Bab Empat Puluh Enam: Dunia Masih Dipenuhi Orang Baik

Penjinak Iblis Yin dan Yang Tidak ingin terkenal 3403kata 2026-02-09 22:48:24

Ketika ia melangkah masuk ke kelas, beberapa orang langsung memperhatikannya. Mustahil tidak mengenal seseorang yang baru setengah bulan bersekolah tapi hampir sepuluh hari absen dari pelajaran. Selain itu, wajah tampannya dan aura dingin yang ia miliki membuatnya menjadi idola para gadis penggemar pria berkarakter misterius. Walau belum lama berada di sini, ia sudah menjadi musuh bersama para siswa laki-laki.

Tatapan dan bisik-bisik teman-temannya diabaikan sepenuhnya oleh Malam Muram. Di dunia ini, suara yang berbeda itu banyak, tak perlu semua dihiraukan, jika tidak akan sangat melelahkan, bukan? Lagipula, beberapa hari lalu seorang gadis manis bernama Kuntum juga pernah menyatakan perasaan padanya. Ekspresi gadis itu saat melihatnya tampak canggung, hal yang wajar, sebab siapa pun yang ditolak di hadapan umum pasti akan sulit lekas melupakannya, kecuali memang sudah terbiasa.

“Hai, Malam!” Sapu Kayu menyapanya dengan senyum ramah. Wajah lembutnya selalu dihiasi kehangatan.

“Hmm~” Malam Muram mengangguk singkat sebagai balasan.

Sifat Malam Muram, jika dihadapkan pada makhluk gaib, kadang ia justru tersenyum menggoda mereka, namun saat berurusan dengan manusia, ia hampir selalu berwajah datar, bahkan pada teman sendiri jarang sekali memperlihatkan tawa. Sifatnya ini, selain terkesan angkuh, juga menyimpan sisi misterius yang mendalam.

Hari ini, guru yang mengajar bukanlah lelaki berkacamata paruh baya itu, melainkan sosok Guru Gunung Es yang sudah lama tak terlihat. Ia tetap sama seperti dulu, wajah selalu dingin, seolah semua orang berhutang padanya. Malam Muram hanya bisa mengelus dada, padahal wajahnya cantik, kenapa tidak pernah mau tersenyum? Apa menariknya selalu berwajah kaku? Kalau orang yang mengenal Malam Muram tahu isi kepalanya saat ini, pasti akan berkata, “Kau sendiri pantas bicara begitu?”

Guru Gunung Es itu rupanya juga menyimpan dendam pada Malam Muram, matanya menatap tajam ke arahnya, lalu dengan suara keras meletakkan buku di meja.

Hening.

Kelas tiba-tiba menjadi sunyi, hanya terdengar napas para siswa. Satu per satu menatap guru di mimbar dengan cemas, beberapa bahkan menelan ludah keras-keras.

Guru Gunung Es menyapu seluruh kelas dengan tatapan dingin. Siapa pun yang tertangkap matanya langsung merinding, bulu kuduk berdiri. Akhirnya, sorotannya berhenti pada Malam Muram.

“Sebelum pelajaran dimulai, aku akan memberikan teguran keras pada siswa yang telah merusak ketertiban kelas!” Suaranya merdu, kalau saja ia mau bernyanyi pasti indah, namun kepribadian yang sedingin es dan sikap kasar itu benar-benar menyia-nyiakan karunia tersebut.

Tak ada yang berani bersuara. Semua memandang dengan tegang, bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan siswa sial yang menyinggung guru gila ini.

“Selama bertahun-tahun aku mengajar, belum pernah melihat seorang siswa yang baru masuk setengah bulan, tapi sudah bolos hampir separuh waktu! Waktu di kelas lebih sedikit daripada waktu istirahat. Apakah itu perilaku seorang siswa? Bahkan berani menantang guru di hadapan umum, sungguh melampaui batas.” Tatapan Guru Gunung Es sengaja atau tidak terus mengarah pada Malam Muram, jelas sekali semua kata-kata itu ditujukan padanya.

“Malam Muram, berdiri kau!” Guru Gunung Es menghentak meja.

Sudah kuduga. Guru gila ini cari gara-gara lagi. Selalu saja mengincar dirinya sejak hari pertama masuk sekolah. Begitu lama tidak bertemu, baru muncul sudah cari ribut. Apa ia kira Malam Muram mudah dipermainkan? Bahkan dengan pengaruh Lijanegara, ia tetap berani macam-macam? Orang seperti itu, pendendam dan temperamental, bagaimana bisa jadi guru di universitas ternama? Bahkan untuk jadi guru, ia tak pantas! Kenapa belum dipecat? Atas dasar apa ia bisa bertindak sewenang-wenang seperti ini?

“Malam Muram, kau tidak dengar? Berdiri sekarang juga!” Suara Guru Gunung Es meninggi, penuh tekanan.

“Oh? Kau bicara padaku?” Malam Muram menyipitkan mata, menjawab dengan santai.

“Kurang ajar! Berani-beraninya kau menantang wibawa guru! Tak pernahkah orang tuamu mengajarkan untuk menghormati guru?!” Guru Gunung Es kembali membentak sambil menghantam meja.

Suasana tiba-tiba jadi tegang, seperti badai besar akan datang. Walaupun Guru Gunung Es sangat ditakuti, kehadiran Malam Muram justru seperti memberi efek sebaliknya. Rasa takut siswa-siswa berkurang, mereka mulai berbisik, beberapa bahkan diam-diam merekam dengan ponsel.

“Wah, maaf ya, aku bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah orang tuaku. Mungkin saja mereka pun menarik, toh aku juga begini adanya.” Jawaban Malam Muram tetap santai.

Jawaban itu langsung membuat beberapa siswa tertawa, namun mereka yang lebih peka menyadari betapa Malam Muram ternyata yatim piatu, dan timbul sedikit rasa simpati. Sedangkan pada Guru Gunung Es yang terus menekan, mereka jadi semakin muak.

“Huh! Ternyata bocah liar tanpa didikan orang tua. Pantas saja tak tahu tata krama. Benar-benar anak haram yang tak jelas asal usulnya!” Guru Gunung Es melontarkan sindiran tajam tanpa malu.

Ucapan itu memicu ketidakpuasan banyak siswa. Bahkan yang biasanya lamban pun tahu kini Malam Muram adalah yatim piatu. Dunia ini masih banyak orang baik, mereka berempati, bahkan yang semula memusuhinya pun melunak, mengingat nasibnya yang malang.

Sebaliknya, sindiran kejam Guru Gunung Es menyinggung sisi kemanusiaan para siswa. Mereka memandangnya dengan tatapan jijik. Banyak yang merekam sudah bertekad akan menyebarkan video ini, agar semua orang tahu tabiat asli guru tersebut.

“Guru, Anda keterlaluan. Jangan libatkan keluarga! Bagaimana bisa berkata seperti itu pada Malam?” Seorang siswa laki-laki berkacamata, tipe kutu buku, berdiri menegur.

“Benar, terlalu kasar! Dia yatim piatu, sudah cukup malang. Kenapa masih harus diperlakukan seperti itu? Guru macam apa Anda?!” Seorang siswi yang menyukai Malam Muram berkata dengan mata merah.

“Sekalipun guru, Anda harus minta maaf pada Malam!” Begitulah manusia, mudah terpengaruh. Setelah satu orang bicara, yang lain pun ikut berdiri membela.

“Minta maaf pada Malam!”

“Minta maaf pada Malam!”

“Minta maaf pada Malam!”

Melihat teman-temannya yang dengan mata memerah membela dirinya, hati Malam Muram terasa hangat. Ada kehangatan yang nyaman, bahkan matanya sempat berkabut, namun segera ia kuasai agar tak kehilangan kendali. Melihat mereka yang biasanya pendiam, ia merasa mereka sangat menggemaskan, berhati baik, penuh semangat. Dunia ini masih banyak orang baik, hanya saja ia selama ini tak pernah melihat kedalaman hati mereka.

“Kalian semua mau memberontak?! Kalian tahu siapa aku? Aku guru kalian! Wali kelas kalian! Kalian hanya siswa, dengan hak apa kalian berani kurang ajar padaku?!” Guru Gunung Es menjerit histeris, suara melengking menusuk telinga hingga semua terdiam.

Namun, amarah Guru Gunung Es belum juga reda. Ia menatap semua siswa dengan bengis sambil berteriak.

“Kalian pikir kalian siapa? Kalian hanya segerombolan rendahan tak berpendidikan! Tanpa bimbinganku, kalian bukan apa-apa! Aku tidak sudi punya murid seperti kalian, aku tidak akan mengajar kalian lagi, semua keluar dari sini!”

Guru Gunung Es tampak seperti perempuan penuh dendam yang lama tak mendapat perhatian, rambut berantakan, mata merah membelalak, mulutnya bergerak liar, suara tajamnya membelah udara dan menusuk pikiran semua orang. Bahkan menutup telinga pun tak mampu menahan derita itu.

“Kau, suruh kami keluar?” Sebuah suara berat dan menenangkan terdengar, meredam kebisingan tajam tadi. Siswa-siswa pun melepas tangan dari telinga, menoleh ke asal suara.

Entah sejak kapan Malam Muram berdiri, meski tingginya tak sampai satu delapan puluh, ia tampak sebesar raksasa. Wajah tanpa ekspresi, datar tanpa suka maupun duka, namun justru memancarkan aura welas asih ilahi, memukau semua yang memandang. Beberapa bahkan mengucek mata, memastikan bukan ilusi.

Malam Muram melanjutkan dengan suara tenang.

“Kau menyebut kami rendahan?”

“Kau bilang kami ini apa?”

“Kau anggap tanpa bimbinganmu kami bukan siapa-siapa?”

Nada tanpa emosi itu bergema, namun semua siswa merasakan getaran amarah di balik kata-katanya.

“Memang, kenapa? Apa yang kukatakan salah? Kau itu anak haram tanpa didikan orang tua!” Guru Gunung Es tetap berteriak, tak mau kalah.

“Oh? Kau bicara begitu padaku? Tahukah kau, hanya dengan ucapanmu barusan, kalau sampai didengar oleh keluargaku, nasibmu akan lebih buruk dari kematian.” Malam Muram tetap tenang, seolah hanya bicara tentang urusan sepele.

Tapi ketenangan itu membuat beberapa siswa cerdik menangkap sesuatu yang luar biasa. Malam Muram, yang katanya yatim piatu, ternyata masih punya keluarga, dan tampaknya bukan keluarga biasa.

“Huh! Kau menakut-nakutiku? Ini zaman hukum...” Guru Gunung Es belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong Malam Muram.

“Hukum?! Kau bicara hukum padaku?! Kau tahu ini negara hukum?!”

Nada suara Malam Muram naik, sorot matanya tajam.

“Kau sebagai pendidik, seenaknya menghinakan siswa! Tahu apa artinya itu? Tak punya etika! Pernah baca Undang-undang Pendidikan? Undang-undang Guru? Sebagai guru saja kau tak tahu, apa pantas menyandang gelar itu? Sebagai guru, kau tak tahu aturan, hanya beraninya menindas siswa, inikah hukum yang kau pahami?!”

Suara Malam Muram semakin lantang, penuh keyakinan dan setiap kata-katanya membangkitkan semangat teman-temannya. Mereka merasa sosok Malam Muram kini begitu besar dan menonjol.

“Kau! Kau!...” Wajah cantik Guru Gunung Es berubah menegang, mulutnya hanya bisa mengulang kata-kata tanpa arti, seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan.

Malam Muram memandang guru yang hampir meledak itu dengan dingin dan tenang. Suaranya datar, namun menyentuh hingga ke dalam jiwa.

“Kau, sama sekali tidak pantas disebut guru.”