Bab Empat Puluh Tiga: Keindahan Kebun Persik
Ye Ming Shang mengeluarkan sebuah benda dan melemparkannya dengan kuat. Setelah itu, ia membentuk mudra dan melafalkan mantra, dan tampak di udara terjadi distorsi seperti riak di permukaan danau yang perlahan berubah menjadi pusaran besar.
“Gerbang Alam Baka telah terbuka. Jika tidak masuk sekarang, kapan lagi!” seru Ye Ming Shang dengan lantang. Jiwa-jiwa yang menunggu segera mengucapkan terima kasih dengan penuh hormat, lalu bergegas masuk ke dalam pusaran itu. Walau pusaran itu cukup besar, namun untuk menampung begitu banyak jiwa tetap membutuhkan waktu. Lagipula, di Alam Baka, keberadaan mereka perlu dicatat. Kedatangan jiwa sebanyak ini tentu saja harus melalui beberapa prosedur.
Sementara itu, Ye Ming Shang duduk bersila untuk beristirahat sejenak. Si gendut pun ikut duduk di sampingnya, mengeluarkan sebungkus rokok dan menyodorkan sebatang pada Ye Ming Shang. Ia menatapnya sebentar lalu menerima, menjentikkan jari hingga muncul nyala api kecil di ibu jarinya dan menyalakan rokok itu. Ia mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap tebal, seolah-olah kelelahan yang menempel di raganya berkurang cukup banyak.
Sudah lama ia tidak menyentuh benda semacam ini. Kini, saat kembali merasakannya, ada sensasi akrab yang sulit dijelaskan. Sambil memandang jiwa-jiwa yang berarak di langit, ia diam-diam merenung, hatinya dipenuhi berbagai perasaan.
“Eh, menurutmu, mereka nanti bakal terlahir kembali di mana?” tanya si gendut, bosan melihat pemandangan itu.
“Siapa yang tahu? Bisa saja di mana saja, dari utara ke selatan, timur ke barat. Mungkin beberapa hari lagi, ada di antara mereka yang lahir di sekitar kita,” jawab Ye Ming Shang pelan sembari mengepulkan asap.
Keduanya mengobrol ringan, tanpa arah. Tak lama, Qiao An dan yang lainnya pun tiba di tempat itu. Melihat kondisi mereka baik-baik saja, semua menghela nafas lega. Dari kejauhan, pertarungan tadi tampak sangat mengerikan, seperti pertempuran para dewa, sungguh di luar batas kemampuan manusia.
“Kakak Ye, kau tidak apa-apa?” tanya Lin Qianqian dengan lembut ketika mendekat.
Mendengar nada penuh perhatian itu, Ye Ming Shang hanya menghela nafas dalam hati dan menggeleng pelan. Ia tidak menunjukkan keakraban, bahkan sengaja bersikap menjaga jarak, semuanya agar Lin Qianqian bisa mengikhlaskan. Karena di hatinya, ada satu sosok yang tak bisa ia lupakan, bayangan gadis itu telah mengisi ruang hatinya sedemikian dalam sehingga mustahil membuka diri untuk wanita lain. Meski ia tak tahu kini gadis itu berada di mana, ia yakin akan menemukannya suatu hari nanti.
Lin Qianqian menggigit bibirnya, merasakan dinginnya sikap Ye Ming Shang dan usahanya untuk menjauh. Jarak di antara mereka kini bagaikan tembok tebal, bukan lagi sekadar selembar kertas. Perasaan asing itu membuat hatinya sakit. Ia tidak tahu kenapa Kakak Ye tiba-tiba menjauh. Apakah ia melakukan kesalahan? Jika iya, katakan saja, ia pasti akan memperbaikinya.
Menyadari suasana yang menjadi canggung, Qiao An pun muncul sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana dengan berbagai tingkah lucu. Kadang, si gendut melontarkan komentar yang membuat Qiao An terdiam kehabisan kata-kata.
Mereka tidak harus menunggu lama, sekitar setengah jam, semua jiwa telah masuk ke dalam pusaran. Di udara kini hanya tersisa sepasang pria dan wanita, sang pria tampan, sang wanita jelita. Mereka saling memandang dari kejauhan, tatapan mereka penuh pergolakan batin.
“Caiyun, maafkan aku.” Segala kata yang ingin diucapkan, semuanya hanya bisa dirangkum dalam kalimat itu.
Mendengar permintaan maaf itu, gadis itu memejamkan mata, air mata mengalir di pipinya yang elok.
“Caiyun, aku tahu dosaku terlalu besar, mungkin takkan pernah kau maafkan. Tapi... tapi aku benar-benar menyukaimu. Tidak! Aku mencintaimu!” Ucap pemuda itu penuh emosi, menatap gadis di depannya dengan harapan.
Sang gadis menghela nafas panjang, air mata masih membasahi wajahnya, ia memalingkan muka, enggan memandang lelaki itu.
“Lihatlah, lihat tanah yang dulu begitu kau kenal,” ujar sang gadis, menunduk memandang lingkungan yang kini kelam dan menyeramkan.
“Kau masih ingat betapa indahnya dulu? Itu desa kita. Kau masih ingat hari-hari bahagia yang kita lewati bersama? Lihat, di sanalah aku pertama kali menemukanmu. Di sana tempat kita sering memetik buah liar, dan itu sungai kecil tempat kau menimba air...” Ucapan gadis itu diiringi telunjuknya menunjuk satu demi satu tempat yang pernah menyimpan kenangan mereka.
Suaranya bergetar, emosinya semakin memuncak. Wajahnya penuh kerinduan, seolah-olah masa lalu yang indah itu terpancar dari matanya. Walau ia tidak menatap sang pemuda, dari reaksi itu jelas ia masih amat mencintai lelaki itu.
Bagaimana mungkin tidak? Cinta pertama, siapa yang bisa melupakannya? Terlebih dia, gadis polos yang tumbuh di lingkungan sederhana, lelaki pertama yang masuk dalam hatinya telah menjadi luka yang menggores sangat dalam. Sakit, tapi tak bisa dilupakan. Jika harus melupakan, berarti juga harus membuang hati itu sendiri. Lelaki yang ia cintai pertama dan satu-satunya, justru telah melukainya begitu dalam, kesalahan yang terlalu besar untuk bisa dihapuskan.
“Caiyun... maafkan aku...” Suara pemuda itu pun lirih dan penuh nestapa. Ia tahu betul, gadis itu masih menyimpan rindu, duka, hingga kekecewaan yang dalam. Bagaimanapun, ia adalah penyebab kematian ribuan warga Desa Taoyuan, mengubah surga kecil itu menjadi neraka dunia.
Cinta? Tentu saja cinta, sangat cinta. Sampai sejauh mana? Sampai rela mengorbankan nyawa, kebebasan, bahkan menjadi budak pun ia sanggup. Asal bisa menebus cinta murni itu, tapi mungkinkah?
Ia telah melukai gadis itu, terlalu dalam. Ia juga salah telah beranggapan bahwa rekan-rekannya bisa berubah karena atmosfer desa Taoyuan, atau mengira para iblis pemakan manusia itu bisa meninggalkan kekejaman mereka.
Ya, kenyataan tak jauh berbeda dari rumor, hanya saja niat hatinya yang berbeda. Dari Jepang ke Tiongkok, ia telah menyaksikan terlalu banyak peperangan, kebusukan, dan kotoran manusia. Ia pernah mengira hati manusia adalah hal paling kejam di dunia, demi kepentingan rela mengorbankan hati nurani dan kemanusiaan.
Sudah tak terhitung berapa kali ia melihat orang mengkhianati saudara sendiri demi keuntungan. Untuk bertahan di lingkungan yang kejam, ia pun mulai berubah—menjadi dingin, menjadi tanpa belas kasih...
Jika tidak terjadi sesuatu, mungkin sebentar lagi ia pun akan menjadi seperti itu, jika masih hidup.
Sampai akhirnya ia bertemu gadis polos bernama Caiyun dan warga Desa Taoyuan yang sederhana. Awalnya, ia sangat kaku, susah menerima. Tapi perlahan, ia mulai menyukai kehidupan semacam itu—tanpa prasangka, tanpa tipu daya, bebas dari kekhawatiran, hidup sederhana dan bahagia. Itulah hidup yang ia impikan! Sederhana tapi bermakna, tanpa intrik, tanpa kepura-puraan. Bekerja keras, makan seadanya, asal bersama orang tercinta sudah cukup...
Andai saja hidupnya terus berjalan seperti itu, mimpinya pasti tercapai. Namun, kebodohan dan ketidaktahuannya telah menghancurkan semuanya. Ia terlalu menilai tinggi hati nurani rekan-rekannya. Mereka, ternyata lebih kejam dari ular berbisa...
“Kau kira, permintaan maaf itu cukup?” tanya Caiyun sambil menangis tersedu, tampak rapuh dan mengundang belas kasihan.
“Caiyun...” Pemuda itu tak tahan melihat gadis itu menangis, ingin menghibur tapi tak tahu harus berkata apa.
“Tak perlu bicara lagi, jodoh kita sudah habis, cinta kita pun sudah sampai di sini. Setelah menyeberangi Jembatan Penyesalan dan meneguk Sup Pelupa, kau dan aku hanyalah orang asing...” Gadis itu menghapus air matanya, menarik nafas dalam-dalam, menatap pemuda itu dengan tenang lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
“Caiyun...” Meski gadis itu menatapnya sekali, tatapan itu telah menghapus seluruh rasa cinta, seluruh kerinduan, juga menghapus dendam dan keputusasaan. Benar seperti yang ia katakan, mulai saat ini, mereka hanyalah orang asing.
Pemuda itu termenung, menatap bayangan gadis itu perlahan menghilang, hingga akhirnya lenyap di dalam pusaran. Ketika bayangan itu sirna, hatinya seolah kehilangan sesuatu yang sangat penting, seperti ada bagian dari hatinya yang digali dan dibawa pergi.
“Tidak! Caiyun, aku tidak akan menyerah. Jika di kehidupan ini kau tak bisa memaafkanku, aku akan menunggu di kehidupan berikutnya! Segala hutangku di kehidupan ini, biar kutebus dengan sepuluh kehidupan! Bahkan Sup Pelupa pun takkan bisa menghapus ingatanku tentangmu, cintaku padamu. Mulai sekarang, aku hanya akan mengejarmu, jangan pernah berpikir bisa melepaskanku, Caiyun!”
Dengan histeris, pemuda itu berteriak, berlari menuju pusaran, kedua kakinya bergerak kencang seolah berlari kencang, seakan itu bisa membawanya lebih cepat mendekati gadis itu.
Melihat bayangan pemuda itu menghilang ke dalam pusaran, Ye Ming Shang menggerakkan tangannya, benda tadi kembali ke genggamannya dan ia simpan di saku. Tanpa benda itu, pusaran di udara perlahan lenyap dan langit kembali seperti semula.
Adegan barusan membekas di hati semua yang hadir, baik tua maupun muda, manusia maupun arwah, semuanya terharu. Mereka semua merasa sedih dan simpati pada pasangan itu.
Ye Ming Shang pun tak bisa menahan kenangan tentang gadis yang sama eloknya, yang rela menahan luka demi dirinya, yang di saat terakhir pun masih menatapnya dengan senyuman. Hatinya pun ikut terguncang.
“Jika hati sebening es, bahkan langit runtuh tak membuat gentar; di tengah perubahan tetap tenang, jiwa tenteram dan damai...” Menyadari gejolak perasaannya, ia diam-diam melafalkan mantra penenang hati, menstabilkan emosinya.
Selain dirinya, yang lainnya pun tampak tersentuh, kenangan dan perasaan lembut di dasar hati mereka turut terusik. Mata mereka berkaca-kaca, samar-samar seakan melihat sosok masa lalu tersenyum pada mereka.
Benar, setiap orang punya kenangan yang indah sekaligus menyakitkan.
Ye Ming Shang menggeleng, mengabaikan pandangan penuh perasaan dari Lin Qianqian, lalu memimpin rombongan untuk pergi.
“Desa Taoyuan yang dulu... andai bisa melihatnya sekali saja sebelum mati pun aku rela,” ujar si gendut, menoleh sekali lagi pada pemandangan yang kini suram.
Entah dewa mendengar harapannya, begitu ia berkata, awan gelap yang selama ini menutupi langit perlahan-lahan tersibak. Di ufuk timur, matahari mulai menampakkan diri, cahaya pagi pertama menyinari bumi, mengusir gelap dan hawa kematian.
Tanaman yang sebelumnya tampak gelap dan menyeramkan kini menampakkan warna aslinya seiring lenyapnya kabut hitam. Pohon-pohon tumbuh subur, bunga dan rumput menghijau, di bawah cahaya mentari dan kabut keemasan, pemandangan indah bak negeri para dewa pun tercipta. Semua tertegun memandangnya.
“Hei, Gendut, keinginanmu terkabul. Cepatlah mati!” goda Qiao An tiba-tiba.
“Brengsek!”
“Ha ha ha ha ha!”
... (Bersambung)