Kebenaran Keluarga Mu
Setelah menghilang selama beberapa hari, Akhirnya Changye kembali ke Kediaman Keluarga Mu. Ia menyeret tubuh yang lelah lahir batin, bahkan belum sempat beristirahat, sudah menyuruh pelayan memanggil Yunhua ke aula leluhur.
Di dalam aula yang remang dan pengap itu, asap dupa memenuhi udara, sementara pintu dan jendela tertutup rapat. Changye menyingkirkan semua orang. Begitu masuk, Yunhua mengira ada kebakaran di dalam, bau asap dupa yang menusuk membuatnya terbatuk-batuk. Ia melihat Changye berdiri membelakangi dirinya, “Ayah—”
Changye tidak menoleh. Ia menopang kedua tangan di tepi altar dupa, wajahnya menghadap papan nama leluhur, seolah tengah merenung. Yunhua menutup pintu aula, diam-diam berjalan pelan mendekati ayahnya. Ketika suara kunci pintu mengunci terdengar, barulah Changye berbalik perlahan. Yunhua terkejut melihat bayangan gelap di wajah ayahnya, dan setelah mengamati seksama, tampak rambut putih bertambah di pelipisnya. Yunhua tanpa sadar mengepalkan tangan di bawah lengan jubahnya, firasat buruk membuncah—jangan-jangan benar ada sesuatu menimpa kakaknya...
“Yunhua.” Suara serak itu memecah keheningan aula. Changye menatap anak keduanya dalam-dalam, lama kemudian baru melanjutkan dengan suara parau, “Kakakmu, mungkin tak akan pernah kembali lagi.”
Yunhua merasa sekujur tubuhnya membeku, bulu kuduknya berdiri. Lengan yang mengepal mulai bergetar, tak bisa dihentikan.
“Kakakmu sudah tertimpa bahaya, dan keluarga kita pun mungkin akan segera menghadapi bencana. Yunhua, setelah Tianhua tiada, kau menjadi putra utama keluarga. Urusan keluarga ini, meski kau tak rela menerimanya, kini kau harus mengambil alih.”
Yunhua tiba-tiba menegakkan alis, “Siapa yang melihat jasadnya? Siapa yang melihat jasad kakak? Ayah, mengapa ayah yakin ia telah tiada?”
“Tak perlu melihatnya.” Pandangan Changye meredup, “Ayah punya orang kepercayaan di ibukota. Aku sudah menyuruh mereka menyelidiki, Tianhua memang ikut ujian istana—kalau ia ikut ujian, lalu namanya dihapus dari daftar, ia pasti tak punya jalan hidup lagi.”
“Tidak! Pasti ada kemungkinan lain!” Yunhua menggeleng panik. Bagaimana ia bisa menerima kakak yang sangat dekat dengannya kini telah meninggal? Beberapa bulan lalu mereka masih bermain catur, berdiskusi sastra, minum bersama. Ia bahkan menemani kakaknya ke kuil untuk memohon keberuntungan dalam ujian... Seseorang yang hidup, mengapa bisa menghilang tanpa jejak...
“Mengapa? Mengapa kakak dihapus dari daftar peserta ujian? Apakah ia menulis sesuatu yang membuat marah sehingga bahkan berita kematiannya pun tak diumumkan?!”
“Bukan itu.” Air mata akhirnya mengalir di pipi Changye, ia menggeleng, tak berani membayangkan nasib Tianhua.
“Lalu apa? Ayah pasti tahu segalanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga kita? Sampai saat ini, mengapa ayah masih belum mengatakannya?”
“Karena itu bisa membawa maut!” Changye terengah-engah, jenggot di dagunya bergetar karena emosi, “Siapa pun yang tahu hal ini pasti dalam bahaya!”
“Jadi ayah berniat membawa rahasia ini seorang diri sampai mati? Begitu kah, ayah?!”
Kata-kata anaknya tepat menghantam hatinya, Changye lemas duduk di kursi bundar di sampingnya. Benar, itulah niatnya—jika pihak istana begitu peduli pada rahasia ini, biarlah ia, satu-satunya yang tahu kebenaran, membawanya sampai mati. Sebagai kepala keluarga, yang ia harapkan hanya keluarga Mu dapat bertahan.
“Yunhua, sejak dulu aku sudah bilang, kau punya mata yang mampu membaca hati orang. Jika tak dimanfaatkan dengan baik, itu bisa menjadi senjata yang melukai. Aku peringatkan, jangan lagi menebak-nebak, kalau tidak itu adalah pelecehan terhadap leluhur!” Changye mengayunkan lengan menunjuk ke papan nama para leluhur di altar, ujung jarinya dingin.
“Mengapa keluarga Mu tak boleh berurusan dengan pejabat? Mengapa aku dan kakak tak boleh mengikuti ujian pegawai negeri? Mengapa ayah punya orang kepercayaan di ibukota? Apakah kita sebenarnya darah istana yang terbuang dari ibu kota karena kalah dalam perebutan tahta?!”
Setiap kata anaknya menusuk, langsung mengenai dada Changye. Ia tahu, ia tak mungkin menyembunyikan hal ini dari Yunhua. Rahasia ini sudah bocor, sekalipun ia diam, Yunhua tak akan berdiam diri. Ia menopang kursi bundar, perlahan berdiri, memutuskan akan menceritakan segalanya.
Changye memandang sekeliling aula leluhur yang besar dengan balok kayu merah, menarik napas panjang, “Andai benar kita diusir dari ibukota karena kalah perebutan tahta, Tianhua meski dihukum, tak mungkin hilang tanpa jejak.” Ia berhenti sejenak, menatap Yunhua, “Alasan Kaisar sangat waspada terhadap garis keturunan kita adalah karena—”
Jantung Yunhua seakan melayang, tak lagi bisa ia kendalikan. Ia menahan napas, menanti kelanjutan kata-kata ayahnya.
Changye kembali memandang papan nama leluhur satu per satu, seolah papan nama itu memiliki mata, menatap balik pada dirinya. Ia merasa restu para leluhur menaunginya.
“Kita adalah keturunan langsung leluhur agung, darah murni istana Dinasti Mu.”
...
Pada tahun pertama pemerintahan Tianfeng, Leluhur Agung menumbangkan tirani dinasti sebelumnya, dan mendirikan Dinasti Mu. Selama lebih dari dua puluh tahun memerintah, ia giat membangun negeri, dikelilingi para penasehat dan pejabat kepercayaan.
Pada tahun kedua puluh dua, Leluhur Agung wafat, meninggalkan dua putra. Sesuai titah terakhir, putra bungsu naik tahta, menjadi Xianzong.
Xianzong, takut akan kekuatan kakaknya, tak segan merancang pembunuhan demi mempertahankan tahtanya. Akibat perbuatan dosa itu, keberuntungannya menipis, hanya delapan tahun menjadi kaisar, lalu jatuh sakit parah. Namun, ketika sakit, ia belum memiliki keturunan. Para menteri mengusulkan mencari pengganti baru. Tak ingin negeri jatuh ke tangan orang lain, Xianzong yang sakit semakin parah. Di ambang maut, ia menunjuk seorang anak remaja dari keluarga jauh Mu untuk diangkat menjadi putra mahkota.
Namun, tak lama setelah Xianzong wafat, sang permaisuri yang naik menjadi permaisuri agung, mendapati salah satu selir kesayangan Xianzong ternyata telah hamil dua bulan! Anak angkat itu memang dewasa dan cakap, namun keras dan kejam seperti Xianzong dulu. Para pejabat tua yang pernah setia pada Leluhur Agung sudah menua dan tak mampu berpengaruh. Kaisar baru pun segera membangun kekuatannya sendiri.
Melihat perut sang selir makin besar, permaisuri agung menyadari tak mungkin membiarkannya di istana, jika tidak ibu dan anak akan celaka. Demi melindungi anak mendiang kaisar, sang permaisuri agung diam-diam mengirimkan selir itu keluar dari istana. Namun, hal ini diketahui oleh kaisar baru, membuatnya murka. Ia mengancam, jika ia berani mencelakai sang selir dan anaknya, maka permaisuri agung akan membeberkan keberadaan putra mendiang kaisar, yang akan memicu pertikaian kekuasaan dan bencana besar. Kaisar baru akhirnya setuju, dengan syarat anak itu dan keturunannya harus tinggal selamanya di perbatasan Wuyong, tak boleh menginjakkan kaki ke ibukota, apalagi menjadi pejabat. Jika melanggar, maka seluruh keluarganya akan dibinasakan.
Pada awal tahun Yuanfeng, anak sang selir lahir di Wuyong, seorang putra. Sejak itu, rahasia bahwa garis keturunan murni Leluhur Agung masih ada, hanya diketahui oleh kaisar-kaisar berikutnya dan kepala keluarga Mu.
...
Changye menceritakan semuanya pada Yunhua. Setelah pengakuan itu, Changye seperti habis diterpa badai musim dingin, seluruh tenaganya lenyap.
“Yunhua, sekarang kau tahu mengapa aku yakin kakakmu...” Suaranya tercekat, “Hampir seratus tahun berlalu, rahasia ini masih bisa digunakan oleh orang berkepentingan untuk menghancurkan istana. Jika mengikuti perjanjian antara Wu Zong dan Ibu Suri Deyi dulu, keluarga Mu kini sedang di ambang kehancuran.”
“Tidak. Jika kaisar benar-benar ingin membinasakan kita, tidak akan menunggu sampai sekarang. Mungkin kakak masih hidup.” Yunhua menunduk, pikirannya berputar sampai kepalanya nyeri, beberapa saat kemudian ia mengangkat kepala, berkata tegas, “Ayah, aku harus pergi ke ibukota. Aku harus ke ibukota!”
“Yunhua!” Teriak Changye, memotong kata-katanya, “Kau benar-benar ingin bertindak bodoh?! Jika kau ke ibukota, nasibmu akan sama seperti kakakmu!”
“Aku tahu sejak awal kakak ingin ikut ujian istana, aku pun turut andil atas musibah ini. Ayah, aku tak bisa meninggalkannya! Hanya dengan mengetahui nasibnya, hidup atau mati—aku baru bisa tenang menjalani hidupku.” Yunhua berlutut, untuk pertama kalinya ia merasa begitu mantap dengan keputusannya.
“Apakah semua yang kukatakan sia-sia?! Keluarga Mu harus tinggal di Wuyong selamanya, tak boleh melangkah ke ibukota! Yunhua, jika benar seperti dugaanmu, kaisar belum berniat membinasakan kita, tapi jika kau ke ibukota, itu hanya akan memantapkan niatnya! Apa kau ingin membunuh seluruh keluarga? Menghancurkan semua yang telah mereka bangun dengan susah payah?” Changye menunjuk papan nama leluhur, sekali bicara langsung terbatuk keras.
Yunhua menunduk, membenturkan kepala tiga kali ke arah papan nama, lalu melakukan hal yang sama kepada Changye. Setelah itu, ia berkata perlahan, “Ayah, jika aku bukan lagi aku, bukan lagi Yunhua, bukan lagi keluarga Mu, aku bisa dengan aman masuk ibukota.”
“Apa?!” Changye terkejut, tak mengerti apa maksud anaknya.
“Ayah, jika aku mengubah identitas, memutus semua ikatan masa lalu, apakah ayah akan mengizinkan aku masuk ibukota untuk mencari kakak?” Yunhua mengepalkan tinju, ibu jarinya menggosok-gosok sendi jari yang lain. Keputusan itu sangat berat, namun ia tahu ia harus melakukannya.
Changye merasa anaknya telah gila. Ia menatap Yunhua yang berlutut, bertanya gemetar, “Bisakah kau benar-benar melepaskan semuanya? Nama itu, seluruh masa lalu, bisakah kau tinggalkan?”
Ia bermaksud dengan pertanyaan itu agar Yunhua sadar ia takkan sanggup, sehingga mengurungkan niatnya.
Pertanyaan itu memang membuat tubuh Yunhua bergetar. Ia merasakan bagian hatinya seolah dicabut, rasa sakit tanpa batas menyerbu. Segala yang ia miliki sebagai Yunhua... Orang yang ia lindungi, yang ia peluk, yang ia pikirkan...
Bisakah ia melepaskan semuanya...
Ia tak sanggup, ia tak sanggup. Baru saja ia berjanji pada seseorang, apapun rintangannya, ia akan selalu di samping orang itu.
Namun, pada akhirnya ia menahan sakit, dan dengan suara mantap menjawab, “Aku sanggup.”
Selama kakaknya belum kembali, ia tak bisa bersama perempuan itu. Selama nasib Tianhua belum jelas, bagaimana mungkin ia merebut gadis yang dicintai kakaknya?
Apa pun alasannya, ia harus tahu di mana Tianhua berada.
“Mengubah wajah dan menjadi orang lain bukanlah perkara mudah... Ah—” Changye menghela napas panjang, membelakangi Yunhua, ia kembali teringat pada istrinya yang telah tiada. Zhang Si, maafkan aku, aku gagal melindungi Tianhua, kini malah membiarkan Yunhua menanggung bahaya.
Yunhua berpikir sejenak, kemudian berkata, “Ada seseorang yang bisa membantuku.”