Bab 98: Kembali ke Dunia (2)
ps: Setelah bab ini diperbarui, jumlah kata dalam “Kisah Mistis di Desa Pejabat” milikku telah menembus empat ratus ribu. Cerita pun perlahan-lahan mulai mendekati inti. Mohon dinantikan.
(Catatan penulis: Di kampung lamaku yang kini namanya sudah diubah menjadi Desa Pejabat, memang pernah benar-benar ada seorang nenek yang hidup sampai usia sembilan puluh sembilan. Kebiasaan hidupnya tak jauh beda dengan anak muda, suka tidur larut dan bangun siang, bahkan kadang-kadang tidurnya tak menentu. Jadi, tidur awal bangun pagi memang menyehatkan, tapi belum tentu bikin panjang umur. Segala sesuatu memang ada kebetulan dan pengecualiannya.)
Dalam perjalanan pulang dari Bukit Timur, perasaanku selalu terasa tak nyaman. Seolah-olah kalau tidak lekas berjalan, akan ada sesuatu yang terlewatkan, hingga aku terus saja mempercepat langkah. Sampai di desa dan masuk ke halaman rumah, ternyata tak ada orang. Ketika aku memanggil-manggil, Runcen dan Shicheng langsung terperanjat seolah disiram air es. Pemandangan di depan mata ini sangat mirip dengan yang pernah kualami dalam mimpi, membuat bulu kudukku berdiri ketakutan. Untunglah, kali ini tak benar-benar terjadi apa-apa.
Pendengaran nenek sungguh buruk, tak bisa diajak banyak ngobrol. Ibu sedang membantu keluarga Guru Erping membuat selimut dan matras pengantin, jadi beliau pun pergi. Di rumah gua ini, tinggal aku dan ayah. Anehnya, ayah bilang dia tahu apa yang kulakukan di Bukit Timur. Masalahnya, bagaimana ayah bisa tahu? Aku bercanda, “Ayah, jangan-jangan ayah bisa meramal, atau cuma dengan hitung-hitungan saja sudah tahu apa yang kami, anak-anakmu, lakukan di luar sana?”
Ayah memotong ucapanku. “Itu bukan ramal-meramal,” katanya. “Tapi ada orang di Desa Pejabat yang punya keluarga di Bukit Timur, dan orang itu pulang bercerita.” Rupanya begitu, pikirku. Aku juga heran kenapa tak tahu kalau ada orang Desa Pejabat yang kebetulan berada di Bukit Timur saat itu. Ayah menimpali, “Memangnya kalau orang pergi ke Bukit Timur, harus lapor dulu ke kamu?” Benar juga. Ayah juga bilang, “Orang itu sepertinya tak melihat terlalu jelas.” (Catatan penulis: ‘Jelas’ di sini berarti sangat gamblang dalam dialek setempat.) Ia hanya bercerita, “Ada kejadian di Bukit Timur. Ada sesuatu entah apa yang merasuki tubuh seorang perempuan. Awalnya beberapa anak kecil hilang. Setelah dilaporkan ke kecamatan, bagian keamanan pun turun tangan, mengirim seorang wakil kepala yang katanya sangat cakap. Bahkan sampai mendatangkan bantuan tentara. Anak-anak itu ditemukan dalam setengah hari saja, tapi keluarga perempuan itu malah menghilang. Saat warga desa ketakutan, tiba-tiba perempuan itu membakar dirinya sendiri di tempat perontokan padi. Ada yang bilang saat kobaran api itu, mereka melihat seorang pemuda, mirip Runcen.”
Ayah tahu kami pergi ke Bukit Timur, tapi tak bilang siapa-siapa di desa bahwa itu anaknya. Tapi bukan berarti ia tak khawatir; hanya setelah aku pulang, barulah ia tenang. Ia sebisa mungkin pura-pura tak peduli, lalu menasihatiku, “Lain kali, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari keluarga.”
Aku mengangguk dan berpikir, memang benar juga. Tapi entah kenapa, perasaan cemas itu datang lagi tanpa sebab. Bukan rasa panas, bukan pula nyeri. Aku duduk di pinggir ranjang tanah, napasku makin memburu, sampai ayah pun mendengarnya. Ia bertanya, aku bilang hanya kelelahan karena keburu-buru. Tapi begitu mengucapkannya, kusadari itu alasan yang kurang masuk akal. Sudah pulang cukup lama, masa napas masih belum teratur?
Cepat-cepat aku keluar rumah, bersandar pada batu penggilingan di halaman, menengadah ke langit. Namun, perasaan itu bukannya berkurang, malah makin menjadi. Aku menekan dadaku, lalu jongkok di tanah. Apa aku sedang sakit? Kupegang dahiku, tak panas juga. Barangkali penyakit sebenarnya memang tak selalu demam dan sakit kepala. Ah, sudahlah. Aku mengambil gayung dari rumah, meneguk air dingin seperti sapi kehausan. Baru setelah itu, napasku terasa lega. Rupanya memang tak ada apa-apa. Memang tak ada, kan?
Setelah kembali ke Desa Pejabat, kesibukan pun dimulai. Biasanya, tiap tahun di musim ini, orang-orang bangun pagi mendinginkan badan sambil mencangkul, lalu pulang saat matahari mulai tinggi. Hari-hari berlalu dengan pekerjaan biasa. Tak disangka, tahun ini malah muncul masalah baru: ada makhluk perusak tanaman yang makin merajalela.
Aku menemani ayah ke ladang, berulang kali memeriksa, tapi tak tampak seperti ulah musang. Biasanya, satu musang besar pun tak akan makan jagung sebanyak ini. Namun, sekarang, satu malam saja bisa merusak setengah petak sawah. Sudah pasti ini hewan besar. Bahkan cara makannya lebih rapi dari musang, hampir semua jagung habis sampai ke tongkolnya, hanya meninggalkan batang-batang berserakan. Tanaman yang rusak begitu banyak, wajah ayah sampai bersemu ungu menahan marah. Setelah berdiskusi dengan beberapa petani tua desa, diputuskanlah anak-anak muda harus berjaga di ladang setiap malam.
Agar semua patuh, Daleng langsung menugaskan anaknya sendiri. Aku tak keberatan, sebab kalau tanaman di ladang hancur, bisa-bisa seluruh desa kelaparan saat musim panen. Waktu kecil, aku pun tahu rasanya tidur kelaparan sampai tak bisa terpejam. Selain itu, ayahku juga bukan orang biasa, jadi aku harus memberi contoh. Aku pun meminta ibu menyiapkan jaket tebal untuk dipakai nanti malam di ladang.
Berjaga di ladang, apapun makhluknya, tetap harus waspada. Aku memilih sekop pendek yang dulu kugunakan di Bukit Timur. Meski sekop di rumah ini tebal dan berat, gagangnya terlalu panjang. Tapi itu bukan masalah bagiku, yang setengah tukang kayu. Aku langsung memotong gagang sekop itu hingga lebih pendek, sampai ayahku pun mengomel. Tapi setelah tahu aku menggunakannya untuk berjaga, ayah tak lagi protes.
Malam pertama berjaga, aku membawa dua pemuda, masing-masing berusia delapan belas atau sembilan belas. Dalam kegelapan, tanaman jagung sudah setinggi orang dewasa, dedaunan bergetar seperti hantu menari tertiup angin malam. Kami bertiga mencari tempat teduh di balik rumpun jagung, jongkok sambil mengawasi ladang yang paling subur sekaligus paling sering dirusak.
Awalnya, kami merasa ini seru juga, tak ada yang mengantuk. Bertiga, kami mengamati ladang jagung gelap-gulita, mendengarkan suara dedaunannya bergesekan ditiup angin, merasa pekerjaan ini cukup menyenangkan. Tapi, setelah menunggu hingga larut malam, tak ada suara apapun. Selain aku yang masih bisa bertahan, dua lainnya sudah bersandar tertidur pulas, suara dengkurannya lebih kencang dari suara angin.
Tiba-tiba aku teringat, malam ini tempat kami berjaga persis di ladang lima puluh petak yang menghadap langsung ke Desa Pejabat. Di sinilah dulu aku pernah melihat kelabang aneh yang menakutkan itu. Dan juga melihat makhluk-makhluk yang disebut tanah apung, waktu itu guruku masih hidup. Dalam beberapa tahun ini, aku kerap mengalami kejadian aneh, walau tak semua bisa kutangani dengan baik, tapi setidaknya selalu bisa berdiskusi dengan orang-orang terdekat. Namun, dalam hati selalu ada rasa tak nyaman, karena jika dipikirkan baik-baik, yang kutakutkan bukanlah makhluk-makhluk aneh itu, melainkan sesuatu yang ada di lubuk hati sendiri, yang tak terlihat dan tak bisa disentuh, tapi selalu terasa hadir.
Aku sama sekali tak takut pada makhluk-makhluk yang pernah kulihat. Yang paling menakutkan adalah sesuatu yang bersemayam di dalam hati, yang tak pernah pergi. Aku memeluk sekop pendekku, meregangkan kaki yang mulai pegal karena terlalu lama jongkok. Kupikir, mungkin sebentar lagi fajar akan menyingsing.
Dari ujung barat yang gelap, suara dedaunan jagung tiba-tiba bercampur dengan suara lain. Tak terlalu keras, seolah teredam oleh padatnya tanaman jagung, jika tak jeli pasti tak mendengar. Saat angin berhenti sejenak dan dedaunan tak bergerak, aku bisa mendengar suara itu dengan jelas: dengusan berat, “hmm... hmm...” Kudengarkan lagi, tapi suara itu menghilang. Aku tak bergerak, berharap suara itu muncul lagi. Setelah menunggu lama, tetap tak terdengar. Aku pun diam-diam menendang dua temanku agar mereka terbangun, meminta mereka berjaga lebih waspada.
Bukan suara yang datang, tapi bayangan-bayangan hitam yang tiba-tiba menyerbu ladang, merusak tanaman sambil bergerak ke arah kami. Saat mendekat, baru terlihat jelas, makhluk-makhluk itu tingginya sepinggang orang dewasa. Tak jelas apa bentuknya, aku yang paling sigap segera berdiri ke samping dan menghantamkan sekop ke bayangan hitam terdepan. Terdengar suara logam beradu keras. Telapak tanganku terasa panas membara. Yang lebih mengagetkan, bahkan muncul percikan api. Apa itu batu keras?
Aku meminta dua temanku membantu, tapi setelah memanggil lama, tak ada jawaban. Wah, ini gawat, aku sendirian sekarang. Melihat ke arah bayangan hitam yang menghadang, tampaknya satu ekor hilang. Jangan-jangan makhluk itu justru mengikuti kedua temanku? Tapi tak ada waktu untuk berpikir panjang, karena suara dengusan itu terdengar lagi.
Jangan-jangan makhluk-makhluk hitam itu babi hutan? Begitu terpikir, aku agak lega. Pada babi aku tak takut. Dulu saat kecil, sering membantu Monkey Empat menyembelih babi, sudah biasa lihat darah. Tapi begitu kupikir ulang, aku sadar aku terlalu cepat gembira. Semua babi di Desa Pejabat ada di kandang bersama. Mana mungkin ada babi berkeliaran di luar malam-malam begini? Lagi pula, tubuh babi tak mungkin sekeras itu.
Babi-babi di seberang sana tak bergerak, aku pun memilih diam. Tubuhku tak bergerak, tapi pikiranku terus bekerja. Kalau aku lari, pasti tak akan bisa mengalahkan kawanan berkaki empat itu. Barangkali kalau menyalakan api mereka bisa takut, tapi aku tak membawa pemantik apa-apa. Kian tak ada jalan keluar, aku tahu aku harus tetap tenang. Aku putuskan, selama mereka tak bergerak, aku pun diam. Paling tidak, tunggu hingga matahari terbit, baru bisa mengambil keputusan.
Saat memegang sekop pendek, entah kenapa aku jadi teringat senapan yang pernah dibawa kakakku di Bukit Timur. Andai saja aku punya senapan, mungkin keadaanku lebih baik. Kurasa fajar sudah hampir tiba, tapi semakin kutunggu, rasanya waktu semakin lambat. Ingin rasanya memanggil orang, tapi percuma, ladang seluas lima puluh petak itu sekalipun menghadap langsung ke desa, kalau aku berteriak belum tentu ada yang dengar. Lagi pula, kalau aku berteriak, malah bisa membuat kawanan itu menyerbu. Satu saja sudah keras kepala, apalagi tiga ekor, termasuk yang tadi kuterjang dengan sekop, ukurannya besar sekali.
Mataku terus menatap bayangan hitam itu, tak memperhatikan suara dari ladang jagung di belakang mereka. Mungkin memang tertutup suara dedaunan, aku tak mendengarnya. Dari belakang kawanan itu, muncul satu lagi bayangan hitam, berjalan pelan, agak gemetar, seolah limbung. Bayangan hitam ini lebih tinggi dari yang lain, tapi tubuhnya lebih ramping. Kawanan di hadapanku segera menyadari kehadirannya, lalu menoleh. Bayangan tinggi itu berdiri membelakangi aku, berhadapan dengan tiga bayangan pendek, tapi tak satu pun bergerak. Aku yang berdiri tak jauh pun jadi bingung, ini sedang apa? Merundingkan cara menyerangku, atau membagi hasil buruannya nanti?
Kawanan hitam itu terus-menerus mengeluarkan dengusan berat, sementara yang di seberang mulai mengeluarkan napas berat pula. Apa mungkin dia juga takut?
Fajar perlahan menyingsing di ujung timur, di antara aku, kawanan rendah, dan bayangan tinggi, tak ada yang bergerak. Dalam keremangan, aku samar-samar melihat kawanan itu mirip babi, sementara bayangan tinggi seperti manusia. Tapi aku tak bisa memastikan siapa dia, karena ia membelakangiku. Tubuhnya tak tinggi, kurus.
Tiga bayangan hitam keluar dari ladang jagung, tak kembali ke arah semula, melainkan berlari ke arah selatan ladang lima puluh petak. Aku akhirnya bisa bernapas lega, rupanya memang orang di seberang yang membelakangiku itulah yang menyelamatkanku. Aku ingin tahu siapa dia, tapi hanya bisa melihat punggungnya. Sudah kutanya beberapa kali, tak dijawab. Mungkin dia tak mendengar, aku mendekat beberapa langkah, tapi tiba-tiba ia lenyap.
Di depan mataku, seseorang yang berdiri cukup lama itu tiba-tiba hilang! Aku berputar-putar di tempat, tetap tak menemukan jejaknya. Aku jongkok memeriksa tanah, di sana hanya ada jejak seperti tapak babi, tapi tak ada jejak kaki manusia. Jangan-jangan yang berdiri tadi bukan manusia? Aku tak percaya, kucoba meraba tanah, tetap tak ada bekas. Bagaimana ini? Bahkan jejak pun tak ada. Meski bukan manusia, hantu atau asap, masa lenyap secepat itu? Setelah mencari jejak bayangan yang menghilang, aku pun mencari ke ujung timur, selatan, dan utara ladang, tapi dua temanku yang pergi bersama pun tak kutemukan. Tak ada pilihan, aku pun meninggalkan ladang yang penuh tanaman rusak, kembali ke desa.
Baru beberapa langkah dari ladang, ayahku muncul dari arah berlawanan, berlari dengan peluh membasahi seluruh tubuh. Aku hendak menceritakan apa yang terjadi menjelang fajar, tapi ayah lebih dulu bertanya, “Tak terjadi apa-apa, kan?” Aku pun menceritakan secara singkat kejadian malam itu, termasuk bayangan hitam yang tiba-tiba hilang. Ayah pun tak tahu itu apa, lalu mengajakku memeriksa ke ladang.
Ayah bilang, ia semula mengira malam itu tak akan terjadi apa-apa. Tapi pagi-pagi sekali, saat jendela baru saja mulai terang, pintu rumah sudah diketuk keras-keras. Rupanya dua pemuda yang tadi dikejar bayangan hitam sampai ke lembah, sembunyi di tumpukan jerami hingga fajar, dan langsung melapor pada ayah. Ayah tak sempat mengumpulkan orang, hanya berpesan agar mereka segera mencari bantuan, sementara ia sendiri langsung menuju ladang.
Di tengah ladang lima puluh petak, ada bagian seluas sekitar tiga-empat petak, tanaman di sana sudah rusak total, roboh berantakan. Di sisi timur, ada jalur kecil seperti lorong (catatan penulis: dalam dialek setempat, lorong ini berarti gang kecil). Jejak kaki tiga orang dan tapak babi bertebaran. Jelas ini ulah dua pemuda tadi. Aku yang tadi mencari mereka pun menambah jejak di sana, sedangkan jejak babi berakhir di tumpukan rumput di ujung ladang, tanahnya keras jadi tak terlihat lagi, tak tahu ke mana perginya. Begitu juga jejak tiga bayangan yang lari ke selatan.
Di tempat itu, tak ditemukan jejak kaki orang keempat seperti yang kuceritakan. Ayah tahu aku bukan orang yang suka mengada-ada, jadi ia pun mulai merasa ini bukan perkara sepele. Ia hanya berpesan agar aku tak menceritakan kejadian ini sembarangan pada penduduk desa. Lebih baik tenang-tenang saja.
Saat warga desa berdatangan, Daleng dan anaknya sudah hampir selesai memeriksa. Setelah melihat jejak di ladang, ada yang berkata ia tahu itu apa. Ia bilang, semasa Monkey Empat masih hidup, ia pernah bercerita bahwa di balik Gunung Yuan di belakang Desa Pejabat memang ada babi hutan. Babi hutan itu mirip babi kampung, tapi moncongnya lebih panjang, taringnya besar, rupanya pun buruk. Binatang ini sangat kuat, kata Monkey Empat, bahkan bisa menabrak pohon.
Namun Gunung Yuan adalah pegunungan, tentu saja banyak binatang liar di sana. Kapan Desa Pejabat punya binatang seperti itu?
Saat orang-orang mulai kembali sambil mendiskusikan cara mengusir babi hutan itu, seorang gadis kecil datang memanggil Daleng, katanya ada hal besar terjadi di rumah! (Bersambung...)