Bab Empat Puluh Tiga: Melihat Esensi di Balik Fenomena
Pada siang hari matahari masih bersinar terik, namun menjelang sore saat pelajaran hampir selesai, langit mulai dipenuhi awan gelap. Man Bao dan Bai Shanbao menempelkan tubuh mereka di meja, memandang ke luar dengan penuh semangat; ternyata benar, jika semut pindah rumah, hujan akan turun.
Guru Zhuang juga melihatnya. Setelah pelajaran usai, beliau meminta para murid tetap di dalam kelas menunggu dijemput keluarga, lalu membawa Man Bao dan Shanbao ke halaman tempat tinggalnya di sebelah. Setelah membawa kedua anak itu ke ruang baca, ia bertanya, “Pagi tadi kalian melihat semut pindah rumah, sekarang kalian melihat apa?”
Man Bao menjawab, “Turun hujan, semut pindah rumah berarti akan hujan.”
Guru Zhuang pun tersenyum, “Anak-anak, kalian membalik urutannya. Bukan semut pindah rumah lalu turun hujan, tapi karena akan hujan, maka semut pun memindahkan rumahnya ke tempat yang aman. Manusia yang melihatnya, jadi tahu bahwa hujan akan turun.”
Guru Zhuang berbicara perlahan, kedua anak itu menghitung-hitung dengan jari mereka, dan ternyata memang benar. Keduanya pun mengangguk.
Guru Zhuang menunjuk tirai hujan di luar dan melanjutkan bertanya, “Sekarang kalian melihat apa?”
Dua anak itu serempak menjawab, “Hujan!”
“Itu semua hanyalah permukaan,” ujar Guru Zhuang, “Man Bao, orang tuamu bilang kalau semut pindah rumah akan turun hujan, maka kau pun mempercayainya. Shanbao, kau tak pernah mendengar hal itu, jadi yang kau lihat hanya semut yang pindah rumah. Tapi, tahukah kalian, apa yang terpikir oleh guru saat melihat semut?”
Kedua anak itu menggeleng.
“Guru tidak hanya berpikir bahwa hujan akan turun, tapi juga, ternyata di bawah rumahku ada banyak semut. Semut bisa menggerogoti rumah dan perabotan, jadi keluargaku harus mulai mengendalikan hama. Guru juga teringat pepatah: bendungan sepanjang seribu li bisa jebol karena lubang semut...” Guru Zhuang pun perlahan menceritakan segala hal tentang semut kepada mereka.
Man Bao dan Shanbao mendengarkan dengan terkejut, tak menyangka bahwa semut sekecil itu bukan hanya bisa membunuh pohon besar, tapi juga merobohkan rumah, bahkan menghancurkan bendungan sepanjang ribuan li.
Setelah bicara soal semut, Guru Zhuang lalu membahas hujan musim gugur di luar sana. Ia memberitahu mereka, yang mereka lihat sekarang hanyalah hujan, namun di mata orang berbeda, maknanya pun berbeda. Bagi mereka, hujan ini hanya membuat mereka sementara terkurung di sekolah, tapi bagi para petani, hujan ini berarti sudah bisa membajak sawah dan mengompos rumput untuk persiapan tanam tahun depan. Sedangkan bagi para musafir, hujan musim gugur ini lebih banyak membawa kerugian, sebab mereka tak tahu berapa lama waktunya akan terbuang karenanya.
Guru Zhuang dengan sabar berbicara pada kedua anak itu, seolah membicarakan hal-hal yang tak berkaitan, namun kemudian ia kembali pada topik tentang bupati.
“Tadi pagi, aku bertanya pada kalian apa tugas seorang bupati, dan kalian hanya menjawab berdasarkan apa yang kalian lihat dan dengar. Sebenarnya, jawaban kalian belum sepenuhnya benar,” ujar Guru Zhuang, “Kadang apa yang kalian lihat dan dengar, belum tentu sama dengan apa yang kalian pikirkan. Kalian harus banyak melihat, banyak mendengar, dan banyak merenung. Jika hati kalian dipenuhi emosi, sebaiknya tenang dulu, jangan terburu-buru menyimpulkan. Tunggu sampai waktu berlalu dan kalian cukup tenang, barulah pikirkan lagi. Mungkin kalian akan mendapatkan pemahaman yang berbeda.”
Kedua anak itu mengerti sedikit, namun belum sepenuhnya paham. Guru Zhuang pun tak memaksa mereka memahami sekarang, cukup mengingat pesan itu, kelak saat waktunya tiba, mereka akan mengerti.
Sambil berbicara, keluarga Bai dan keluarga Zhou datang menjemput kedua anak itu. Man Bao dan Shanbao berpamitan pada guru, lalu berlari keluar sambil berpegangan tangan, menerobos hujan dengan gembira. Mereka sengaja mencari genangan air, menginjaknya hingga air terciprat-ciprat, membuat mereka semakin bahagia.
Di luar halaman, terdengar suara peringatan dan teguran dari orang dewasa kedua keluarga, namun kedua anak itu tetap saja berlarian sambil membasahi sepatu dan pakaian, lalu berlari ke arah masing-masing keluarga.
Guru Zhuang berdiri di ambang pintu, mengelus janggutnya berulang kali, sambil merenungkan ucapan Man Bao tadi.
Mengapa bupati ingin menaikkan biaya masuk kota kali ini?
Guru Zhuang tahu lebih banyak daripada keluarga Zhou. Sebenarnya, tiga tahun lalu, saat Bupati Fu baru tiba di Kabupaten Luojiang, beliau sudah pernah menaikkan biaya masuk kota, juga pajak dan pungutan lainnya. Dalam dua tahun, Bupati Fu berhasil membangun jalan dinas, memperkuat tanggul Luojiang, dan menggali kanal di sekitar kota.
Masa jabatan bupati adalah tiga tahun. Tahun ini Bupati Fu tidak dipindah, artinya ia akan tetap menjabat satu periode lagi. Namun Guru Zhuang belum tahu, apakah kali ini ia akan melakukan kebijakan baru, atau justru tidak melakukan apa-apa.
Guru Zhuang sedikit merasa cemas akan hal ini.
Namun tentu saja, masalah seperti ini tidak bisa dibicarakan dengan anak-anak.
Man Bao dipeluk oleh Feng Shi sepulang ke rumah. Begitu sampai, ia langsung ke dapur untuk mengambil air hangat agar bisa mandi, sebab akibat bermain air tadi, bukan hanya sepatunya yang basah, tapi juga celananya.
Qian Shi sambil memegang tangan Man Bao, sambil memarahi, “Kamu semakin susah diatur saja. Kenapa rasanya setelah kau sekolah, malah makin nakal?”
Man Bao berkata, “Bai Shanbao juga main air, kok.”
“Itu urusan dia. Kamu ya kamu. Jangan-jangan dia malah meniru dirimu. Kau ke sekolah untuk belajar yang baik, bukan untuk belajar yang buruk, apalagi mengajari anak lain hal buruk.”
Man Bao pun menghela napas, “Baiklah, lain kali aku tidak main air lagi.”
Janji anak-anak tak ubahnya cuaca di bulan Juli—sulit dipercaya.
Qian Shi meminta Feng Shi memandikannya, lalu memberinya semangkuk air hangat, kemudian membiarkannya bermain. Hanya saja ia berpesan, “Jangan keluar main air atau kehujanan lagi, kalau tidak, besok kamu tidak boleh sekolah.”
Man Bao sedang sangat suka belajar, mana mungkin rela tidak pergi? Maka ia hanya duduk di ruang tengah menunggu kakak-kakaknya pulang.
Zhou Silang dan kedua adiknya berteduh di bawah pohon, baru pulang ketika hujan mulai reda, namun pakaian mereka tetap basah.
Zhou Wulang dan yang lain hari ini membantu membuka lahan baru, sekaligus menebang banyak bambu. Begitu sampai di rumah, mereka langsung mengedipkan mata pada adik bungsu mereka.
Man Bao paham, begitu Zhou Erlang pulang, ia akan membujuknya membantu membuat keranjang bunga.
Zhou Erlang memang ingin membicarakan itu. Keranjang bunga buatan Man Bao sebelumnya laku keras, meski ia tak banyak bicara, hatinya sangat tertarik. Namun belakangan ia sibuk, tak sempat membantu. Begitu Man Bao bertanya, ia pun tahu ini ide kakak kelima dan keenam, ia pun tak menolak, “Suruh kakak kelima dan keenam mengiris bambu, nanti aku pulang langsung bantu buatkan.”
Bahkan Kepala Keluarga Zhou yang biasanya jarang membantu pun berkata, “Nanti sepulang dari ladang, aku akan bantu juga.”
Setelah berpikir sejenak, ia merasa usaha membuka lahan oleh kakak keempat kurang masuk akal, lalu berkata ragu, “Bagaimana kalau kakak keempat tak usah buka lahan dulu? Tanah di kaki gunung itu meski dibuka, butuh waktu bertahun-tahun agar subur. Lebih baik bantu pekerjaan di rumah, lebih nyata hasilnya.”
Zhou Silang langsung bersemangat, ingin mengiyakan.
Sayangnya, Man Bao tidak setuju, “Ayah, Kakak Keempat dihukum buka lahan karena dia melanggar aturan. Kata guru, menarik kembali perintah itu adalah kesalahan besar. Nanti kalau Kakak Keempat merasa tak apa-apa berbuat salah, bagaimana?”
“Kalau dia berani, lihat saja nanti akan kupukul!” sahut ayahnya.
Man Bao mencibir ayahnya, “Ayah pasti tak akan tega. Kalau sampai begitu, ayah pasti sangat sedih.”
Kepala Keluarga Zhou malu sendiri, lalu melambaikan tangan, “Baiklah, biarkan saja kakak keempat lanjut buka lahan. Kakak kelima dan keenam lihat saja, bisa atau tidak usaha keranjang bunga ini bertahan lama.”