Bab 52: Penggunaan Obat dengan Niat Tersembunyi
Selama dua hari terakhir, apa pun yang dilakukan Bai Su, mulutnya selalu komat-kamit mengucapkan nama-nama titik akupunktur. Beberapa kali saat bertemu Qing Zhi, Bai Su akan meneliti tubuh Qing Zhi dengan saksama, bahkan kadang-kadang tangannya bergerak menekan-nekan di beberapa bagian. Qing Zhi ketakutan melihat keseriusan Bai Su, berusaha menghindar tapi tak pernah berhasil.
Pada hari ketiga, Bai Su akhirnya hampir hafal seluruh titik akupunktur, barulah ia tenang dan melepaskan Qing Zhi dari eksperimennya. Melihat Bai Su begitu giat belajar, Bai Jing pun ikut terpengaruh semangatnya. Maka malam itu juga, begitu selesai memeriksa pasien, Bai Jing tanpa memedulikan makan malam langsung menuju kediaman Bai Su untuk mengajarinya teknik akupunktur.
Ayah dan anak itu duduk bersila di lantai, mengelilingi patung tembaga anatomi manusia. Bai Jing mengulurkan lengan kanannya, menggerakkan ujung jari tengah, lalu bertanya pada Bai Su, “Apa nama titik pada ujung jari tengah ini?”
“Itu adalah titik Zhongchong.”
“Sebutkan semua titik pada meridian yang sama dengan Zhongchong, dan tunjukkan padaku,” kata Bai Jing sambil menggulung lengan bajunya hingga ke bahu.
Bai Su menarik napas dalam-dalam, memegang lengan ayahnya, lalu dengan telunjuknya menekan telapak tangan Bai Jing, berkata dengan mantap, “Ini adalah titik Laogong, terletak di telapak tangan, tepat di bawah ujung jari tengah ketika tangan mengepal.” Ia kemudian menggeser jari ke pergelangan tangan, “Ini titik Taiyuan, pusat pertemuan seratus nadi, darah sangat kuat di sini.”
“Dua jari di atasnya adalah titik Neiguan, titik penghubung antar delapan meridian.”
“Tiga cun di belakang telapak tangan, di antara dua tendon adalah titik Jianshi.”
“Ini titik Ximen. Di atasnya ada titik Quze, terletak di lekukan siku, di mana aliran nadi lebih dangkal dan lebar. Paling atas adalah Tianquan, utama untuk mengobati nyeri jantung.”
Bai Su menekan satu persatu, dengan posisi yang sangat tepat, membuat Bai Jing diam-diam kagum dalam hati, walaupun tetap memasang wajah serius. Setelah Bai Su selesai, Bai Jing membuka kantong akupunktur di sampingnya dan membentangkannya. Di dalamnya terdapat delapan bagian, masing-masing berisi sembilan jarum perak yang berkilauan, setiap jarum berbeda bentuk.
“Hari ini aku akan mengajarimu cara menusukkan jarum. Teknik akupunktur dapat menstimulasi titik-titik di permukaan tubuh, melancarkan meridian, menggerakkan qi dan darah. Ada tiga langkah utama: menentukan titik, menusuk jarum, dan membiarkan jarum tertanam. Dalam proses menusuk, kedua tangan harus bekerja sama, satu tangan memegang jarum, satu lagi menekan dan membuka jalur. Setelah menggeser tendon dan menghindari pembuluh darah, gunakan kekuatan jari untuk menembus kulit dengan cepat...” Bai Jing menjelaskan sambil mempraktikkan, dan Bai Su mendengarkan dengan penuh perhatian.
Saat Bai Su sedang khusyuk belajar, dari luar terdengar suara Banxia yang panik, “Tuan, Nona! Ada seorang anak yang sakit, orangnya sedang menunggu di aula utama, kelihatannya sangat darurat!”
Mendengar itu, Bai Jing segera meninggalkan semua pekerjaannya, berdiri, “Su’er, ayo kita segera ke sana.”
Ayah dan anak itu bergegas menuju aula utama, namun begitu melihat siapa yang datang, keduanya terkejut.
“Tianhua?” Bai Su tak menyangka orang yang datang adalah Mu Tianhua. Sudah lama mereka tak bertemu, rasa canggung pun menyelimuti hatinya. Mu Tianhua melihat Bai Su, hatinya melembut, menahan keinginan untuk bernostalgia, lalu berkata pada Bai Jing, “Tuan Bai, maaf sudah mengganggu malam-malam begini. Adikku Mu Wan sudah dua hari sakit, tabib sudah memberi berbagai macam obat, tapi ia tidak mau minum, sekarang demam tinggi dan kami sekeluarga tidak tahu harus berbuat apa.”
“Baik, bawa dia masuk,” jawab Bai Jing tanpa basa-basi, lalu menuju ruang samping di sebelah barat aula utama, memerintahkan Mu Tianhua meletakkan adiknya di ranjang.
Mu Wan memejamkan mata, pipinya memerah, napasnya berat. Setelah Bai Jing memeriksa nadinya, ia menulis resep sambil menenangkan Mu Tianhua, “Ini hanya flu biasa, belum menyebar ke organ lain, kalau cepat minum obat akan sembuh.”
“Tapi Wanwan tidak mau minum obat, setiap kali disuapi selalu dimuntahkan lagi, tak mau menelan.”
“Itu bisa dimaklumi, indra pengecap dan penciuman anak-anak memang lebih peka, apalagi rasa pahit sangat tidak disukai. Selain itu, organ dalam anak-anak masih bersih dan lemah, tidak boleh diberi obat keras, apalagi obat yang terlalu manjur. Akan ku buat resep yang lembut, lalu mencampurkan obat ke dalam kue manis, seperti memberi camilan, dia pasti mau makan.”
Mu Tianhua mengangguk berkali-kali, setuju dengan saran itu.
Setelah selesai menulis resep, Bai Jing hendak ke apotek untuk mengambil bahan obat, namun Bai Su menahannya, “Ayah, biar aku saja yang ambil.”
Bai Jing menyingkirkan tangannya, berkata, “Setelah mengambil obat, masih harus mengolahnya jadi kue, kau belum tahu cara menghilangkan rasa pahitnya, jadi jangan ikut campur.”
Mu Tianhua mendengar bahwa Tuan Bai sendiri yang akan membuat obat, segera mengucap terima kasih berulang kali, hatinya dipenuhi rasa syukur. Setelah Bai Jing keluar dari aula, barulah Mu Tianhua dan Bai Su mulai mengobrol ringan.
“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” Mu Tianhua menyadari Bai Su tampak canggung, tapi ia tak mempermasalahkan, mengira mungkin karena sudah lama tak bertemu, nanti juga akan akrab lagi.
Bai Su terdiam sejenak. Keadaannya akhir-akhir ini memang sulit dijelaskan dengan satu kalimat. Sejak ia membebaskan Bai Zhi, dimarahi keluarga, bahkan sempat menginap di luar rumah semalam, hingga akhirnya Bai Jing mengizinkannya belajar ilmu kedokteran dan mengajarinya akupunktur. Hari-harinya belakangan ini tak bisa digambarkan hanya dengan baik atau buruk. Setelah ragu sejenak, Bai Su tersenyum, “Lumayan, kadang menyenangkan, kadang tidak, seimbanglah.”
Mu Tianhua mengangguk seolah mengerti, menunjuk ke arah apotek, “Kulihat Tuan Bai sudah mengizinkanmu belajar jadi tabib, itu kabar yang membahagiakan.”
“Iya.” Bai Su tersenyum lega, lalu bertanya, “Kalau kamu sendiri? Sudah keluar hasil ujian daerah?”
“Belum. Tiga hari lalu ujian selesai, tapi aku baru kembali ke Wuyong semalam. Sebenarnya hari ini ingin menemuimu, tapi Wan sakit parah. Tak disangka, akhirnya tetap bertemu, walaupun dengan cara seperti ini.” Mu Tianhua melirik Mu Wan, menepuk lembut dahi adiknya, lalu menatap Bai Su, sedikit merasa bersalah. Saat itu ia menyadari di rambut Bai Su tidak ada tusuk konde bunga persik pemberiannya, dan hatinya terasa hampa.
“Keluarga yang sakit memang harus diutamakan,” ujar Bai Su sambil menatap Mu Wan, “Dia adik kandungmu?”
“Iya, putri selir ketiga di rumah, namanya Mu Wan. Sejak kecil dia selalu lengket padaku, kalau sakit pun ingin aku menemaninya, jadi—”
“Wanwan benar-benar lucu, kadang aku juga membayangkan alangkah bahagianya kalau punya adik perempuan sendiri.” Bai Su menghela napas, semakin iri melihat mereka yang punya saudara dekat, tak seperti dirinya, yang meskipun punya kakak dan kakak perempuan, kini semuanya jauh darinya.
Melihat kesepian di mata Bai Su, hati Mu Tianhua ikut pilu. Ia merasa Bai Su pasti menyimpan kesedihan, tapi ia tidak memaksa bertanya, malah dengan lembut menawarkan, “Besok kau punya waktu luang? Mau jalan-jalan bersamaku?”
“Orang di ruang obat sedang kurang, mungkin aku akan sibuk, tak bisa lama-lama.”
“Tak apa, sebentar pun jadi. Aku… merindukanmu.” Tatapan Mu Tianhua agak menghindar, entah kenapa, ia yang biasanya ramah justru tampak canggung hari ini.
Mereka pun terus berbincang, hingga lama kemudian Bai Jing kembali ke aula dengan membawa kotak makanan.
“Terima kasih sudah repot-repot, Tuan Bai.” Mu Tianhua berdiri, membungkuk, lalu menerima kotak itu.
“Kue ini untuk satu hari, di rumah tinggal dikukus sebentar saja. Karena tidak tahan lama, aku tak membuat banyak. Sepertinya Mu Gongzi harus repot-repot datang tiap hari untuk mengambil obat.” Bai Jing merapikan jenggotnya, lalu menambahkan, “Sudah lama tak membuat kue obat untuk anak kecil, entah masih enak atau tidak.”
“Tidak masalah, aku tak keberatan bolak-balik.” Mu Tianhua tersenyum, dalam hati merasa ternyata Tuan Bai yang tegas pun punya sisi menggemaskan.
Setelah Mu Tianhua menggendong Mu Wan pulang, Bai Su mengikuti Bai Jing kembali ke kamar. Dengan penasaran ia berkata, “Ayah, aku baru tahu kalau Anda bisa membuat kue, sebenarnya waktu kue obat itu dikeluarkan, aku juga ingin mencicipinya.” Sambil berkata, ia menggosok-gosok tangannya, tampak ingin sekali mencoba.
Bai Jing melirik Bai Su, “Kau hanya suka ikut-ikutan saja.” Ia menambahkan lagi, “Di istana, anak-anak keluarga kerajaan sangat dimanja, obat ramuan, pil, ataupun bubuk tidak pernah mau mereka minum. Maka tabib di Rumah Sakit Istana selalu menumbuk obat, mencampurnya ke dalam tepung, dijadikan kue, lalu disajikan pada mereka.”
Melihat ayahnya untuk pertama kali berbicara tentang Rumah Sakit Istana dengan begitu terbuka, Bai Su pun segera bertanya, “Ayah, seperti apa istana itu? Bagaimana Rumah Sakit Istana? Apakah di sana semua jenis obat ada?”
Melihat tatapan penuh harap dari Bai Su, Bai Jing tak tega mengutarakan pendapat sebenarnya, sehingga ia hanya menjawab seadanya, “Istana itu tempat yang baik, Rumah Sakit Istana juga tempat pengobatan terbaik.”
Bai Su menaikkan alis, “Ayah, Anda berbohong. Kalau istana itu baik, kenapa Anda tak mau kembali ke sana?”
Bai Jing tercengang, menatap Bai Su yang tampak cerdik, ia sadar putrinya ini sudah bukan lagi gadis kecil yang mudah dibohongi.
Mu Tianhua menggendong Mu Wan naik ke kereta, lalu segera pulang ke kediaman keluarga Mu. Selir ketiga, Nyonya Zheng, menunggu dengan cemas di rumah. Begitu tahu Mu Wan sudah pulang, ia langsung berlari menyambut, merebut Mu Wan dari pelukan Mu Tianhua, mengelus rambut putrinya dengan dahi berkerut, “Obatnya mana? Apa resep ajaib yang diberikan tabib?”
Mu Tianhua sebenarnya jengkel melihat sikap Nyonya Zheng, tapi tetap menyerahkan kotak berisi kue obat itu. Begitu melihat isi kotak hanya adonan kue yang belum dikukus, Nyonya Zheng langsung marah, “Apa-apaan ini! Mana mungkin begini?! Tabib macam apa ini! Mu Tianhua, kau mau mencelakakan anakku?”
Mu Tianhua malas berdebat, tapi tetap harus menjelaskan. Setelah dijelaskan pun, Nyonya Zheng tak juga meminta maaf, hanya menatap Mu Tianhua dengan ragu, lalu membawa kotak dan Mu Wan masuk ke kamar.
Mu Tianhua menghela napas melihat punggung Nyonya Zheng, baru hendak berbalik, tiba-tiba muncul sosok dari kegelapan.
“Yunhua?” Mu Tianhua terkejut, tak sadar bahwa Mu Yunhua ternyata sejak tadi duduk di tangga batu tak jauh dari situ, “Sudah malam begini, kenapa kau di sini?”
Mu Yunhua tersenyum tipis, “Sedang bosan, jadi keluar mencari udara segar.”
Mu Tianhua penasaran, menggoda, “Tak kusangka kau juga bisa bosan.”
“Bagaimana kondisi Wanwan?” Mu Yunhua tidak menanggapi, bahkan ia sendiri tak tahu kenapa hatinya terasa sesak malam itu.
“Tabib sudah memberi resep, dibuatkan kue obat. Anak-anak pasti mau makan kue, jadi seharusnya tak ada masalah. Hanya saja harus bolak-balik tiap hari mengambil kue obat segar, agak merepotkan.” Mu Tianhua lalu berkomentar, “Ide mencampur obat ke dalam kue benar-benar bukan tabib biasa.”
Kedua bersaudara itu pun berjalan pelan di jalan setapak, kerikil di bawah kaki memantulkan cahaya bintang yang redup. Mu Yunhua merenung sejenak, lalu bertanya, “Tabib yang kau maksud, itu tuan tua dari keluarga Bai?”
Mu Tianhua mengangguk, menatap adiknya, dalam hati bertanya-tanya, sejak kapan anak ini tertarik pada orang lain?
Namun kalimat berikutnya dari Mu Yunhua membuat Mu Tianhua jauh lebih terkejut—
“Kakak, bagaimana kalau besok aku saja yang mengambil kue obat itu?”