Bab Empat Puluh Empat: Mengajarkan Membaca dan Menulis (Semoga Sahabat Pembaca Tang Shu Ning Lekas Sembuh)
Kakak keempat berjongkok di samping Baokecil, berkali-kali menghela napas. “Adik bungsu, apa kakak keempat pernah menyinggung perasaanmu?”
Baokecil mengangguk. “Kakak sudah menyinggung seluruh keluarga kita.”
Kakak keempat terdiam cukup lama, lalu berkata, “Kalau aku bilang aku benar-benar sudah berubah, kau percaya?”
Meski dalam hati tak sepenuhnya yakin, Baokecil tetap mengangguk. “Aku percaya, jadi kakak keempat, kau harus berusaha mengembalikan uang yang kau hutangkan ke keluarga dan kakak serta kakak ipar.”
Kakak keempat pun menundukkan bahu. “Bertani itu tak menghasilkan uang.”
Baokecil tidak setuju. “Banyak orang yang bertani, ayah dan ibu bertani, kakak dan kakak ipar juga bertani, bahkan keluarga Tuan Bai juga hidup dari bertani.”
“Itu karena mereka punya tanah yang bagus.”
“Ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu tahun lalu, tanah tetap sama, semua bergantung pada manusia yang mengolahnya, bukan?” Baokecil sudah bertanya pada Koko dan kini sangat yakin, lalu menghibur kakak keempat, “Tenang saja, kakak, kau buka saja lahannya dulu, nanti aku akan ajak kakak kelima dan keenam membantumu mengelola tanah itu. Kelak aku akan bicara pada Ayah, semua tanah yang kau kelola akan diberikan padamu, uang bisa dicari perlahan. Kalau kau belum bisa melunasi, masih ada anakmu nanti.”
Kakak keempat: …
Bahkan Baokecil sudah menyiapkan rencana untuknya. “Meski anakmu nanti yang harus melunasi hutangmu, dia akan mendapat bagian tanah lebih banyak dari kakak sepupumu, dia pasti mau. Sebenarnya aku juga ingin kakak sepupu membuka lahannya sendiri, supaya kelak keturunan mereka juga bisa mewarisinya.”
Kakak keempat: “… Baokecil, kau pikirannya benar-benar jauh.”
Baokecil: “Tentu saja, guruku bilang, manusia harus berpikir jauh ke depan, bukan hanya melihat apa yang ada di depan mata. Barusan aku juga terpikir, kenapa keluarga Tuan Bai kaya?”
Kakak keempat: “Karena mereka punya banyak tanah.”
“Benar, karena mereka punya banyak tanah, sampai-sampai bisa mempekerjakan banyak orang untuk membantu bertani. Dia hanya perlu duduk santai di rumah menghitung uang,” ujar Baokecil penuh semangat, “Kalau keluarga kita juga punya banyak, sangat banyak tanah, bukankah kita juga bisa jadi seperti Tuan Bai?”
Kakak keempat langsung berbalik dan pergi.
Baokecil masih dengan penuh semangat berusaha menahannya. “Kakak, jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara.”
Tapi kakak keempat sudah tidak mau menanggapi lagi.
Membuka lahan sungguh melelahkan, hampir semua pekerjaan membutuhkan tenaga besar. Setiap kali pulang, kakak keempat hanya ingin duduk diam di lantai, setelah makan dan mandi seadanya, sebelum langit benar-benar gelap ia sudah berbaring di tempat tidur.
Kakak keempat meraba pundak dan punggungnya yang pegal, untuk pertama kalinya ia menitikkan air mata penyesalan. Ia benar-benar sadar telah berbuat salah.
Sementara kakak keempat mengusap air mata di dalam kamar, Baokecil memanfaatkan waktu sebelum gelap untuk mengumpulkan teman-temannya dan mengajari mereka mengenal huruf.
Kakak kelima dan keenam pun penasaran, ikut berkumpul melihat.
Hal pertama yang diajarkan Baokecil adalah nama desa dan kabupaten mereka sendiri, lalu nama masing-masing. Ia berkata, “Ini diajarkan guruku padaku, katanya aku harus hafal benar-benar. Kalau sampai tersesat atau diculik orang, setidaknya masih tahu rumah sendiri di mana, dan siapa namaku.”
Nyonya Feng tak tahan untuk tidak meludah tiga kali sebagai penangkal bala. “Anak kecil bicara sembarangan, biarkan angin besar membawa pergi ucapannya. Jangan bicara seperti itu, mana mungkin kamu bisa tersesat?”
Namun Nyonya Qian menanggapi, “Cara ini bagus juga, cepat suruh semua anak-anak hafalkan, kakak kelima dan keenam juga. Kalian nanti kalau ke kota kabupaten, jangan sampai tersesat.”
“Kakak ipar, kakak kelima dan keenam itu sudah setengah remaja, siapa juga yang mau menculik mereka?” tanya Nyonya Feng.
“Itu belum tentu juga,” sahut Nyonya Qian. “Sekarang zaman damai, di mana-mana butuh tenaga orang, siapa tahu ada yang nekat menculik mereka buat kerja paksa? Hal seperti itu pernah terjadi.”
Nyonya Feng terkejut, “Benarkah pernah ada kejadian seperti itu?”
“Tentu saja,” jawab Nyonya Qian, matanya berbinar menatap Baokecil yang mendekatinya, tahu benar adik iparnya suka mendengar cerita seperti itu, ia pun bercerita sambil tersenyum, “Itu waktu aku masih kecil. Di desa kami ada dua bersaudara, satu sudah dua puluh lebih, satu baru dewasa, mereka pergi ke kota kabupaten cari kerja, terpisah dari teman sekampung, akhirnya diculik orang. Keluarganya mengira m