Bab 30 Ayah yang Tegas
Setelah tragedi yang terjadi di Paviliun Shinagawa, ketiga orang itu pun kehilangan keinginan untuk berlama-lama di sana. Mu Yunhua lebih dulu berpamitan, menyisakan Bai Su dan Tianhua berdua. Sebelum ia pergi, Bai Su sangat ingin mengucapkan terima kasih kepadanya, tapi ia khawatir hanya dirinya yang terlalu berprasangka, sehingga ragu-ragu hingga akhirnya sosok pria itu sudah berjalan cukup jauh.
“Aku antar kau pulang,” ujar Mu Tianhua sambil menggenggam tangan Bai Su, menambahkan sedikit kekuatan seolah berusaha menenangkan hati gadis itu. Justru gerakan kecil dan penuh perhatian itu menyentuh hati Bai Su. Ia tak bisa menahan diri lagi, bersandar di bahu Mu Tianhua dan menangis tersedu-sedu, “Ayah benar sekali—semua yang kuketahui selama ini ternyata sangat sedikit, aku yang menyebabkan kemalangan itu—akulah penyebabnya—akulah yang menyebabkan orang itu meninggal—”
Hati Mu Tianhua terasa pedih, alisnya berkerut, lalu ia memeluk Bai Su erat-erat. “Setiap orang pasti pernah merasa tak berdaya, bahkan tabib paling hebat pun bisa melakukan kesalahan. Su’er, aku akan selalu menemanimu, menghadapi apapun bersama-sama.” Ia membetulkan wajah Bai Su, menatap mata gadis itu dan dengan ibu jarinya mengusap lembut bekas air mata di pipinya. “Boleh, ya?”
Bai Su mengangguk keras, tanpa sadar melingkarkan tangannya di punggung laki-laki itu. Mu Tianhua menggigit bibir menahan sakit di punggungnya, tapi yang ia rasakan hanya kehangatan yang tak berujung. Jika pertemuan pertamanya dengan Bai Su hanya menumbuhkan sedikit kesan baik pada gadis cerdas dan cekatan itu, maka keteguhan Bai Su untuk tetap belajar ilmu pengobatan meski mendapat hukuman dari Tuan Bai-lah yang benar-benar membuatnya jatuh hati. Bai Su adalah gadis yang kuat sekaligus rapuh; Mu Tianhua seakan melihat bayangan dirinya sendiri pada diri gadis itu. Menemani dan mendukungnya, kini telah menjadi tanggung jawab yang harus ia pikul, sama pentingnya dengan masa depannya sendiri.
Sementara itu, Mu Yunhua berjalan pelan sendirian di sepanjang jalan. Ia seperti sosok yang kebal terhadap segala racun dunia, riuh dan keramaian di sekitarnya seolah teredam dari pendengarannya. Jubah hitam panjang yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak tinggi ramping, namun juga menegaskan kesendiriannya. Sejak kecil hingga dewasa, ia memang selalu seperti itu—berjalan sendiri, tak pernah memperhatikan orang-orang atau peristiwa di sekitarnya. Para tetua di rumah tak menyukainya karena ia jarang bicara, sehingga mereka menganggap Yunhua anak yang muram dan sukar diajak bergaul. Hanya Mu Tianhua yang mau membagi segala hal dengannya, mau berjalan berdampingan dan berbicara dari hati ke hati. Ia bahkan tahu pasti, Tianhua adalah anggota keluarga pertamanya yang bertemu dengan Bai Su. Sebab memang begitulah kakaknya; jika ada kabar baik, ia pasti langsung memberitahunya tanpa ragu sedikit pun.
Mu Yunhua meregangkan lengannya dengan malas, setengah memejamkan mata memandang langit jauh, lalu menghela napas panjang. Dalam hati ia berpikir, akhirnya ada juga yang akan menjaga kakaknya yang polos itu.
Bai Su kembali ke rumah saat Bai Jing masih memeriksa pasien di aula utama. Begitu mengangkat kepala dan melihat Bai Su, ia langsung mencari-cari seseorang yang lain, namun tak menemukan sosok Mu Tianhua.
“Ayah, aku sudah pulang,” sapa Bai Su sambil menyunggingkan senyum, meski pikirannya masih terjebak dalam kepedihan yang baru saja dialami.
Bai Jing tidak menyambutnya dengan senyum, hanya menjawab datar, “Baik, masuklah dulu ke kamar. Nanti Ayah akan menemuimu, ada beberapa hal yang ingin dibicarakan.”
Bai Su tidak menyadari ada yang berbeda dari sikap ayahnya, malah menjawab dengan mata berbinar, “Kebetulan aku juga ingin bicara sesuatu dengan Ayah.”
Hati Bai Jing langsung tenggelam. Bai Su baru saja pulang dari berjalan-jalan dengan Mu Tianhua, apa pun yang ingin dibicarakannya pasti berkaitan dengan pemuda itu. Ia sendiri tak tahu apa yang dipikirkan putrinya, dan tak bisa menahan napas panjang. Ia bukannya tak menyukai Mu Tianhua; ia sudah pernah beberapa kali berinteraksi dengannya, dan tahu bahwa Tianhua adalah pemuda yang sopan dan berpendidikan. Tapi, bagaimanapun juga, pemuda itu bermarga Mu. Jika keluarga Mu di Kota Wuyong tak ada kaitannya dengan keluarga kerajaan, itu tak masalah, atau kalaupun hanya kerabat jauh pun masih bisa diterima—paling hanya akan jadi bahan omongan. Tapi jika ternyata ada hubungan keluarga dekat yang tidak diketahui orang lain... Inilah yang dikhawatirkan Tuan Bai, sehingga ia merasa perlu memastikan semuanya sejak awal.
Saat Bai Su masuk ke kamarnya, Banxia langsung menyambutnya dengan senyum penasaran di wajah pelayan muda itu. “Nona sudah pulang?”
Bai Su mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang dan akhirnya rebah terlentang.
Melihat nona mudanya tampak kelelahan, Banxia segera berjongkok dan mulai memijat kakinya sambil bercanda, “Nona, siapa yang lebih perhatian, Tuan Muda Mu atau aku?”
Bai Su langsung menendang kakinya ke arah Banxia sambil pura-pura kesal, “Dasar pelayan nakal, sejak kapan mulutmu jadi seenaknya begitu? Kalau masih ngomong sembarangan, aku usir kau nanti.” Tapi pada akhirnya, candaan Banxia berhasil membuat Bai Su tertawa.
Melihat wajah nona mudanya sudah tak lagi muram seperti saat masuk tadi, Banxia pun ikut senang dan semakin bersemangat. “Nona, bagaimana Tuan Muda Mu hari ini? Apakah ia membelikan kue osmanthus favoritmu?”
“Kue osmanthus saja tidak, apalagi kue gula putih,” canda Bai Su, berpura-pura mengeluh tentang Mu Tianhua. Sebenarnya, soal makanan, ia sama seperti gadis kebanyakan: menyukai yang manis-manis dan suka mencicipi jajanan di pinggir jalan. Hari ini di Paviliun Shinagawa, meski mereka bertiga mengobrol cukup akrab, suasananya tetap terasa berat. Ia berpikir, lain kali kalau ada kesempatan lagi, ia ingin benar-benar berjalan-jalan bersama Mu Tianhua di lorong-lorong kota.
“Nona ingin makan apa malam ini? Ada yang sedang diidamkan? Biar Banxia siapkan,” tawar Banxia.
Melihat ketulusan dan semangat Banxia, hati Bai Su terasa hangat. “Kau istirahat saja, malam ini aku makan bersama yang lain, tak perlu menyiapkan apa-apa yang khusus untukku.”
“Kalau begitu, Banxia permisi dulu.” Banxia membungkuk dan hendak keluar, tapi Bai Su baru teringat ada yang ingin ditanyakan. Ia memanggil Banxia kembali, “Apakah ada kabar dari kakak hari ini?”
Wajah Banxia langsung berubah muram, suaranya berat, “Menurut Muksiang, hari ini makanan yang diantar ke kamar kakak hampir tak disentuh, semuanya dikembalikan begitu saja. Muksiang mencoba berbicara dengan Kakak Besar, tapi dari dalam kamar tak ada suara. Tuan juga sudah berpesan, jadi Muksiang tak berani masuk; ia hanya berjaga di luar. Dua hari ini ia juga kelihatan jauh lebih kurus, apalagi Kakak Besar.”
“Sampaikan pada Muksiang, aku akan ke sana nanti,” pesan Bai Su, matanya tampak redup.
Banxia menerima perintah itu, membungkuk kembali, lalu keluar. Tak lama setelah Banxia pergi, Bai Jing masuk ke kamar Bai Su.
“Ayah?” Bai Su terkejut, seharusnya ayahnya masih sibuk memeriksa pasien, kenapa sudah datang ke kamarnya?
Bai Jing duduk di depan meja teh. Bai Su segera menuangkan segelas teh hangat untuknya. “Ayah, ada yang ingin Ayah bicarakan? Apa begitu pentingnya?”
Bai Jing tidak menyentuh tehnya. Ia merasa lebih baik memahami dulu keinginan Bai Su, lalu bertanya, “Bukannya kau juga ingin bicara sesuatu pada Ayah? Silakan.”
“Ayah—” Melihat raut wajah ayahnya yang serius, Bai Su kehilangan kepercayaan dirinya. Namun ia merasa masalah Bai Zhi lebih penting sekarang, jadi ia memilih membicarakan itu dulu. “Ayah, jangan lagi mengurung Kakak di kamar. Ia sendirian di dalam tanpa ada yang menemani, kami semua ikut cemas. Soal dia dan Tuan Muda Zhao, masih bisa didiskusikan, Ayah. Tolong, bebaskan Kakak lebih dulu.”
Bai Jing mengepalkan tinjunya, menjawab dingin, “Kau kira aku sebagai ayahnya tidak cemas? Aku juga khawatir ia tak ada yang menjaga, tapi aku lebih khawatir dengan keselamatannya!”
“Ayah—” Bai Su sadar bahwa perkataan ayahnya bukan tanpa alasan, bahkan sangat masuk akal, sehingga ia tak bisa membantah.
“Jangan lagi membela kakakmu. Kalau aku membebaskannya, dia pasti akan lari bersama si Zhao itu! Hanya setelah dia pergi dari Wuyong, baru aku akan membebaskan Bai Zhi.” Bai Jing sudah memutuskan, tak ingin membahas lebih lanjut.
Bai Su merasa sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia lalu mengangkat satu masalah lain, “Ayah, mulai besok, aku ingin ikut Ayah memeriksa pasien.”
Bai Jing menatap putrinya, diam sejenak, lalu perlahan bertanya, “Kenapa?”
Bai Su menarik napas dalam-dalam. “Aku ingin memiliki keahlian pengobatan yang tinggi. Ayah, hari ini di rumah makan, aku bertemu seorang pasien yang tiba-tiba terkena serangan jantung—dia meninggal begitu saja, tepat di hadapanku! Ayah, rasanya sungguh tak berdaya. Aku tidak ingin lagi hanya bisa menonton tanpa bisa menolong, Ayah, izinkan aku belajar langsung darimu.” Air matanya hampir menetes, ia pun berlutut di hadapan Bai Jing.
Bai Jing menggerakkan bibirnya, mengucapkan dengan tegas, “Tidak, bisa.”
“Ayah! Kumohon, ajarkan aku ilmu pengobatan! Kalau suatu saat kutemui lagi pasien seperti itu, jika aku masih tak mampu menolong, aku akan semakin merasa bersalah!”
“Kau tidak punya kualitas yang dibutuhkan seorang tabib, kau tak bisa menjadi tabib.” Jawaban Bai Jing makin tegas, dan di mata Bai Su wajah ayahnya tampak sangat dingin.
“Aku sudah menghafal lebih dari dua puluh kitab pengobatan, Ayah. Silakan tanya apa saja, aku pasti bisa menjawabnya! Ayah, izinkan aku mengalami sendiri proses memeriksa nadi dan mengobati pasien! Aku tahu hanya menghafal buku tak cukup, untuk meningkatkan kemampuan harus berhadapan langsung dengan kasus nyata, Ayah—”
Bai Jing berdiri dengan kesal, tak peduli Bai Su masih berlutut memohon, ia berkata dingin, “Pengetahuanmu masih terlalu dangkal. Dengan kemampuan seperti ini, kau belum layak menangani pasien.”
Bai Su benar-benar terpukul. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia telah menekuni ratusan kitab kedokteran, segala teori dan ramuan tertanam jelas di ingatannya. Ia percaya, jika Bai Jing menyebutkan satu kalimat saja, ia bisa segera melanjutkannya. Jika semua itu masih dianggap kurang, ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Ayah, apakah dari awal Ayah memang tak ingin aku jadi tabib, makanya bilang pengetahuanku masih kurang, bilang aku tak punya bakat, apakah semua itu hanya alasan—” Sekejap saja, wajah Bai Su sudah basah oleh air mata. Ia benar-benar merasa tidak adil.
“Cukup! Jangan bicara lagi!” seru Bai Jing dengan suara tinggi. Ia menatap Bai Su dengan sangat rasional, “Kalau dasar pemahamanmu saja tak ada, berarti memang jalan pengobatan bukan untukmu.”
Di bawah kecaman keras ayahnya, Bai Su terdiam. Ia menahan tangis sekuat tenaga, tak ingin menunjukkan kelemahan atau rasa terlukanya di depan ayah.
“Ayah ke sini ingin bertanya sesuatu. Apa sebenarnya hubunganmu dengan pemuda dari keluarga Mu itu?”
Bai Su terkejut, lalu bicara dengan perasaan bersalah, “Maaf, Ayah, aku belum sempat memberitahumu—”
“Itu tidak penting.” Bai Jing memegangi dahinya, tampak sangat lelah. Ia tak ingin bertele-tele, langsung bertanya, “Aku hanya ingin tahu, apa hubungan keluarga Mu dengan keluarga kerajaan?”
“Hubungan?” Bai Su tertegun, kemudian menjawab, “Sepertinya tidak ada hubungan, Ayah—di negeri ini banyak sekali orang bermarga Mu, keluarga mereka pun tinggal di Wuyong yang terpencil, sepertinya benar-benar tak ada hubungan sama sekali. Ayah, kenapa bertanya soal itu?”
“Apapun yang kau katakan tak akan mengubah keputusan. Hal ini harus dipastikan, kau tidak boleh terlalu dekat dengan siapapun dari keluarga Mu.” Bai Jing berdiri, “Aku masih banyak urusan, soal keluarga Mu, kau harus segera cari tahu.”
Bai Su hanya mengangguk tanpa semangat, walaupun tak mengerti apa-apa, ia tak berani bertanya lebih lanjut kepada ayahnya. Ia benar-benar bingung. Jika keluarga Zhao adalah musuh lama, lalu apa hubungan keluarga mereka dengan keluarga kerajaan? Mengapa ia tak boleh dekat dengan keluarga bermarga Mu? Begitu banyak pertanyaan memenuhi benaknya, ia pun mulai sangat penasaran dengan masa lalu keluarga Bai.