulai sekarang kita semua temanmu.”
“Aku minta maaf, dulu aku sering ngomongin kau, maaf ya.”
“Aku juga, soalnya cewek-cewek pada suka kau, aku jadi iri dan sering jelek-jelekin kau.”
“Mulai sekarang kau jadi saudara gue, siapa berani ganggu, bilang saja, gue hajar dia.” Si pemuda kekar itu juga bicara.
“Hahahaha!” Semua orang tertawa bahagia.
...
Ye Ming Shang menatap mereka dengan mata sedikit berkaca-kaca.
“Terima kasih semuanya! Terima kasih sudah membelaku, terima kasih mau jadi temanku. Terima kasih!”