Bab Tujuh: Dua Utusan Arwah

Mendirikan Kedai Minuman di Dunia Bawah Tuan Bintang Debu 1211kata 2026-02-07 15:57:34

Setelah keluar dari kedai minuman, Zhu Qiu melangkah masuk ke tempat persinggahannya sendiri. Ia membuka lemari es, mengambil sebotol bir, lalu berjalan ke sofa yang menghadap televisi. Ia tidak menyalakan televisi untuk menonton Bajak Laut, hanya duduk termenung sambil membuka dan meneguk bir itu perlahan. Kanguru kecil seolah mengerti suasana hatinya dan tak berkata apa-apa, hanya naik ke pangkuan Zhu Qiu lalu berbaring di sana.

Sambil mengelus bulu kanguru kecil itu, Zhu Qiu terus menenggak bir. Tatkala pandangannya jatuh pada lemari es, hatinya kembali dipenuhi tanda tanya. Setiap kali ia membuka lemari es, isinya selalu penuh. Makanan yang sudah ia konsumsi akan terisi kembali. Di dalamnya selalu ada makanan dan minuman favoritnya semasa hidup, sementara pisang, alpukat, selada, dan makanan yang tidak ia sukai sama sekali tak pernah ada. Namun karena suasana hatinya sedang muram, ia pun tak berminat bertanya lebih jauh.

Ia menggendong kanguru kecil itu dan naik ke lantai dua. Awalnya, ia ingin bertanya mengapa lonceng angin tidak berbunyi kali ini. Namun melihat kanguru kecil itu tidur pulas, ia pun mengurungkan niatnya. Ia menarik selimut dan berbaring, tetapi tetap saja tak bisa memejamkan mata. Apa pun cara yang ia coba, dirinya tak kunjung terlelap. Akhirnya ia memutuskan menggendong kanguru kecil itu ke dalam pelukannya dan melanjutkan perjalanan.

Tak tahu sudah berjalan berapa lama, ketika Zhu Qiu menengadah, yang tampak di hadapannya adalah gerbang besar Kota Dunia Bawah. Ia tidak tahu sejak kapan ia sudah sampai di depan gerbang kota tersebut. Saat hendak melangkah masuk, ia dihadang oleh dua penjaga arwah. Salah satu dari mereka menatap Zhu Qiu dengan garang, baru hendak bertanya ketika penjaga satunya lagi menahannya. Penjaga kedua itu langsung tersenyum ramah kepada Zhu Qiu, sambil menarik penjaga garang tadi ke belakangnya.

“Silakan masuk, Nyonya. Jika ada yang tak dimengerti, boleh kapan saja bertanya pada hamba,” ucapnya dengan membungkuk hormat, mempersilakan Zhu Qiu masuk ke dalam kota.

Hati Zhu Qiu dipenuhi tanda tanya. Kenapa dua penjaga itu tiba-tiba menjadi sangat ramah padanya? Kanguru kecil di pelukannya malah menundukkan kepala lebih dalam, enggan menjawab kebingungan Zhu Qiu.

Setelah Zhu Qiu berlalu, penjaga bermuka ramah itu menampar penjaga satunya, “Kau itu harus lebih peka! Kalau begini terus, aku tidak mau lagi berjaga bersamamu. Nanti kita kena masalah dan jabatan kecil ini pun bisa melayang.”

“Ada apa sih sebenarnya? Aku tak melihat ada yang istimewa dari arwah itu,” balas penjaga garang sambil menggaruk kepala.

Penjaga bermuka ramah menampar lagi kepala kawannya itu. “Kau tidak lihat hewan yang ia peluk? Di dunia bawah ini, pernahkah kau lihat ada hewan?”

“Hmm... memang belum pernah.”

“Sesuatu yang seharusnya tak pernah ada, kini muncul. Jangan-jangan binatang mirip kanguru itu adalah...”

“Adalah apa?” tanyanya penasaran, tapi penjaga ramah itu berhenti bicara.

“Udah, jangan macam-macam. Fokus bertugas saja!” Ia tidak berani melanjutkan, sebab pikirannya dipenuhi ketakutan.

Penjaga garang itu pun diam, tak lagi bertanya.

Zhu Qiu tentu saja tak tahu apa yang dibicarakan dua penjaga itu setelah ia pergi.

Keluar dari gerbang kota, ia belum berjalan jauh sudah terlelap di rumahnya sendiri.

Kanguru kecil menatap Zhu Qiu yang sedang tidur, berjalan mondar-mandir di sekitarnya, sesekali melirik waktu. Benar, waktu Babi hampir tiba. Melihat Zhu Qiu yang baru saja terlelap, kanguru kecil itu tak tega membangunkannya. Namun peraturan tak bisa diubah semaunya, sehingga ia merasa sangat bimbang.

Seolah merasakan kegelisahan kanguru kecil itu, Zhu Qiu perlahan membuka matanya, “Jam berapa sekarang? Sudah saatnya buka usaha ya?”

Kanguru kecil ingin berkata belum, tidurlah lagi, namun waktu tak mengizinkan. Ia hanya mengangguk pelan.

“Mari kita mulai.”

“Baik, kalau begitu, bersiaplah, Tuan. Kita buka usaha...” Dalam sekejap, Zhu Qiu sudah berdiri di balik meja bar, mengambil kuas dan mencatat tamu serta pemasukan kemarin yang belum sempat ia tulis di buku hitamnya.