Bab 52: Teror dari Serangan Mendadak
Di sebuah vila megah yang terletak di wilayah subur dan rimbun di Alam Baka, seorang pria berdiri tegak di depan sebuah lukisan tanpa bergerak sedikit pun untuk waktu yang lama.
"Tuan, Raja Yama Istana Kelima dan Raja Gunung Tai Istana Ketujuh telah menunggu di aula."
"Baik."
Setelah menerima jawaban, sang pelayan membungkuk dan pergi. Pria itu menatap lukisan dengan enggan sebelum akhirnya mengalihkan pandangan, lalu mengambil jubah merah dari gantungan dan memakainya sebelum keluar dari ruang kerja.
"Kami menghormatimu, Kaisar Langit," dua orang itu memberi hormat saat pria itu datang.
"Di sini, tak perlu lagi melakukan basa-basi penghormatan seperti itu," ujarnya, lalu dengan santai duduk di singgasana tertinggi.
Raja Yama Istana Kelima dan Raja Gunung Tai Istana Ketujuh duduk di sisi kiri dan kanan pria itu.
"Kaisar, peperangan sudah mulai merambat dari Istana Kedelapan ke Istana Ketujuh. Dan menurut kabar, Raja Keadilan Istana Kesembilan...," Raja Gunung Tai tampak ragu, seolah sulit untuk melanjutkan ucapannya.
"Berhianat?" Suara pria di singgasana itu tetap dingin menusuk, tanpa sedikit pun emosi.
Raja Gunung Tai mengangguk dengan wajah penuh amarah.
"Untung saja waktu api perang baru sampai Istana Kedelapan, si Tua Qin sudah punya firasat dan mengatur agar dia segera pergi. Kalau tidak, akibatnya pasti tak terbayangkan," Raja Yama berbicara seenaknya, tetap santai meski di depan Kaisar Langit.
"Di sana pun dia tidak benar-benar aman. Raja Qi telah datang sendiri untuk mencarinya. Sekarang, kemungkinan besar Raja Qi sudah tahu keberadaannya. Untuk saat ini, biarkan saja Raja Qi, dia tak akan mencelakainya. Tapi para mata-mata Raja Penjaga Tanah dan Dewi Bumi di berbagai dunia sebentar lagi juga pasti akan menemukan jejaknya. Kita harus mempercepat rencana," ujar Kaisar.
"Benarkah kita biarkan saja? Bagaimana kalau Raja Qi yang lebih dulu menemukannya, lalu si Tua Qin...," Raja Yama belum sempat menyelesaikan ucapannya, tatapan tajam Kaisar langsung membuatnya diam.
Raja Gunung Tai menggelengkan kepala pada Raja Yama, lalu berkata, "Perlukah kita mengirim seseorang dari antara kita untuk diam-diam melindunginya?"
"Tidak perlu. Kekuatan kita di sini juga sudah terbatas. Dia cukup cerdas untuk menjaga diri dalam waktu dekat. Serahkan urusan para pengkhianat pada Raja Sungai Chu, kalian berdua percepat apa yang harus kalian lakukan," kata Kaisar, sambil melemparkan sebuah jimat pelindung pada Raja Gunung Tai sebelum berbalik masuk ke ruang kerja.
Dua tamu itu pun merasa tak enak hati untuk makan di situ dan segera pergi.
Raja Yama merangkul leher Raja Gunung Tai sambil berbisik, "Apa kau merasa si Tua Qin sekarang jadi makin mirip Kaisar, baik sifat maupun auranya? Padahal dulu dia ramah dan menyenangkan."
"Lepaskan! Siapa yang paling dikagumi si Tua Qin? Kaisar kita, tentu saja. Jadi kalau makin mirip, itu wajar saja. Kau sendiri, sebagai Raja Yama Istana Kelima, bisakah kau sedikit serius? Setiap hari santai tak karuan, seperti apa jadinya?"
"Heh! Ibuku sendiri tidak pernah mengaturku, kau mau jadi ayahku? Sayang sekali kau tak punya kesempatan, jasad ibuku sudah lama lenyap, hahahaha..."
"Bodoh, tolol, cari masalah saja," keduanya saling sindir hingga akhirnya menghilang dari vila itu.
Dari lantai dua, pria tadi memandangi kepergian mereka, menggelengkan kepala lalu kembali ke ruang kerja. Ia menatap lukisan di dinding sebelum akhirnya duduk di depan meja dan mulai mengurus pekerjaan.
...
Hujan deras mengguyur tanpa tanda-tanda akan reda. Zhu Qiu pun kehilangan niat untuk melanjutkan perjalanan dan meminta kanguru kecilnya berteleportasi ke penginapan terdekat.
"Sepuluh tael per malam?!" Zhu Qiu memandang sang pemilik penginapan tak percaya.
Pemilik penginapan yang dibangunkan tengah malam tampak kesal. Walaupun tamunya seorang gadis manis nan polos, ia tetap bermuka masam.
"Majikan, penginapan ini di Benua Zhenling termasuk kelas rendah. Biasanya semalam tak sampai satu tael. Dia jelas menipumu!" Kanguru kecil, sejak keluar dari Lembah Raja Racun, terus memancarkan kekuatan untuk mengumpulkan informasi dunia ini.
Zhu Qiu mengeluarkan satu tael dari lengan bajunya, meletakkannya di atas meja dan menatap pemilik penginapan dengan galak. "Huh! Berani-beraninya menipu aku, bosan hidup ya?"
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba muncul sebilah belati di tangannya yang langsung diarahkan ke leher si pemilik penginapan!
Seketika pemilik penginapan itu gemetar ketakutan, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Padahal gadis di depannya tampak polos dan mudah ditipu, siapa sangka begitu ganasnya!
"Kunci kamar!"
Dengan tangan gemetar, pemilik penginapan mengambil kunci, matanya tak lepas dari belati tajam yang hanya berjarak satu sentimeter dari lehernya.
Ketika Zhu Qiu hendak naik ke atas, ia menoleh sekilas, membuat pemilik penginapan itu langsung mundur dua langkah karena takut.
"Kamar yang mana?"
"Na... naik ke atas, ka... kiri, paling ujung!"
Melihat Zhu Qiu naik ke atas, pemilik penginapan itu langsung duduk terhempas di kursi di belakang meja, diam-diam mengutuki dirinya yang sudah tua dan rabun. Hujan sebesar ini, tapi pakaian gadis itu kering tanpa setetes pun air, pasti dia bukan orang sembarangan. Untung dia masih beruntung, kalau tidak, mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan. Ia pun menyentuh lehernya, memastikan masih utuh.
Setelah berkelana seharian, Zhu Qiu langsung terjatuh di ranjang dan tertidur pulas. Di lehernya, manik-manik kaca merah berpendar lembut.
Malam itu ia bermimpi sangat indah, hingga enggan terbangun, sampai akhirnya suara gaduh dari bawah membangunkannya. Dengan wajah kesal, Zhu Qiu turun dari ranjang, membuka pintu, lalu berjalan ke koridor dan berteriak ke bawah, "Ribut apa sih! Mengganggu mimpi indah orang itu kejahatan, tahu tidak!"
Para pria di bawah hanya terdiam sejenak, terpana melihat seorang gadis cantik berpakaian seadanya menegur mereka dengan marah dari atas.
Entah siapa di antara mereka yang melemparkan senjata rahasia ke arahnya. Zhu Qiu bersiap menangkapnya, namun seberkas cahaya melesat, sebilah belati langsung menangkis senjata rahasia itu ke samping dan meluncur tepat ke arah dahi salah satu pria di bawah.
Crat!
Darah muncrat dengan mengerikan. Pria yang terkena belati itu menatap dengan mata membelalak tak percaya, lalu roboh tak bernyawa. Orang-orang di sekelilingnya pun lama tak bereaksi, terdiam di tempat.
Wus!
Belati itu otomatis tercabut dari dahi si pria, lalu melayang dan berdiri tegak di samping Zhu Qiu.
Zhu Qiu juga terkejut. Ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba saja ia membunuh orang!
Orang-orang di bawah akhirnya bereaksi, suasana langsung riuh, tapi tak satu pun yang berani menyerangnya untuk membalaskan dendam temannya. Mereka hanya menatap Zhu Qiu dengan penuh kebencian.
Zhu Qiu memaksa dirinya agar tak goyah, membuat raut wajahnya menjadi kejam dan bengis. Tatapannya yang tajam membuat semua orang yang tadinya menengadah kini menunduk takut, khawatir jadi korban berikutnya.
Sementara itu, dua spirit senjata tingkat tinggi di samping Zhu Qiu—satu tampak wujudnya, satu lagi tersembunyi—mulai bertengkar.
"Kau bodoh, sampai membuat majikan ketakutan! Hanya senjata rahasia kecil, ada aku, kenapa kau harus buru-buru?" ujar Pedang Shiyu.
"Apa yang kau tahu! Kalau tidak langsung membunuh si pelempar senjata, takkan ada efek gentar seperti sekarang. Nanti malah jadi masalah buat majikan," balas Belati Shanxi.
Karena tak ada yang bicara lagi, Zhu Qiu pun berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu.
Saat Shanxi hendak menghilang, Zhu Qiu memanggilnya.
"Shanxi, kali ini kau sudah berbuat baik. Tapi lain kali, kalau musuh tidak benar-benar mengincar nyawaku, kau tak boleh membunuhnya begitu saja. Tak boleh membunuh sembarangan, mengerti? Kalau sudah paham, kelilingilah aku satu kali!"
Melihat belati kecil itu berputar sekali mengelilinginya, Zhu Qiu tersenyum dan mengulurkan tangan. Belati itu dengan patuh beristirahat di telapak tangannya. Setelah ia membelai beberapa kali, belati itu pun lenyap.
Setelah membunuh orang, Zhu Qiu tentu tak berani tinggal lebih lama. Ia langsung melompat keluar lewat jendela dan pergi meninggalkan tempat itu.