Bab delapan puluh: Tuan Fang, apakah Anda melihat cahaya di mataku?
Judul yang sedang trending di daftar pencarian panas kini telah berubah menjadi: "Li An? Sebuah lelucon, apa yang bisa ia bandingkan dengan Su Yuqi yang masuk nominasi Hadiah Sastra Mao Dun!"
Lü Liang membuka topik itu secara acak. Yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah postingan teratas dari surat kabar resmi harian milik negara. Harian itu meneruskan unggahan dari Asosiasi Penulis dan menambahkan komentar: "Sastra daring hanyalah bacaan ringan, cocok untuk bersantai. Jangan biarkan karya-karya seperti itu mengikis karakter kita, apalagi membandingkannya dengan karya yang masuk nominasi Hadiah Sastra Mao Dun. Tidak ada artinya membandingkan keduanya."
Ini adalah unggahan dari surat kabar resmi negara! Sangat berwibawa dan amat resmi. Meski tidak menyebut nama secara langsung, namun karena unggahan itu merupakan terusan dari Asosiasi Penulis dan muncul tepat di tengah sorotan publik, makna simbolisnya sudah sangat jelas: mereka terang-terangan mendukung Su Yuqi.
Selain surat kabar resmi tersebut, ada pula komentar dari Ketua Asosiasi Penulis Provinsi Jiang dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Penulis Provinsi Hui, semuanya adalah penulis terkenal dan ahli berpengaruh.
“Sastra daring cukup dibaca untuk bersantai, tidak perlu mendalami referensi atau kutipan di dalamnya. Kalau mau mendalami, bacalah buku sastra yang sesungguhnya.”
“Sastra daring dan sastra tradisional adalah dua sistem yang berbeda. Menurut saya, keduanya tidak perlu dibandingkan karena dalam hal penggambaran tokoh, makna sastra, dan kedalaman, sastra tradisional jauh lebih unggul.”
Komentar-komentar seperti ini semuanya berasal dari pemilik akun yang memang punya pengaruh.
Sedangkan akun-akun yang tidak berpengaruh menulis dengan lebih gamblang.
“Aku Si Lumba-lumba Kecil: Hadiah Sastra Mao Dun hanya menominasikan dua buku setahun dan diadakan setiap empat tahun sekali. Su Su-ku bisa masuk nominasi saja sudah membuktikan kekuatan dan kedalaman tulisannya. Apa Li An bisa?”
“Kak Yuqi Kamu Luar Biasa: Hadiah Sastra Mao Dun adalah penghargaan sastra tertinggi di negeri ini. Walau hanya nominasi, tapi mengesampingkan penulis senior berumur lima puluh atau enam puluh tahun, Su Su-ku jelas yang terbaik. Li An mau bandingkan apa?”
“Ikan Besar Rakus: ‘Lagu Li’ yang ditulis Su Su hanyalah cerita ringan untuk menarik pembaca, tidak perlu dibandingkan dengan karya serius. ‘Kehidupan’ adalah karya sastra sejati. Fans Li An sebaiknya sadar diri, jangan terlalu mengidolakan tanpa melihat kenyataan.”
Hampir seluruh halaman penuh dengan komentar serupa.
Lü Liang menggulir empat atau lima halaman dan mendapati tak ada satu pun dukungan untuk Li An di seluruh topik itu.
Opini publik benar-benar sepihak.
Setelah terus menggulir, Lü Liang akhirnya menemukan komentar dari seorang penggemar fanatik Li An: “Menulis dua puluh ribu kata per hari dan bisa menghasilkan karya luar biasa seperti ‘Pertempuran Melampaui Langit’ dan ‘Lampu Hantu’. Jika ia bisa menahan diri dan menulis dua ribu kata per hari, bukan tidak mungkin ia juga bisa menulis karya yang masuk nominasi sastra.”
Lü Liang membuka unggahan itu dan melihat sudah ada lebih dari seratus komentar di bawahnya.
Setelah ia membaca satu per satu, ternyata seluruh komentar itu berisi hinaan terhadap si penggemar fanatik.
“Kau kira Hadiah Sastra Mao Dun itu seperti kacang goreng di jalanan? Kau pasti tak tahu apa itu Hadiah Sastra Mao Dun, satu tahun cuma dua nominasi, Bung!”
“Karya sastra sejati itu bisa dinikmati berulang kali. Apa ‘Pertempuran Melampaui Langit’ bisa?”
“Sebaiknya hapus saja unggahanmu, jangan mempermalukan diri sendiri! Membandingkan ‘Pertempuran Melampaui Langit’ dengan karya yang masuk nominasi Hadiah Sastra Mao Dun, kau pasti kurang waras!”
Lü Liang terus membaca komentar-komentar itu.
Namun tiba-tiba di tengah layar muncul notifikasi, “Unggahan ini telah dihapus.”
Melihat notifikasi itu, Lü Liang naik pitam dan membanting ponselnya ke sofa sambil memaki, “Sial! Buku perempuan jalang Su Yuqi itu bisa-bisanya masuk nominasi Hadiah Sastra Mao Dun.”
Setelah memaki, ia menjatuhkan diri ke sofa, meraup segenggam kismis di atas meja dan memasukkannya ke mulut, membuat wajahnya meringis karena asam.
“Tapi jujur saja, bisa masuk Hadiah Sastra Mao Dun... itu memang luar biasa.”
Hadiah Sastra Mao Dun adalah penghargaan tertinggi di negeri ini, tak mungkin ada kecurangan atau suap.
...
Nama An Zhiruosu terlalu besar.
Menurut statistik tak resmi, video An Zhiruosu membacakan puisi di Festival Puisi telah ditonton puluhan juta orang. Ia benar-benar bintang di dunia puisi, dan banyak pecinta sastra berkata, begitu kumpulan puisinya terbit, mereka pasti akan membeli untuk koleksi.
Toko buku besar pun sudah ancang-ancang, siapapun penerbit yang bisa menerbitkan kumpulan puisi An Zhiruosu, mereka akan memesan dalam jumlah besar.
Apalagi menjelang Tahun Baru, musim penjualan buku sedang ramai.
Karena itu, ketika Perusahaan Penerbitan Dazhu menerima naskah dari An Zhiruosu, Fang Guokun sang wakil ketua turun tangan langsung bersama manajer umum, memimpin seluruh karyawan bekerja keras, memasuki masa sibuk yang luar biasa.
Divisi editorial bekerja tanpa henti untuk menyusun dan mengoreksi naskah.
Divisi humas pun tak kalah sibuk menghubungi berbagai toko buku, menyiapkan kata-kata iklan, dan merancang promosi besar-besaran, baik secara daring maupun luring, untuk kumpulan puisi An Zhiruosu.
Bagian percetakan juga bergerak cepat menyiapkan kertas dan tinta, sebab manajer umum sudah memutuskan, cetakan perdana kumpulan puisi An Zhiruosu adalah lima ratus ribu eksemplar! Jumlah yang sangat mengagumkan.
Di bawah pengawasan ketat Direktur Fang Guokun dan manajer umum, dalam waktu hanya tiga hari, seluruh lima ratus ribu eksemplar telah selesai dicetak dan siap didistribusikan.
...
Tiga hari kemudian, Fang Guokun akhirnya bisa bersandar di kursi kantor, menyesap teh pu-erh hangat, dan menghela napas lega.
Namun, belum sempat ia benar-benar santai, manajer umum datang bersama kepala editor dan mengetuk pintunya.
Kepala editor itu seorang pria paruh baya yang kepalanya sudah sedikit botak, hanya beberapa helai rambut yang menutupi, namun wajahnya tampak penuh semangat. Terutama saat masuk, matanya bersinar terang, memancarkan semangat dan daya juang yang tinggi.
Begitu masuk kantor, kepala editor itu langsung berkata, “Pak Fang, redaksi kami menerima sebuah surel, dari An Zhiruosu! Ia mengirimkan naskah kepada kita.”
“An Zhiruosu? Ia mengirim naskah lagi? Produktif sekali? Baru saja kita menerbitkan lima ratus ribu eksemplar bukunya,” tanya Fang Guokun.
Kepala editor menggeleng, “Bukan, Pak Fang. Kali ini An Zhiruosu mengirimkan sebuah novel panjang bertema realis, sekitar satu juta kata.”
“Satu juta kata!?” Fang Guokun cukup terkejut.
Satu juta kata bila dicetak bisa menjadi tiga atau empat buku, termasuk karya sangat panjang. Namun yang jadi masalah, An Zhiruosu dikenal sebagai penyair, kini ia malah mengirim novel setebal itu, bukankah terlalu berlebihan?
Seolah menyadari keraguan Fang Guokun, kepala editor itu berkata, “Sebenarnya saya sudah menerima naskah itu dua hari lalu, dan saya habiskan dua hari penuh untuk membacanya sampai selesai.”
Fang Guokun memandang kepala editor itu, “Bagaimana hasilnya?”
Kepala editor menarik napas dalam, lalu menunjuk matanya, “Pak Fang, Anda lihat mata saya?”
Fang Guokun mengerutkan dahi dan mengamati, lalu mengangguk, “Saya lihat ada lingkaran hitam, Anda begadang, ya?”
“Benar, kalau tidak begadang, tidak mungkin saya bisa selesai baca dalam dua hari,” jawab kepala editor sambil tertawa getir, lalu wajahnya berubah sangat serius dan khidmat, “Tapi yang ingin saya katakan, Pak Fang, apakah Anda melihat cahaya di mata saya?”
“Sebuah cahaya yang penuh semangat, optimisme, dan daya juang!”
“Cahaya di mata saya muncul setelah membaca buku itu dan seketika tercerahkan.”
“Kita semua orang biasa, tapi kita harus selalu memiliki hati yang tak pernah berhenti melangkah, jiwa yang indah untuk mengatasi segala kesulitan, dan semangat pantang menyerah dalam berjuang!”