Bab Tiga Puluh Delapan: Cahaya Lampu yang Menarik Kupu-Kupu Malam
[Makhluk Luar Biasa: Budak Nafsu.]
[Status: Sekarat.]
[Fragmen Informasi Pertama: Ada banyak manusia yang lemah hati; setelah mereka bertemu dengan benda luar biasa beraliran jahat, karena keinginan tertentu terlalu kuat, akhirnya mereka menjadi budak benda itu. Perlahan-lahan, mereka terkikis dan dipelintir oleh kekuatan jahat, dan semua yang mereka lakukan hanyalah demi memberi makan benda luar biasa itu untuk memuaskan hasrat mereka sendiri. Mereka dikenal sebagai Budak Nafsu.]
[Fragmen Informasi Kedua: Hasratnya adalah birahi. Dengan memberi makan benda luar biasa, ia memperoleh alat kelamin yang tak wajar dan memiliki ketertarikan dasar yang tinggi di mata lawan jenis.]
[Fragmen Informasi Ketiga: Demi memberi makan benda luar biasa itu, ia telah membunuh lebih dari tujuh perempuan dengan cara menjerat mereka, lalu mengisap inti kehidupan mereka. Dialah pembunuh berantai yang membuat para perempuan di Kota Rusa Biru, kota tetangga Meise, hidup dalam ketakutan akhir-akhir ini—Si Bunga Layu.]
Fragmen-fragmen informasi yang melintas di benaknya membuat Tang Qi, yang dalam dunia ini masih seorang anak, hanya bisa terdiam tanpa kata.
Namun kini ia mengerti mengapa kekuatan bertarung sang pelukis begitu lemah. Jangan kan menghadapi Tang Qi yang menguasai seni bertarung Chaga, bahkan seorang pria berbadan kekar pun mungkin bisa menghabisinya. Barangkali pria itu telah menempatkan semua atributnya pada hal-hal yang seharusnya dihindari.
Tentang "Si Bunga Layu" yang disebut di antarmuka, Tang Qi sedikit mengingatnya. Baru-baru ini, di Kota Rusa Biru yang bertetangga dengan Meise, muncul seorang pembunuh berantai yang khusus membunuh perempuan cantik. Di setiap lokasi pembunuhan, pasti ditemukan setangkai bunga yang telah layu. Media yang gemar mencari sensasi pun memberinya julukan "Si Bunga Layu".
Julukan itu memang puitis, sayangnya pelakunya tak lebih dari seorang yang menjijikkan.
Sembari mengingat kembali berita itu, Tang Qi juga teringat bahwa buronan tersebut memiliki nilai hadiah yang tidak sedikit.
Sayangnya, Tang Qi sama sekali tidak berminat untuk mengklaim hadiah itu.
"Uhuk~ uhuk uhuk..."
Suara serak dan berisik bergema. Dibandingkan dengan jalanan di Distrik Bronc, tempat ini jelas jauh lebih bersih, meski saat ini pun sudah kacau balau. Dalam genangan darah, sang pelukis berjuang keras, mencoba menutup leher yang terpotong dengan telapak tangan, namun tangan yang patah jelas tak mampu melakukannya.
Pakain rapi yang ia kenakan sudah sangat kotor dan lusuh. Menyadari ajalnya sudah dekat, ia akhirnya teringat sesuatu, lalu berhenti melawan dan merangkak cepat menuju barang-barangnya yang terjatuh tidak jauh dari situ.
Target sang pelukis tampaknya adalah selembar gambar di antara setumpuk sketsa.
Tangan yang bengkok dan penuh darah itu bergetar, berusaha meraih gambar itu, seolah tinggal sedikit lagi ia bisa menyentuhnya.
Namun, cahaya perak dari sebilah pisau tiba-tiba berkelebat.
Terdengar suara "ducuk", mata pisau yang tajam menembus telapak tangan dan menancap di lantai. Sakit yang luar biasa seketika menguasai dirinya, namun leher yang terpotong membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara "heh~ heh heh", bak suara belos yang dipompa udara, sementara darah menyembur semakin deras.
Tang Qi tak melakukan apa-apa lagi, ia hanya mengambil setumpuk sketsa itu tanpa memilih yang mana yang merupakan benda luar biasa, dan langsung memasukkannya ke dalam tas sang pelukis.
Setelah semuanya dibereskan, sang pelukis telah menghembuskan napas terakhirnya—meninggal dalam derita.
Tang Qi berbalik badan, menatap sesosok arwah berwarna merah muda seperti kabut yang perlahan keluar dari jasad itu. Gelombang hasrat yang kuat menyapu, meski wajah arwah itu sangat menderita dan tubuhnya tertatih-tatih, tetap saja menimbulkan perasaan aneh, perpaduan antara jijik dan imajinasi liar.
Tanpa cemooh, tanpa makian, Tang Qi hanya mendengus dingin. Tangan yang berselimut cahaya api seketika mencengkeram kepala arwah penuh dendam itu. Dalam suara mendesis, arwah itu lenyap bagai asap.
Ia merasakan titik-titik cahaya keemasan mengalir ke dalam pikirannya, dan tepi bibir Tang Qi pun melengkung membentuk senyum.
Bahan bakar bertambah satu lagi!
Setelah membatin demikian, Tang Qi tak lagi memedulikan mayat di lantai, ia mengambil tas itu dan berbalik meninggalkan tempat.
Sang pelukis benar-benar manusia tolol yang dipelintir oleh nafsu. Bahkan saat ia sekarat, Tang Qi masih sempat melihat pakaian dalam wanita menyembul di saku celananya. Tak diragukan lagi, setelah beraksi, pelaku ini bukan hanya meninggalkan bunga layu, mungkin juga mengambil beberapa "kenang-kenangan".
"Siapa pun yang pertama menemukan mayat ini, bisa dibilang mendapat lotere kecil."
Tang Qi bergumam sambil melangkahkan satu kaki keluar dari gang.
Namun, di saat itu juga, ruang batin di kepalanya bergemuruh dengan titik-titik cahaya emas yang bergejolak hebat. Peringatan bahaya yang kuat kembali menusuk Tang Qi, seperti tusukan jarum yang menyakitkan.
Hampir secara naluriah, sebelum tumit belakangnya menapak, Tang Qi mengikuti prinsip seni bertarung, melesat seperti macan tutul pemburu, ujung kakinya menjejak tanah, tubuhnya berputar, dan ia segera melesat kembali ke dalam gang.
Saat itulah, di tengah lompatan, Tang Qi melihat sosok "penyerang" itu.
Ternyata itu adalah bayangan serigala besar, yang berlari jauh melebihi kecepatan manusia, melesat mendekat. Meski tak berhasil menggigit kaki Tang Qi, ia tetap masuk ke dalam gang, lalu menjejak dinding dan melompat ke arah leher Tang Qi.
Bau amis menusuk hidung, dan Tang Qi bahkan bisa melihat deretan gigi putih yang tidak normal saling bertumpuk di mulut serigala raksasa itu. Di sela-sela giginya, tampak daging segar dan beberapa helai rambut hitam.
Daging manusia!
Hati Tang Qi bergetar, amarah membuncah, dan ia bersiap membunuh anjing iblis itu di tengah lompatan.
Namun, pada saat yang sama, dari luar gang terdengar suara lolongan serigala bersahut-sahutan.
Tak lama, bayangan-bayangan serigala lain berkelebat di bawah cahaya lampu jalan, mendekat dengan kecepatan tinggi. Tang Qi melihat tujuh atau delapan ekor serigala raksasa, sama persis seperti yang hendak menerkamnya, dengan bulu mulut berlumur darah dan mata hijau menyala mengerikan.
Makhluk-makhluk mengerikan itu serempak melompat menerjang Tang Qi.
"Apa aku baru saja membangunkan sarang serigala?"
"Dumm~ Dumm dumm dumm..."
Bersamaan dengan pikiran itu, sebuah pistol dengan bentuk mencolok, seperti meriam genggam, telah berada di tangan Tang Qi.
Yang pertama "mencicipi" senjata itu, tentu saja sang pemimpin kawanan yang hampir menggigit lehernya.
Satu letupan keras, bau mesiu menyebar, dan kepala serigala raksasa paling buas itu berubah bentuk seketika seolah dihantam palu, meski tengkoraknya keras hingga mampu menahan tembakan senapan dari jarak dekat, ia tetap tak kuasa menahan peluru yang berselimut api keemasan.
Kepalanya langsung hancur seperti semangka busuk.
Serigala-serigala raksasa lainnya juga tak luput dari nasib serupa.
Walau Tang Qi tak pernah berlatih menembak secara khusus, apalagi sehebat penembak jitu, namun setiap kali ia menarik pelatuk Darah Ular Piton Satu, pistol luar biasa itu menyesuaikan bidikannya secara otomatis. Ditambah dengan aura menakutkan mirip auman naga, cukup membuat para monster tertegun sepersekian detik—waktu yang cukup untuk mengubah mereka menjadi mayat dingin.
"Huff~"
Di dalam gang, Tang Qi menggenggam Darah Ular Piton Satu, napasnya memburu. Ia memandangi mayat-mayat serigala raksasa yang mirip dengan anjing Sarlus, tapi jauh lebih besar dan lebih menyeramkan. Wajahnya semakin serius, bukan karena telah membunuh terlalu banyak, melainkan karena kini Tang Qi sadar satu hal.
Ia telah membuat kesalahan besar.
"Wuum..."
Tatapan Tang Qi jatuh pada punggung tangannya, di mana tanda kutukan nasib buruk menghembuskan hawa dingin yang hampir membekukan tangan kirinya.
Perasaan bahaya yang tak terbayangkan menyapu hatinya, bagaikan banjir bandang yang meluap.
Saat itu, ia merasakan kejahatan yang sama seperti saat menghadapi si pelukis dan serigala-serigala itu, namun sekarang terasa jauh lebih kuat, lebih berbahaya, dan jumlahnya... benar-benar tak terduga.
"Aku menyalakan api yang mengundang laron, tapi lupa menutup jendela."
"Atau, mungkin aku terlalu meremehkan kekuatan nasib buruk?"
Dalam desahannya, pikiran Tang Qi membara seperti api yang melahap, menekan tanda kutukan di punggung tangannya. Dengan suara mendesis, asap abu-abu hitam yang dingin mengepul, dan cahaya dari tanda itu segera meredup—akhirnya berhasil ia matikan.
Namun, ketika menatap ke arah mulut gang yang terlumuri darah itu, raut wajah Tang Qi justru semakin berat.