Bab Sembilan Puluh Enam: Anugerah dari Penguasa Tungku
Huff!
Kabut kelabu kembali membentuk sosok Tang Qi yang mendarat dengan ringan. Bersamanya, jatuh juga tubuh pria yang sudah terbelah—oh, tidak, setelah kepalanya meledak, bahkan setengah tubuh pun tak tersisa. Hanya batang tubuh yang kekar dan sebuah topeng putih yang ikut terjatuh.
Setelah kematian pria itu dipastikan, usus-usus menjijikkan yang telah berubah menjadi sulur-sulur mengerikan tiba-tiba kehilangan sumber tenaga, melemah, lalu menghitam dan berubah menjadi debu, menumpuk di lorong seperti gunung kecil. Para polisi, dokter, dan perawat yang disiksa pun mulai terbangun dari kondisi lumpuh mereka.
Stanna, setelah merasa lega, langsung terjatuh kembali ke ranjang.
Tang Qi meneliti sekeliling, tampaknya tak ada korban yang membutuhkan pertolongan khusus. Ia pun membungkuk hendak mengambil topeng putih itu. Sejak pertama kali melihat pria bertopeng, Tang Qi telah menyadari ada kilauan misterius di permukaannya—topeng itu adalah benda ajaib.
Namun, saat ia membungkuk, suara samar tiba-tiba menyusup ke telinganya.
“Dum-dum~”
Suara detak jantung, tak nyaring, malah terkesan suram. Jika lalai, mungkin akan mengira itu detak jantung sendiri.
Namun di benak Tang Qi, ia seketika teringat ucapan pria bertopeng yang sebelumnya melolong: "Aku butuh kalian mendapatkan sesuatu dari pedagang ambar terkutuk itu..."
“Dum-dum-dum!”
Kali ini, jantung Tang Qi benar-benar berdegup keras, sensasi bahaya melanda dengan dahsyat. Pedagang ambar... detak jantung... dewa jahat...
Saat kata-kata itu bermunculan satu per satu, sebuah adegan yang sangat familiar tiba-tiba muncul di benaknya.
Di vila pedagang ambar, setelah ia menuntaskan monster yang berasal dari pedagang itu, dari jasadnya tiba-tiba muncul sebuah jantung, dan di dalam jantung itu...
"Benih dewa jahat!"
“Huff!”
Tang Qi segera memutar kepalanya, memandang ke arah sisa tubuh pria itu.
Di sana, sesosok arwah dendam perlahan melayang keluar.
Itulah pria bertopeng, namun kini dalam wujud roh, tanpa topeng—ia tampak sebagai pria kulit putih paruh baya yang kekar dan garang. Awalnya, ia tampak bingung, hendak melepaskan diri dari tubuh lalu menghilang.
Namun, saat ia hendak benar-benar terlepas, kekuatan mengerikan tiba-tiba menariknya kembali ke batang tubuh. Perubahan itu membuat wajah pria itu seketika berseri, seolah ia berpikir akan hidup kembali.
Hingga saat itu, sepasang tangan yang amat ia takuti menjulur ke arah dirinya.
Kedua tangan itu diselimuti oleh cahaya keemasan yang lembut.
Namun berbeda, satu tangan langsung mencengkeram rohnya, sementara tangan lainnya bersuara angin, “sret”, langsung menancap ke bagian jantungnya, seolah menggenggam jantung yang sudah lama tak berdetak. Dua fenomena berbeda pun muncul.
Rohnya habis terbakar oleh cahaya keemasan, tapi ia tidak merasa sakit, malah seakan mendapatkan pembebasan.
Namun dari dalam dadanya, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan, seolah di sana bukan jantungnya, melainkan makhluk jahat yang bisa menodai segalanya, yang juga turut "menikmati" pembakaran cahaya keemasan.
Keduanya sama, tak mampu menahan cahaya keemasan itu.
Tak lama, semuanya berakhir.
Arwah dendam pria itu lenyap ke dalam kehampaan, dan gelombang kebencian yang hendak meledak dari dadanya pun ikut musnah.
Namun pada saat itu, Tang Qi merasakan sesuatu yang aneh.
Tubuhnya seakan tiba-tiba dilempar ke dalam tungku api, panas yang tak tertahankan bergolak di dalam tubuhnya—pertama darah, lalu mengalir ke seluruh tubuh, kulit, otot, organ, bahkan hingga sumsum tulang.
“Hah~”
“Huff!”
Tang Qi mengerang pelan, kesakitan, merasa setiap napas yang ia hembuskan seperti uap panas yang meletup dari kedalaman gunung berapi.
Ia bangkit dengan kesulitan, segera memeriksa dirinya sendiri.
Dalam tatapan itu, sebuah antarmuka khusus perlahan terbentuk.
Salah satu fragmen informasi langsung muncul.
“Metode Meditasi Tungku Emas... progres...”
Tang Qi menyaksikan sendiri, progres yang sebelumnya hanya sembilan persen kini menembus batas sepuluh persen.
Dalam sekejap, Tang Qi memahami sumber perubahan itu.
Dengan cepat, Tang Qi mencengkeram topeng putih, bahkan tanpa sempat berpamitan dengan Stanna, tubuhnya segera berubah menjadi asap dan lenyap.
Kabut kelabu keluar dari area rumah sakit, Tang Qi tak sempat lagi menyamarkan diri.
Ia langsung berubah menjadi anak panah kelabu, menyatu dengan malam di langit, lalu melesat menuju kawasan kampus berduri.
Sepuluh detik kemudian, sosoknya tiba-tiba muncul di sebuah gang luar kampus.
Saat itu, Tang Qi benar-benar seperti baru saja keluar dari kukusan, tubuhnya basah oleh keringat, cahaya keemasan terus mengalir dari sekujur tubuhnya, kepalanya tertunduk karena ia tak mampu lagi menyembunyikan cahaya emas yang memancar dari matanya.
Metode meditasi itu mengamuk.
Jika Tang Qi tak menahan sekuat tenaga, ia mungkin sudah menjadi matahari manusia yang menyilaukan di malam hari.
Begitu memasuki kampus, Tang Qi mempertaruhkan risiko ketahuan, memacu kecepatan secepat mungkin. Ia takut jika tak segera kembali ke paviliun kecilnya, ia benar-benar tak akan bisa mengendalikan diri.
Beberapa detik kemudian, “bam”, pintu rumahnya tertutup, lalu ia langsung duduk bersila di tempat.
Tanpa ragu, ia masuk ke dalam meditasi.
Boom!
Dunia yang sangat berbeda dari biasanya muncul di hadapannya.
Matahari emas yang biasanya harus ia gambar perlahan, kini langsung menggantung di atas kehampaan tanpa batas.
Tidak, bukan hanya kehampaan tanpa batas.
Matahari emas itu seolah melayang di atas jagat raya tanpa akhir. Tang Qi merasakan kekuatan tak kasat mata yang menyeretnya, menembus ruang gelap bertumpuk-tumpuk, melintas berbagai pemandangan aneh yang tak terhitung, aliran informasi pun belum sempat menyerbu pikirannya, sudah terbakar menjadi kehampaan oleh cahaya emas yang tiada habisnya.
Hingga akhirnya, Tang Qi melihat matahari emas yang maha besar dan agung itu.
Waktu seolah berhenti di saat itu.
Bisikan tiba-tiba terdengar di benak Tang Qi.
“Matahari... adalah tungku emas... satu-satunya bahan bakarnya... adalah jiwa.”
“Boom~”
Pikiran Tang Qi tiba-tiba menjadi jernih, ia seolah memahami sesuatu.
Ia sedang menerima anugerah, berasal dari Penguasa Tungku.
Setiap orang yang mempelajari "Metode Meditasi Tungku Emas" dan mencapai batas tertentu, akan menerima anugerah dari-Nya.
Namun Tang Qi sangat berbeda dari para pemelajar lainnya.
Metode meditasi hanyalah sebuah teknik, tetapi warisan sah Penguasa Tungku, selain meditasi, masih ada keterampilan lain yang bisa berpadu dengan meditasi, dan ketika meditasi mencapai tingkatan baru, keterampilan lainnya ikut naik berkat anugerah dari Penguasa Tungku.
Bahkan, bisa memperoleh keterampilan tingkat lebih tinggi.
Tetapi Tang Qi, selain meditasi, tak punya warisan lain.
Maka kini, ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.