Bab 53: Para Ahli Berkumpul
Tujuan awal Sekte Dewa Roh membangun jembatan di rawa besar adalah demi kemudahan para pelintas jalan. Sekte Dewa Roh bermarkas di Gunung Sembilan Naga, Negeri Chu. Jika hendak menuju Kota Jianye di Negeri Qin, melalui jalur ini jaraknya lebih singkat. Suatu ketika, ketua sekte Liu Feng bersama murid-muridnya melewati tempat ini dalam perjalanan menuju Jianye untuk bertukar ilmu dengan Akademi Seni dan Militer Kerajaan. Ia melihat penduduk setempat yang, meski jarak tempat tinggalnya dekat, harus memutar sangat jauh hanya demi bertemu, begitu pula para kafilah dagang. Semua itu karena Danau Buaya menjadi penghalang. Maka Liu Feng bertekad kuat untuk membuka jalan ini.
Sebagai sekte nomor satu di dunia, mereka tentu punya kekuatan besar. Ditambah dukungan dari desa-desa, kota kecil, dan beberapa serikat dagang di sekitar, jembatan kokoh itu akhirnya berdiri. Meski proses pembangunannya sangat sulit dan memakan banyak korban, masyarakat sangat menghargai jembatan itu. Terbentuklah kesepakatan tak tertulis untuk menjaga dan memperbaikinya bersama. Siapa pun yang berusaha merusak pasti akan diserbu beramai-ramai. Bahkan perampok paling kejam pun tak berani menanggung risiko melawan arus besar dunia.
Wang Ziyu dan Pu Yuliang bermarkas di balik bukit tanah. Mereka pun tak berani naik ke bukit itu, sebab meski hujan deras telah menghapus bekas darah dan jasad telah dikuburkan, siapa yang tahu apakah buaya-buaya itu sudah kenyang? Jika mereka kembali menyerang perkemahan, bencana pun akan terjadi.
Di tepi utara, Zhao Wen juga tak berani mendekati Danau Buaya, apalagi menyeberangi jembatan untuk menyerang Wang Ziyu dan pasukannya. Tragedi buaya memangsa manusia sehari sebelumnya masih membekas di hati mereka. Akhirnya, kedua pihak saling berhadapan di seberang jembatan.
Karena jalur terputus, para pengintai tak bisa melapor. Maka muncullah merpati dan elang pembawa pesan di udara. Pertempuran pun merambah langit, anak panah melesat ke segala arah, dan burung-burung bertarung sengit di angkasa.
"Apa belum ada kabar dari Jenderal Zhang?" tanya Wang Ziyu dengan cemas.
"Setelah Tuan Muda dibawa Raja ke kota, belum ada berita. Namun beliau berpesan agar kita tak perlu mengkhawatirkan dirinya," jawab Ma Feifan.
"Benar. Dengan tingkat kemampuannya, jika ia ingin pergi, tak ada yang bisa menghalanginya. Lagipula, Jenderal Zhang Ge dan pasukannya sudah menyusup ke kota lebih dulu. Pasti mereka akan membantu Tuan Muda, jadi takkan terjadi bahaya. Oh, Wakil Panglima Pu, lihat, itu ada kabar dari Jenderal Liu."
Su Yuanxi menyerahkan pesan yang dibawa elang kepada Pu Yuliang.
"Bagus, Jenderal Liu telah memutus jalur logistik Zhao Wen dan menempatkan pasukan besar di jalan mundur musuh. Hahaha... Pemberontak belasan ribu orang itu, kita lihat saja berapa lama mereka bisa bertahan. Jenderal Wang, teruskan perintah, para komandan di garis depan harus tetap waspada. Waspadai jika Zhao Wen yang terdesak mencoba menerobos garis pertahanan kita."
Meski Wang Ziyu kini menjadi komandan tertinggi di sana, ia masih kurang pengalaman. Maka Pu Yuliang secara alami jadi pilar utama, meski perintah tetap harus keluar dari Wang Ziyu.
Saat Zhang Xian masih ada, sistemnya tetap sama. Karena Su Qing tak hadir, Wang Ziyu berpangkat paling tinggi. Su Kai selaku perencana militer, Guo Tu sekretaris utama, Bian Chuan sebagai perwira menengah, Xia Lin dan Komandan Yuan Hui serta beberapa lainnya ikut masuk kota bersama penyamar Su Ta. Tak ada kabar tentang Su Hui dan Ma Huan.
Di tepi Sungai Yushui, Liu Yong tampak murung.
"Belum ada berita tentang Tuan Muda?"
"Belum," jawab penasehatnya, Huang Wei, dengan gelisah.
"Tuan Muda bertindak seorang diri, itu sangat berbahaya. Guru Li pun tak menahannya, ah..."
Liu Yong tak tahu bahwa Li Wenhui dan Zhang Ge telah lebih dulu dikirim Zhang Xian ke Kota Donglu.
"Kirim pesan untuk Fang Ming dan Guru Chen agar segera menuntaskan urusan dengan pasukan selatan dan datang membantu. Setelah Zhao Wen selesai, segera menuju Kota Donglu. Urusan selanjutnya biar Tong Kui dan Luo Yushan yang tangani. Cheng Baoshan awasi pergerakan negara selatan, laporkan setiap saat."
"Baik."
Di sebuah hutan kurang dari sepuluh li dari Kota Donglu, Ma Huan dan Su Hui menatap serius laporan militer atas nama Wang Ziyu.
"Di mana posisi Ziyu dan pasukannya?" setelah lama diam, Ma Huan menoleh bertanya pada Liu Bai.
"Jenderal Wang sedang menahan pasukan pemberontak Zhao Wen di Danau Buaya."
"Kau adalah pengawal Zhang Xian, aku mengenalmu. Bukankah Zhang Xian sudah masuk kota? Kenapa kau tak ikut?"
Su Hui menatap curiga pada Liu Bai.
"Memang benar aku pengawal Jenderal Zhang. Beliau menyuruhku tetap di sisi Jenderal Wang sebagai pembawa pesan," jawab Liu Bai sambil memperlihatkan bendera perintah. Namun Su Hui memang tak pernah senang pada Zhang Xian, begitu pula pada orang-orangnya, terlihat jelas dari tatapan meremehkan dan curiganya.
"Jika kau orang kepercayaan Jenderal Shenwei, pasti tak akan berbuat salah. Yang terpenting sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Ma Huan pun sebenarnya tak suka pada Su Hui. Saat Su Hui memimpin penjaga dalam, ia sering menyulitkan Ma Huan. Kini Su Hui jadi pengawas militer, segala tindak-tanduknya membuat Ma Huan kesal, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Kita harus serbu kota, selamatkan Raja!"
"Benar, tembus kota, selamatkan Raja!" Ma Huan mengiakan. Liu Bai sedikit gelisah, sebab ia tahu isi laporan militer itu palsu, dibuat oleh Luo Ye. Tujuannya agar Ma Huan tak menyerbu kota dengan sepuluh ribu pasukannya. Padahal jika benar-benar menyerbu, Kota Donglu pasti jatuh namun kekacauan akan meluas, bisa-bisa kota itu hancur lebur.
Karena itu atas nama Wang Ziyu, Luo Ye menyarankan Ma Huan membagi pasukannya menjadi tiga, menjaga pintu timur, selatan, dan utara. Tak ada yang boleh masuk atau keluar, tujuannya menahan kekuatan luar agar tak masuk kota.
"Lantas tunggu apa lagi, berikan perintah!" desak Su Hui.
"Kenapa harus menyerbu kota? Pasukan di dalam sudah sangat banyak, tak kurang dari dua ratus ribu orang. Kota Donglu tidak besar, penduduknya saja lebih dari dua ratus ribu. Untuk apa kita ikut menambah kekacauan?" Ma Huan mendongak, bergumam.
"Apa? Ma Huan, apa kau juga mengkhianati Raja?" Su Hui mendelik marah.
"Prajurit, bawa Tuan Su beristirahat."
"Ma Huan, kau..."
Tanpa banyak bicara, pengawal Ma Huan langsung menyeret Su Hui menuju perkemahan. Ma Huan tersenyum sinis melihat Su Hui yang meronta dan memaki.
"Suka bikin masalah tapi tak pernah memberi solusi. Kalau saja keluarga kerajaan menebasnya sejak awal, pasti tak begini."
Liu Bai melongo.
"Saudara kecil, apa masih ada sesuatu yang belum kau sampaikan?" Ma Huan menoleh pada Liu Bai yang masih tertegun.
"Ah, iya, Jenderal Ma, ini surat pribadi dari Tuan Muda untuk Anda."
Liu Bai mengeluarkan surat dari Zhang Xian untuk Ma Huan.
"Hebat, Jenderal Dewa Perang memang pantas disebut pendekar nomor satu, penuh keberanian. Baiklah, kita lakukan seperti saran Tuan Muda-mu. Tapi aku juga ingin masuk kota ikut menyaksikan langsung, kau bisa membawaku?"
Liu Bai terkejut.
Sebelum malam tiba, Ma Huan mengatur segala sesuatu, lalu masuk kota untuk 'ikut meramaikan'. Zhang Xian tentu tak tahu bahwa Liu Bai membawa Ma Huan masuk kota. Begitu masuk, Ma Huan dan Liu Bai langsung menuju kediaman wali kota. Saat mereka mendekat, waktu hampir menunjuk tengah malam. Sementara itu, Zhang Xian, bersama pamannya, telah dibawa bersama para tetua agung menuju Menara Batu.
Meski sudah larut, halaman belakang kediaman wali kota terang benderang. Di sekitar Menara Batu, beberapa tumpukan unggun menyala. Banyak orang membawa obor, berbaris dalam puluhan formasi di depan pintu menara. Di sekitar menara, para penjaga berjaga, sebagian besar adalah murid tingkat rendah dari belasan sekte.
Karena di sana berkumpul sepuluh sekte besar, puluhan perguruan kecil, juga para tetua akademi serta Akademi Seni dan Militer Kerajaan Qin, para ahli berkumpul, Zhang Xian pun tak berani bertindak gegabah, menampilkan sikap rendah hati.
Tetua agung, dengan janggut panjangnya, melangkah ke depan menembus kerumunan. Di belakangnya, Su Jie dan Zhao Wu yang seluruh tubuhnya terbalut kain hitam turut melangkah.
"Waktu sudah tiba, apakah masih ada yang ingin ditanyakan?" Tetua agung menyapu pandangannya pada para ketua sembilan sekte dan pimpinan Akademi Seni dan Militer Qin.
"Guru Su, tak ada pertanyaan lagi, hanya saja, setelah pintu batu dibuka, siapa yang masuk lebih dulu..." Su Hu tampak berpikir.
"Memang, itu persoalannya. Ada usul?" Tetua agung mengerutkan mata, suaranya tenang.
"Tadinya mau adu laga untuk menentukan urutan, tapi itu makan waktu lama. Bagaimana kalau diundi saja?" usul kepala ajaran Gunung Qishan.
"Ribet. Tiap sekte utus sepuluh orang, begitu pintu terbuka, siapa cepat dia dapat," sela kepala Sekte Gerbang Hantu Yindu, Ba Shu.
"Saran Ketua Ba cocok dengan pikiranku. Ada yang keberatan?" tanya Tetua agung.
"Setuju, jangan buang waktu," seru ketua Sekte Bayangan Gelap, Yin Kui dengan suara seram.
"Setuju," sambut Sekte Gedung Uang, Sekte Iblis Raksa, Gedung Lembah Harum, Paviliun Awan Melayang, dan lainnya.
Ketua Sekte Dewa Roh tak hadir, hanya seorang tetua paruh baya yang datang, tak ambil pusing, karena mereka memang hanya ingin membawa kunci batu, bukan berebut harta.
Ketua Sekte Dunia Bawah juga absen, hanya seorang bertopeng yang mendengus, tanda tidak menolak. Sekte Pembantai Dewa sama sekali tak mengirim utusan, posisi mereka digantikan Sekte Gunung Min yang cuma ingin menumpang nama.
"Kalau semua setuju, kita lakukan seperti itu," Tetua agung Su Hu akhirnya menetapkan keputusan.