Bab Delapan Puluh Satu: Memberi Pelajaran
Sistem mencari informasi sejenak, lalu berkata, “Dalam sejarah memang ada peraturan mengganti kerja dengan perak. Selama punya uang, tak perlu berangkat.”
Mata Man Bao pun langsung bersinar, ia segera membagikan ide bagus itu kepada ayah dan ibunya.
Kepala keluarga Zhou dan Nyai Qian tidak mengerti mengapa anak mereka, setelah tidur semalam, tahu hal-hal seperti itu.
Namun, Kepala Zhou merasa anaknya memang selalu cerdas, mengira itu adalah buah pikirannya sendiri. Maka ia berkata, “Keluarga kita mana ada uang sebanyak itu? Orang seperti kita, apa bisa mengganti kerja paksa dengan perak? Bahkan keluarga kepala desa saja tetap harus berangkat.”
Nyai Qian lebih perhatian pada Man Bao, ia menjelaskan dengan rinci, “Katanya, uang untuk menggantikan kerja satu kali saja bisa dipakai untuk menikah. Keluarga seperti kita, untuk mengumpulkan uang sebanyak biaya menikah, minimal butuh empat hingga lima tahun. Itu pun kalau anggota keluarga banyak dan bisa menabung. Dulu, zaman kakekmu, untuk menikahkan ayahmu saja butuh setengah hidup menabung.”
Man Bao langsung teralihkan perhatiannya, ia tertawa, “Ayah, jadi waktu menikah dengan Ibu, uang kakek dan nenek habis semua ya?”
Man Bao memang belum pernah bertemu kakek dan neneknya, tapi tiap tahun, terutama saat Qingming, kedua orang tuanya selalu bercerita tentang mereka. Kata ayahnya, ini namanya mengenang leluhur. Orang harus mengingat asal-usulnya supaya tak melupakan akar.
Keke berkata, itu namanya menghormati leluhur.
Keluarga terpandang biasanya menuliskan kisah leluhur dalam silsilah, sehingga keturunan bisa menelusuri sejarah keluarga dengan membaca buku silsilah. Namun kebanyakan orang hanya mewariskan kisah leluhur secara lisan.
Tak banyak keluarga yang bisa mencatatkan kisahnya dalam silsilah atau catatan keluarga.
Waktu mendengar cerita itu, Man Bao diam-diam bertekad, jika nanti ia sudah pandai membaca dan menulis, ia akan mencatat kisah orang tuanya dalam catatan keluarga. Dengan begitu, ayah dan ibunya akan menjadi generasi pertama yang kisahnya tercatat.
Man Bao memang paling suka mendengar cerita tentang para leluhur, jadi ia menatap kedua orang tuanya penuh harap dengan wajah yang polos.
Melihat mata anaknya yang berbinar, Nyai Qian tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia pun mencolek hidungnya dan tertawa, “Benar, semua uang habis untuk mahar, bahkan setelah menikah, ibu harus hidup susah.”
Kepala Zhou hanya bisa tersenyum menyanjung istrinya.
Tatapan mata Man Bao yang bening juga membuat Nyai Qian terseret dalam kenangan, ia pun berkata dengan nada sendu, “Sebenarnya, awalnya hidup kami baik-baik saja. Tapi nasib kurang mujur. Baru beberapa bulan mengandung kakakmu, keluarga kita kena wajib kerja. Awalnya kakekmu yang berangkat, tapi beliau jatuh sakit. Lalu ayahmu menggantikan. Saat itu, pejabat kabupaten memilih waktu yang buruk, bertepatan dengan musim tanam. Kakekmu sakit, ayahmu tidak di rumah, ibu yang sedang mengandung besar dan nenekmu harus ke ladang bersama, memaksa diri menanam semua sawah keluarga.”
Kepala Zhou pun tak bisa menahan diri berkata, “Waktu itu, mereka yang kena wajib kerja, separuh nyawa sudah melayang. Pejabat kabupaten waktu itu… ah~”
Man Bao penasaran, “Ayah, apa saja yang harus dikerjakan saat wajib kerja?”
“Menggali tanah, membangun saluran irigasi, memperkuat tanggul.”
Ia agak bingung, “Bukankah itu sama beratnya dengan menggarap ladang?”
“Mana bisa disamakan?” Kepala Zhou berkata, “Kalau kerja di ladang sendiri, capek bisa istirahat, lapar pulang ke rumah makan, kalau terlalu panas bisa berteduh di bawah pohon. Di rumah, meski miskin, setidaknya ada air dan sepotong roti. Tapi kalau wajib kerja, tidak bisa sesuka hati.”
Kepala Zhou melanjutkan, “Pagi-pagi harus sudah berangkat, tidak boleh malas. Kalau bermalas-malasan, cambuk pengawas akan turun.”
“Jatah makan pagi hanya sepotong roti kecil. Bukan hanya orang dewasa yang kerja kasar saja yang tak kenyang, anak kecil seperti kamu pun pasti lapar. Semua orang harus membawa bekal sendiri, makan bersama-sama. Tapi ada juga keluarga yang miskin, bekalnya tipis, terpaksa harus berhemat makan. Banyak yang karena berhemat akhirnya roboh di tanggul.”
Menurut Kepala Zhou, alasan utama wajib kerja sering memakan korban bukan hanya karena pekerjaan berat, sebab saat musim tanam dan panen pun orang-orang bekerja keras.
Intinya, karena tak bisa istirahat dan kurang makan.
Mereka memang mengejar musim, tapi saat matahari sedang terik, mereka bisa beristirahat. Air juga selalu tersedia, dan makanan pun diutamakan untuk yang bekerja di ladang.
Setelah selesai bercerita, Kepala Zhou menunduk menatap putrinya yang bermata jernih, lalu merasa telah berkata terlalu banyak pada anak kecil.
Ia mengelus kepala Man Bao, “Ini urusan orang dewasa, kamu sebaiknya pergi ke sekolah saja.”
Saat berangkat sekolah dengan membawa tas kecilnya, Man Bao tampak lesu. Ia berpikir pejabat kabupaten benar-benar keterlaluan, mana ada kerja tanpa diberi makan cukup?
Dulu, waktu kakak-kakaknya membantu membangun rumah warga desa, makanan selalu cukup.
Bai Shanbao kemarin baru saja libur, jadi hari ini sangat gembira. Ibunya bahkan membuatkan kue-kue enak, dan ia sengaja menyisakan dua potong untuk Man Bao.
Ia memberikannya pada Man Bao, “Gula dari rumahmu juga enak sekali.”
Lalu ia menatap Man Bao penuh harap.
Man Bao menerima kue itu dan memakannya. Karena sedang berpikir, ia tak menangkap maksud tersembunyi di balik perkataan Bai Shanbao, hanya mengangguk seadanya.
Bai Shanbao merasa kecewa, tapi ia juga tak tega meminta gula dari Man Bao. Ia bertanya, “Kamu sedang pikir apa? Libur kemarin tak menyenangkan?”
Man Bao, dengan gaya seperti orang dewasa kecil, menghela napas, “Kakak ketigaku harus ikut wajib kerja.”
Meski Bai Shanbao lebih banyak tahu dan membaca lebih banyak buku, ia benar-benar tidak paham tentang wajib kerja.
Ia pun bertanya, setelah tahu bahwa itu adalah kewajiban semua keluarga, ia menggaruk kepala kecilnya, “Kalau begitu, keluargaku juga harus ikut kerja?”
Man Bao menjawab yakin, “Tentu saja, berapa orang laki-laki di keluargamu?”
“Cuma aku sendiri,” kata Bai Shanbao.
Man Bao menatapnya penuh rasa kasihan, “Wah, kamu kasihan, kamu juga harus ikut wajib kerja.”
Bai Shanbao langsung merasa gelisah, tetapi juga sedikit bersemangat—ada rasa seperti sudah jadi orang dewasa, meski tetap takut akan hal yang belum diketahui.
“Aku harus pulang tanya pada nenekku,” kata Bai Shanbao.
Man Bao mencibir, “Itu lama sekali, mending tanya pada guru saja. Guru tahu banyak hal.”
Dua anak kecil itu pun menemui Guru Zhuang.
Guru Zhuang tak menyangka dua murid cilik itu punya perhatian seluas itu, sampai memikirkan masalah kerja paksa. Ia berpikir sejenak, lalu menyuruh mereka kembali membaca, dan memutuskan akan memberikan jawaban di siang hari.
Dua anak itu pun kembali belajar.
Saat makan siang, Guru Zhuang mengajak mereka ke halaman, makan sambil belajar khusus.
Berbicara tentang kerja paksa, tentu harus membahas pajak, pembangunan negara, juga penilaian kinerja pejabat kabupaten…
Tentu saja, karena mereka masih kecil, Guru Zhuang tidak menyampaikan dengan bahasa rumit, melainkan dengan perumpamaan, “Negara itu ibarat satu keluarga besar. Kalian juga anggota keluarga besar. Kalian makan, minum, berpakaian, punya rumah, pasti ada yang bekerja, menyiapkan beras, air, pakaian, dan tempat tinggal untuk kalian, bukan?”
Ini mudah dipahami, keduanya langsung mengangguk.
Guru Zhuang mengelus jenggotnya, tersenyum, “Lalu, apakah pekerja itu harus diberi upah?”
Dua anak itu kembali mengangguk, mereka juga paham.
Guru Zhuang berkata, “Begitulah. Negara juga sama. Ia butuh orang bekerja, maka harus membayar. Untuk membayar, harus ada uang, makanya kita membayar pajak. Negara juga mengatur sumber daya. Misal, rumah si sulung kena musibah, rumah si bungsu panennya melimpah. Sebagai ibu, ia akan mengambil sebagian hasil si bungsu untuk membantu si sulung melewati masa sulit…”
Guru Zhuang menjelaskan secara sederhana tentang struktur negara, hanya bagian tentang pejabat kabupaten yang diperjelas, termasuk pajak dan kerja paksa.
Man Bao dan Bai Shanbao mendengarkan dengan penuh minat, sampai lupa waktu.